Gadung

 -(Kamis, 17 April 2025)-

Kripik gadung itu tersisa remah-remah. Ini adalah salah satu cemilan dari saudara, yang saya bawa. Selain juga ada madu mongso dan kripik pisang. Ada pula kacang mete. Yang dua terakhir ini sudah ludes. Yang ketika makan, kadang saya tak sadar, karena lebih fokus pada tayangan YT. Saat sadar menjadi menyesal. Sudah makan banyak tapi tak menikmati rasanya. Itu mungkin masih mendingan.

Coba saja anda makan sate atau steak sambil scroll tiktok atau nonton drakor. Apa yang terjadi? Ketika sadar sate sudah habis dan tak tahu tadi rasanya seperti apa. Tapi itu mungkin hanya terjadi pada saya atau generasi saya. Barangkali berbeda dengan anak muda sekarang. Yang bisa multitasking. Yang bahkan ketika tangan kanannya salaman dengan presiden, tangan kirinya pegang ponsel untuk memvideokan dirinya itu.

Sebuah fenomena yang mungkin sudah biasa di jaman ini. Dimana hampir semua peristiwa diabadikan untuk kemudian dibagikan di medsos, agar orang lain tahu. Tentang aktivitas atau peristiwa itu. Tentu, tujuan utamanya adanya eksistensi. Yang menjadi kebutuhan manusia. Termasuk tulisan ini. Yang merupakan kebutuhan saya untuk aktualisasi diri. Dengan menulis. Ini barangkali membenarkan piramida kebutuhan manusia Abraham Maslow. Yang di dalamnya ada kebutuhan: aktualisasi diri.

Seingat saya, tak ada momen lebaran di rumah ortu saya, yang terlewat tanpa sajian keripik gadung ini. Tentu tidak termasuk lebaran jaman covid dulu. Tapi sekarang, keripik gadung itu kami beli, padahal dulu kami dapat jatah gratis dari kakek kami.

Beliau punya tegalan, yang ada tanaman dan umbi gadung. Entah sengaja ditanami atau tumbuh liar. Beliau dengan tekun mengolah sendiri gadung itu. Makanan ini memang tidak asal dimakan. Karena sebenarnya umbi gadung itu beracun.

Tapi, kakek saya sudah ahli dalam mengolah gadung itu dan membersihkannya dari racun. Selain direndam, umbi gadung yang sudah dirajang tipis-tipis itu juga ditaburi abu -bahkan seperti dibungkus abu, lalu dijemur. Kemudian dicuci hingga bersih abu itu, lalu dijemur lagi. Proses itu memakan waktu beberapa hari, hingga dipastikan tak ada lagi racun dalam gadung.

Keahlian itu nampaknya tak lagi diwariskan pada anak cucunya. Apalagi generasi sekarang sepertinya tak tertarik untuk makan cemilan itu. Sudah kalah dengan panganan modern. Yang lambat laun, panganan kuno itu sedikit demi sedikit menghilang dari meja lebaran.

Kenyataannya, di meja lebaran sudah jarang saya temukan rengginan. Apalagi rengginan dari ketan hitam. Dulu, setiap lebaran, ibu saya selalu bikin rengginan. Tak hanya itu, ibu juga bikin jenang, madu mongso, dan juga tape ketan. Itulah yang akan menghiasi meja lebaran.

Dalam beberapa lebaran terakhir, jenis panganan itu sudah mulai menghilang. Digantikan dengan nastar dan kue-kue modern lainnya.

Begitulah. Makanan ternyata juga mengalami evolusi. Mana yang masih cocok dengan kebanyakan lidah manusia, ia yang akan terus bertahan. Atau jangan-jangan bukan karena itu. Tapi karena kita sudah terjajah dengan cita rasa luar. Yang membuat kita malas untuk mengolah dan memasak makanan klasik itu. Yang membuat kita, anak anak kita tak lagi bisa menikmati bagaimana nikmatnya makanan tradisional. Coba sodori mereka gethuk, balung kethek, atau keripik gadung itu. Hanya sedikit saja yang mereka cicipi. Selebihnya anda sudah tahu.

Apakah beralihnya cita rasa itu berkorelasi dengan bobot nasionalisme?

 

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"