Imam sholat

-(Rabu, 17 Juni 2026)-

Saya masih ingat imam masjid di dusun saya ketika saya remaja. Dalam setiap salat berjamaah, beliau hampir selalu membaca surat-surat pendek. Yang paling panjang yang saya ingat adalah Surah Al-A'la dan Al-Ghasyiyah saat salat Jumat atau hari raya. Selebihnya, bacaan beliau berkisar pada surat-surat pendek di Juz Amma.

Cara beliau memimpin salat juga sederhana. Al-Fatihah dibaca dengan tempo yang wajar, tidak diperlambat untuk menciptakan kesan khusyuk. Bacaan surat, rukuk, sujud, hingga duduk di antara dua sujud mengalir dalam ritme yang tenang dan proporsional. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak dibuat berlama-lama.

Bahkan ketika memimpin tarawih dua puluh rakaat, temponya sedikit dipercepat. Mungkin karena beliau memahami bahwa di belakang imam selalu ada beragam manusia dengan keadaan yang berbeda-beda: ada yang lelah setelah bekerja, ada yang sudah lanjut usia, ada yang membawa anak kecil, ada pula yang memiliki urusan yang harus segera diselesaikan. Salat berjamaah bukan hanya tentang imam yang berdiri di depan, melainkan juga tentang kemampuan membaca keadaan orang-orang yang berdiri di belakangnya.

Semakin bertambah usia, semakin sering saya menemukan pengalaman yang berbeda. Di beberapa masjid yang pernah saya kunjungi, salat berjamaah terasa jauh lebih panjang. Surat yang dibaca lebih lama, tempo bacaan diperlambat, dan rukuk maupun sujud seolah diperpanjang sedemikian rupa. Kadang saya bertanya-tanya: apakah ini memang bentuk penghayatan yang lebih baik, atau justru sebuah selera beribadah yang tidak selalu cocok untuk semua orang?

Saya tidak ingin berprasangka buruk. Bisa jadi para imam itu memiliki niat yang sangat baik. Mungkin mereka ingin mengajarkan bentuk salat yang menurut mereka lebih sempurna. Mungkin mereka beranggapan bahwa semakin lama seseorang berdiri menghadap Tuhan, semakin besar pula nilai ibadahnya. Bisa juga karena mereka hafiz Al-Qur'an dan ingin menghadirkan lebih banyak ayat dalam salat sekaligus mengajak jamaah lebih akrab dengan Al-Qur'an.

Semua kemungkinan itu baik dan layak dihormati. Namun saya juga teringat pada prinsip yang sering disebut dalam banyak riwayat: Rasulullah menganjurkan imam untuk meringankan salat berjamaah karena di antara para makmum ada orang tua, orang yang lemah, orang yang sakit, dan mereka yang memiliki kebutuhan tertentu. Ukuran baiknya salat berjamaah tampaknya tidak hanya ditentukan oleh panjangnya bacaan, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam mempertimbangkan keadaan jamaah.

Di titik itulah saya sering merasa bahwa pemahaman agama yang mendalam tidak selalu diwujudkan dengan memperpanjang bacaan. Justru bisa jadi kedewasaan beragama tampak pada kemampuan menempatkan diri, memahami situasi, dan tidak menjadikan preferensi pribadi sebagai ukuran tunggal bagi semua orang.

Karena itu, hingga hari ini saya kadang berpindah-pindah masjid untuk mencari suasana yang mengingatkan saya pada imam di dusun dulu. Bukan karena saya mencari salat yang cepat, melainkan salat yang terasa pas. Salat yang memberi ruang bagi kekhusyukan tanpa membebani. Salat yang mengingatkan bahwa agama tidak datang untuk menyulitkan manusia, melainkan untuk menuntun mereka.

Dan setiap kali menemukan imam yang memimpin dengan cara seperti itu, ingatan saya selalu kembali ke dusun kecil tempat saya tumbuh. Kepada seorang imam yang mungkin tidak banyak berbicara tentang hikmah dan metode dakwah, tetapi melalui cara beliau memimpin salat, saya belajar satu hal penting: kebijaksanaan sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Populer

Kebugaran

Makar kuasa

Sisi gelap

Rebahaner

Tepian Samudra Berenergi Hijau

KUR malam minggu

Walking home kantong sampah

Pembekalan

Teknokratis

Perbendaharaan Go Green