Produsen isu
-(Selasa, 9 Juni 2026)-
Sebagai orang yang mengikuti berita setiap hari, saya kadang bertanya-tanya: apakah memang ada orang yang pekerjaannya memproduksi isu lalu menyebarkannya ke media sosial?
Pikiran itu muncul lagi ketika membaca isu terbaru tentang pergantian menteri. Mulanya beredar kabar bahwa seseorang telah ditawari posisi menteri, sementara menteri yang sekarang disebut-sebut akan dipindahkan menjadi pimpinan lembaga lain. Narasinya berkembang cepat, bahkan dikaitkan dengan pelemahan nilai mata uang yang sedang menjadi sorotan. Namun tak lama kemudian, isu tersebut dibantah.
Peristiwa seperti ini rasanya bukan sesuatu yang istimewa lagi. Hampir setiap hari selalu ada isu baru yang muncul, beredar, lalu menghilang sebelum sempat terverifikasi dengan baik. Karena itulah saya sering berpikir: jika arus isu tidak pernah berhenti, apakah memang ada pihak-pihak yang secara sengaja memproduksinya?
Bisa jadi pelakunya tidak tunggal. Ada yang bergerak karena kepentingan politik, ada yang ingin memengaruhi opini publik, ada pula yang sekadar ingin menguji respons pasar atau membaca arah angin kekuasaan. Di tengah ruang digital yang riuh, sebuah isu sering kali bekerja seperti umpan yang dilempar ke kolam: yang penting bukan apakah umpan itu benar atau salah, melainkan seberapa besar riak yang berhasil diciptakannya.
Di titik itulah peran buzzer sering dibicarakan. Mereka bukan selalu pencipta isu, tetapi kerap menjadi pengeras suara yang membuat sebuah rumor terdengar lebih besar daripada ukuran aslinya. Ketika sebuah narasi terus diulang dari berbagai arah, orang mulai kesulitan membedakan mana informasi, mana spekulasi, dan mana sekadar gema yang saling memantul.
Meski demikian, ada kemungkinan penjelasannya jauh lebih sederhana: uang. Di era ekonomi perhatian, isu adalah komoditas. Klik, tayangan, keterlibatan, dan trafik memiliki nilai yang bisa dikonversi menjadi pendapatan. Semakin sensasional sebuah kabar, semakin besar peluangnya untuk beredar. Dalam logika semacam ini, kebenaran sering kali kalah cepat dibandingkan daya tarik.
Namun saya juga melihat sisi lain. Tidak semua isu lahir semata-mata demi mengejar cuan. Ada kalanya isu menjadi instrumen perlawanan. Ketika seseorang atau suatu kelompok merasa dirugikan oleh kebijakan tertentu—ketika sumber pengaruhnya berkurang, ruang geraknya menyempit, atau kepentingannya terganggu—mereka akan mencari cara untuk menekan balik. Salah satu caranya adalah membentuk persepsi publik melalui narasi, rumor, atau isu yang sengaja dilempar ke ruang bersama.
Karena itu, setiap kali sebuah isu besar muncul, saya semakin merasa bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya isi isunya, melainkan juga siapa yang diuntungkan jika isu itu dipercaya. Sebab dalam banyak kasus, isu bukan sekadar kabar yang beredar. Ia adalah alat. Dan seperti alat pada umumnya, nilainya tidak terletak pada bentuknya, melainkan pada tujuan orang yang menggunakannya.