Jejak suro

-(Sabtu, 20 Juni 2026)-

Ketika tulisan ini terbit, barangkali kita sudah memasuki tahun baru Islam 1448 Hijriah. Setiap kali Muharam datang, ada satu kenangan yang selalu muncul dari sudut ingatan yang paling tenang: malam 1 Suro di rumah kami.

Pada malam itu, ibu selalu menyiapkan nasi kuning yang disajikan dalam wadah kecil dari daun pisang yang kami sebut takir. Saya sudah agak lupa detailnya—apakah nasi itu dimakan setelah magrib atau menjelang larut malam—tetapi ada satu hal yang masih tersimpan jelas: setiap malam 1 Suro, nasi kuning dalam takir itu selalu hadir di meja makan kami.

Saya tidak pernah benar-benar tahu dari mana ibu memperoleh kebiasaan tersebut. Mungkin dari kakek buyut saya yang konon juga melakukan hal serupa setiap memasuki malam 1 Suro. Tradisi itu tampaknya mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti aliran sungai yang tenang, sebelum akhirnya berhenti di generasi orang tua saya. Anak-anak mereka, termasuk saya, tidak lagi melanjutkannya. Yang tersisa hanyalah cerita dan kenangan yang sesekali muncul ketika kalender kembali menandai datangnya bulan Suro.

Bagi masyarakat Jawa, Suro bukan sekadar penanda pergantian bulan. Ia adalah ruang budaya yang sarat makna. Banyak orang menyebutnya sebagai bulan yang wingit—bulan yang diselimuti suasana hening, khidmat, sekaligus penuh kehati-hatian. Karena keyakinan itulah, berbagai hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, atau resepsi keluarga kerap dihindari pelaksanaannya pada bulan ini.

Di bulan yang sama, terdapat pula tradisi merawat pusaka. Pada keluarga-keluarga Jawa lama yang masih menyimpan keris atau benda pusaka lainnya, Suro menjadi waktu untuk melakukan jamasan atau ngumbah keris. Ritual itu bukan semata-mata membersihkan benda secara fisik, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap warisan yang dianggap memiliki nilai sejarah dan makna spiritual. Karena itu, prosesnya biasanya dipimpin oleh orang-orang tua tertentu yang dipercaya memahami tata caranya. Kini, sebagaimana banyak tradisi lain, praktik tersebut semakin jarang dijumpai.

Namun di balik seluruh lapisan tradisi, simbol, dan ritual yang melekat pada bulan Suro, ada satu makna yang terasa tetap relevan hingga hari ini. Muharam pada dasarnya adalah penanda hijrah—sebuah pengingat tentang perpindahan, perubahan, dan keberanian meninggalkan sesuatu yang lama menuju sesuatu yang lebih baik.

Mungkin itulah sebabnya bulan ini selalu terasa istimewa. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menengok ke dalam diri, lalu bertanya dengan jujur: sudah sejauh apa perjalanan kita? Apa yang perlu ditinggalkan, dan apa yang perlu diperjuangkan kembali?

Sebab hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini dipelihara, melepaskan cara berpikir yang membatasi, atau memperbaiki sikap yang perlahan menjauhkan kita dari versi terbaik diri sendiri.

Seperti takir berisi nasi kuning yang dahulu selalu hadir di malam 1 Suro, mungkin sebagian tradisi memang akan berhenti pada satu generasi. Namun makna yang dikandungnya tidak harus ikut hilang. Ia bisa tetap hidup sebagai kesadaran, sebagai refleksi, dan sebagai pengingat bahwa setiap awal tahun pada hakikatnya adalah kesempatan untuk memulai perjalanan baru.

Populer

Kebugaran

Teknokratis

Makar kuasa

Rebahaner

KUR malam minggu

Sisi gelap

Pergaulan global

Destinasi wisata

Kuantum pangan

Daya fokus