Putri sejati
-(Senin, 21 April 2025)-
Tiga kali saya ke kota itu. Anda sudah tahu. Tempat dimana dulu Ibu Kartini tinggal dan berjuang untuk pendidikan kaum wanita.
Di kesempatan pertama itu terjadi sebelum pandemi. Untuk satu acara penguatan sinergitas antara pusat dan daerah. Setelah prosesi itu, kami diberikan kesempatan untuk berkunjung dan napak tilas kediaman Ibu Kartini.
Saya masuk ke ruang peraduan beliau. Duduk di dipan. Dan juga di kursi meja belajar beliau. Dan tentu saja berfoto.
Kami juga ditunjukkan tempat atau kelas dimana beliau mengajar murid-muridnya. Saya duduk di salah satu kursi siswa dan juga berfoto.
Kenyataannya, sampai sekarang saya masih ingat syair lagu Ibu Kita Kartini. Dan bisa menyanyikannya. Pun lagu-lagu kebangsaan lainnya saya juga bisa. Itu semua berkat pelajaran seni suara ketika SD dan SMP. Yang sekarang entah masih ada atau sudah dihapuskan. Yang ketika satu per satu maju di depan kelas untuk menyanyikan lagu wajib itu, sudah tentu perlu menghafalkan syairnya. Bagi saya tak ada yang salah dengan pelajaran menghafal. Karena memang ada pelajaran tertentu yang selain dipahami, juga perlu dihafalkan.
Bagaimanapun saya sulit untuk tidak mengingat Ibu Kartini. Habis Gelap Terbitlah Terang. Adalah satu idiom, ungkapan atau kalimat yang lekat dengan beliau. Yang kalimat itu pernah saya adaptasi menjadi "Habis Jati Terbitlah Bencana". Untuk satu judul tulisan yang berhasil saya kirim dan terbit di koran regional. Yang betapa gembira saya atas hal itu. Yang itu terjadi lebih dari 20 tahun silam.
Apalagi dengan semangat dan cita-cita Ibu Kartini. Yang sungguh mulia itu. Emansipasi dan tentu saja bagaimana menghilangkan patriarki. Sebuah seruan dan gerakan yang terus dijalankan melalui apa yang disebut pengarusutamaan gender. Untuk mewujudkan kesetaraan. Bagi mereka yang rentan.
Ini pula yang membuat saya rasanya tak mungkin lupa akan perjuangannya. Pada satu masa dan satu penugasan, saya pernah bertanggungjawab atas implementasi program pengarusutamaan gender itu. Untuk pertama kalinya.
Begitulah. Kita akan selalu ingat dengan Ibu Kita Kartini. Apalagi hari ini. Bukan soal kebaya, tapi karena sungguh besar cita-citanya. Bagi Indonesia.