Ekonomi senja
-(Jumat, 12 Juni 2026)-
Ada sore-sore tertentu yang datang tanpa rencana. Sore itu, entah dari mana, muncul keinginan sederhana: berjalan kaki menyusuri tepi teluk.
Selepas salat Asar, ketika matahari tak lagi menyengat dan cahaya mulai melunak, saya keluar rumah menuju tepian teluk. Air laut sedang pasang. Hamparan permukaan air membentang tenang, memantulkan langit yang perlahan berubah warna. Saya berjalan tanpa tujuan khusus, hanya mengikuti garis pantai sambil memandangi lautan.
Ada sensasi yang sulit dijelaskan ketika mata menyapu cakrawala dari kiri ke kanan. Seolah-olah ruang yang luas itu memberi kesempatan bagi pikiran untuk ikut mengembang. Lautan tidak menawarkan jawaban apa pun, tetapi justru karena itulah ia menghadirkan ketenangan. Di hadapannya, berbagai urusan yang biasanya terasa mendesak mendadak tampak lebih kecil dari yang saya kira.
Saya terus melangkah hingga tiba di sebuah ruas jalan yang cukup lebar di tepi teluk. Di sana suasananya berbeda. Jika laut menghadirkan kesunyian, jalan itu memancarkan kehidupan. Para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM mulai menata lapak mereka. Ada yang menggantung pakaian, menyusun mainan, atau merapikan meja dagangan. Asap dari tungku-tungku kecil mulai naik ke udara, bercampur dengan aroma makanan yang perlahan mengisi petang.
Di sepanjang dua jalur satu arah itu, deretan lapak membentuk semacam pasar senja. Dari yang saya lihat, tempat ini bukan sekadar lokasi berjualan. Ia telah menjadi ruang sosial tempat warga kota menikmati sore: berjalan-jalan, berbincang, membawa keluarga, dan tentu saja mencicipi aneka kuliner yang dijajakan.
Saya kemudian berhenti di sebuah warung tenda yang menjual pisang epe dan sarabba. Keduanya saya pesan. Sambil menikmati hidangan itu, saya duduk menghadap teluk. Di depan saya, air laut bergerak pelan mengikuti pasang. Di belakang, kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Dua irama yang berbeda—alam dan aktivitas manusia—berjalan berdampingan dalam satu lanskap yang sama.
Saya mencoba menikmati setiap suapan dengan perlahan, benar-benar merasakan rasa yang hadir, tanpa tergesa. Pada saat itulah perhatian saya beralih pada hal lain: geliat ekonomi yang sedang berlangsung di sepanjang jalan itu. Satu per satu lapak mulai ramai. Pembeli datang, transaksi terjadi, uang berpindah tangan, dan roda kehidupan berputar sebagaimana biasanya.
Di tengah berbagai kabar tentang melemahnya rupiah, koreksi IHSG, atau ketidakpastian ekonomi yang sering memenuhi ruang pemberitaan, pemandangan sore itu menghadirkan perspektif yang berbeda. Di tingkat yang paling dasar, ekonomi ternyata tidak selalu hadir dalam angka-angka yang bergerak di layar. Ia juga hidup dalam bentuk yang lebih nyata: seorang pedagang yang membuka lapak, pembeli yang memesan makanan, keluarga yang menghabiskan waktu bersama, dan jalanan yang perlahan dipenuhi percakapan.
Sore itu saya seperti diingatkan bahwa di balik grafik dan statistik, ada denyut kehidupan yang terus bekerja. Dan seperti air teluk yang tetap pasang meski tak banyak diperhatikan, roda ekonomi rakyat pun terus berputar, sering kali tanpa peduli pada kegaduhan yang sedang terjadi di atas permukaan.