Kursi kosong

-(Sabtu, 13 Juni 2026)-

Sebagai penonton film, setidaknya sudah dua kali saya mengalami hal yang sama di dua bioskop berbeda di kota ini. Kedua film yang saya tonton merupakan film sci-fi terbaru dari luar negeri, dan keduanya saya pilih pada akhir pekan—waktu yang biasanya identik dengan keramaian.

Pengalaman pertama terjadi ketika saya datang sekitar tiga puluh menit sebelum jadwal pemutaran. Saya menjadi orang pertama yang membeli tiket untuk sesi tersebut. Saat waktu tayang tiba dan saya memasuki studio, suasananya terasa ganjil. Ruangan yang seharusnya menjadi tempat berkumpul para pencari hiburan justru nyaris kosong. Saya menghitung jumlah penonton yang hadir tidak sampai sepuluh orang. Hingga lampu kembali menyala di akhir film, jumlah itu tidak banyak berubah.

Pengalaman kedua tidak jauh berbeda. Kali ini saya menonton di bioskop lain, dengan harapan menemukan suasana yang lebih ramai. Namun hasilnya hampir sama. Penonton yang hadir juga kurang dari sepuluh orang. Bahkan saya leluasa berpindah kursi karena begitu banyak tempat duduk yang tidak terisi. Rasanya seperti menyaksikan film dalam ruang privat yang kebetulan dibuka untuk umum.

Dari dua pengalaman itu, muncul berbagai pertanyaan di kepala saya. Apakah masyarakat di kota ini memang kurang tertarik pada film bergenre sci-fi? Mungkin selera pasar lebih condong pada film-film Indonesia, terutama horor yang dalam beberapa tahun terakhir tampak mendominasi layar bioskop. Jika demikian, kursi-kursi kosong yang saya lihat mungkin bukan sekadar soal jumlah penonton, melainkan cerminan preferensi.

Namun bisa juga penjelasannya lebih sederhana. Saya menonton pada akhir pekan, ketika harga tiket biasanya lebih mahal dibanding hari biasa. Mungkin sebagian orang justru memilih menonton pada hari kerja untuk menghemat pengeluaran. Atau barangkali mereka lebih memilih bioskop lain yang berada di pusat perbelanjaan yang lebih besar dan lebih ramai. Kemungkinan itu juga masuk akal.

Lalu ada pertanyaan yang lebih luas. Apakah kondisi ekonomi saat ini membuat orang semakin selektif dalam membelanjakan uang untuk hiburan? Di tengah banyaknya pilihan tontonan yang tersedia di genggaman tangan, bioskop mungkin tidak lagi menjadi tujuan utama seperti dulu. Ketika film, serial, dan berbagai bentuk hiburan lain dapat diakses dari rumah, keputusan untuk membeli tiket bioskop menjadi pertimbangan yang tidak sesederhana sebelumnya.

Tentu saja, semua itu masih sebatas dugaan. Dua pengalaman belum cukup untuk menjelaskan sebuah fenomena. Kesimpulan yang terlalu cepat hanya akan membuat saya melihat apa yang ingin saya lihat. Mungkin saya memang perlu melakukan pengamatan lebih jauh: menonton genre yang berbeda, datang pada hari yang berbeda, atau mencoba bioskop ketiga yang belum pernah saya kunjungi.

Untuk sementara, kursi-kursi kosong itu masih menyisakan tanda tanya. Dan sering kali, pertanyaan yang baik justru lebih menarik daripada jawaban yang tergesa-gesa.

Populer

Kebugaran

Rel alternatif

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Sisi gelap

Perbendaharaan Go Green

Destinasi wisata

Rebahaner

Mindfulness

Pembekalan

Waktu, Alam, Manusia