Paria kambu

-(Minggu, 14 Juni 2026)-

Paria kambu. Saya sudah beberapa kali membeli dan memakannya. Itu tanda paling sederhana bahwa saya cocok dengannya. Ada rasa yang membuat saya ingin kembali mencicipinya, meskipun bahan utamanya adalah pare—buah yang selama ini identik dengan kepahitan.

Sejauh yang saya pahami, paria kambu dibuat dari pare yang bagian dalamnya dibersihkan, lalu diisi adonan ikan dan kelapa yang telah dihaluskan. Saya tidak tahu persis bagaimana proses menghaluskan ikan tersebut; mungkin ditumbuk, mungkin juga diblender. Setelah itu, pare yang sudah terisi dimasak dalam kuah santan kuning hingga menjadi hidangan yang utuh. Gambaran ini saya susun dari apa yang saya lihat dan rasakan saat menyantapnya. Untuk resep yang sebenarnya, barangkali jawabannya ada di berbagai video yang beredar di YouTube.

Yang menarik, paria kambu tidak berusaha menghilangkan rasa pahit pare. Kepahitan itu tetap hadir, tetapi tidak mendominasi. Ia bertemu dengan gurihnya ikan dan kelapa, lalu membentuk rasa yang justru terasa akrab di lidah. Mungkin karena itulah saya menyukainya. Ada sesuatu yang membuat saya ingin mencobanya lagi, seolah-olah lidah sedang belajar bahwa rasa pahit tidak selalu harus dihindari.

Pertemuan saya dengan makanan ini pun terjadi secara tidak sengaja. Setiap kali pergi ke pasar ikan, saya selalu melewati beberapa ibu penjual yang menawarkan dagangannya dengan suara lantang. Saya tidak pernah benar-benar menangkap nama makanan yang mereka sebutkan. Namun karena berulang kali melihatnya, rasa penasaran tumbuh perlahan. Akhirnya saya membeli satu, lalu mencicipinya. Dari situlah perkenalan itu dimulai.

Barangkali memang seperti itu cara sebagian kuliner menemukan penikmatnya. Bukan melalui iklan atau rekomendasi, melainkan melalui perjumpaan-perjumpaan kecil yang terus berulang sampai rasa ingin tahu mengambil alih.

Sejak beberapa waktu terakhir, saya memang memiliki kebiasaan untuk mencoba sebanyak mungkin kuliner Nusantara yang saya temui. Selama berada di suatu daerah, saya merasa perlu mengenal tempat itu bukan hanya lewat pemandangan atau ceritanya, tetapi juga melalui makanan yang lahir dari dapurnya. Sudah ada beberapa hidangan yang berhasil saya cicipi. Mungkin masih ada yang belum saya temukan. Mungkin juga tanpa sadar saya sudah mencicipi hampir semuanya.

Paria kambu menjadi salah satu temuan yang paling berkesan. Saya bahkan bertanya-tanya mengapa makanan seperti ini tidak muncul di daerah asal saya. Mungkin bahan-bahannya tidak mudah didapat. Mungkin tradisi kulinernya berkembang dengan cara yang berbeda. Setiap daerah memiliki jalan kreatifnya sendiri dalam mengolah apa yang tersedia di sekitarnya. Dari situlah lahir kekhasan, dan dari kekhasan itulah kekayaan kuliner Indonesia terbentuk.

Namun pertanyaannya tidak berhenti pada kekaguman semata. Negeri ini memiliki begitu banyak makanan khas, begitu banyak pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kita sering memuji keberagamannya, tetapi sudahkah kita benar-benar memberdayakannya? Sudahkah kekayaan itu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat yang menjaganya?

Paria kambu mungkin hanya satu hidangan sederhana yang saya temukan di sebuah pasar. Namun di balik sepiring makanan itu, tersimpan cerita tentang kreativitas, tradisi, dan identitas sebuah daerah. Dan seperti banyak kekayaan lain yang kita miliki, nilainya sering kali baru terasa ketika kita bersedia berhenti sejenak, mencicipinya, lalu memahaminya lebih dalam.

Populer

Kebugaran

Rel alternatif

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Sisi gelap

Perbendaharaan Go Green

Destinasi wisata

Rebahaner

Mindfulness

Pembekalan

Waktu, Alam, Manusia