Balik gowes

-(Selasa, 30 Juni 2026)-

Akhirnya saya membeli sepeda lipat. Merek dan harganya sengaja tidak saya sebutkan di sini. Setelah tiga tahun berhenti mengayuh, saya merasa seperti sedang kembali membuka pintu lama yang pernah saya tutup—dan di baliknya, ada jalanan kota, desa-desa di sekitar wilayah ini, serta ritme hidup yang dulu sempat akrab: memancal pedal.

Maka dalam biografi singkat yang rutin saya tulis di opini-opini saya di media daring itu, saya tak lagi hanya menyematkan predikat walker. Saya menambah satu identitas baru: cyclist. Sebuah penanda kecil, tapi bagi saya cukup untuk menegaskan arah baru yang ingin saya jalani.

Dorongan ini tidak tunggal. Ada alasan yang bersifat praktis: harga BBM non-subsidi yang kian menanjak membuat sepeda kembali terasa relevan, bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga strategi bertahan. Namun ada pula alasan yang lebih personal—keinginan untuk menjaga tubuh tetap bergerak, melatih daya tahan, dan mengembalikan tubuh pada disiplin yang sederhana: mengayuh, berkeringat, dan terus melaju.

Di kepala saya, rute-rute itu sudah mulai terbentuk seperti peta yang perlahan mengerucut. Masjid di tengah teluk itu, lintasan yang mengitari garis air hingga jembatan besar di ujungnya, juga jalur menuju bandara—semuanya seperti memanggil untuk dijelajahi pelan-pelan, dari sadel sepeda lipat yang ringkas namun menjanjikan kebebasan.

Bahkan saya sudah membayangkan fase yang lebih ringan: menelusuri jejak kuliner lokal, menamatkan satu per satu makanan tradisional yang tampak eksotis sekaligus menggoda. Atau berhenti di pasar, menuntun sepeda di sela keramaian, memilih bahan makanan yang lebih alami—tinggi protein, penuh buah-buahan—seolah tubuh ini sedang diajak kembali ke cara hidup yang lebih jernih.

Menariknya, saya sadar ada paradoks kecil di dalam niat ini. Dulu, saat pandemi Covid-19 membuat gowes menjadi tren, saya justru tidak ikut arus. Kini ketika euforia itu mereda dan orang-orang mulai menjauh, saya malah kembali mengayuh. Barangkali ada dorongan untuk menjadi berbeda, untuk tidak sekadar mengikuti momentum. Saya tidak menampik adanya ego di situ. Namun di saat yang sama, saya juga merasa ada kebutuhan yang lebih jujur: memberi contoh kecil tentang hidup sehat melalui hal yang paling sederhana—bergerak.

Saya juga mulai membayangkan sebuah kelompok gowes bersama teman-teman sejawat. Bersepeda satu hingga dua jam, lalu berhenti di UMKM, sarapan, ngopi, atau sekadar menikmati kudapan lokal. Dari sana lahirlah istilah yang saya pikirkan: SERBU—Semua Ramai-ramai Bantu UMKM. Setelah bersepeda, kami membeli produk mereka, lalu mengabadikannya, mempostingnya ke WAG kantor dengan caption SERBU—sebagai cara kecil untuk meramaikan sekaligus, mungkin, sedikit “menggoda” mereka yang belum ikut bergabung agar tertarik mencoba.

Namun, di balik semua skenario sosial itu, ada satu kesadaran yang terus mengendap: mungkin bersepeda paling jujur justru ketika dilakukan sendiri. Tanpa ritme orang lain, tanpa harus menyesuaikan kecepatan, tanpa harus menunggu atau ditunggu. Sendiri membuat perjalanan menjadi lebih lentur—kapan harus berhenti, kapan harus melaju, semuanya kembali pada tubuh dan napas sendiri.

Begitulah gambaran yang kini hidup di benak saya. Dan dalam beberapa hari ke depan, bayangan itu perlahan akan berubah menjadi kenyataan di jalanan yang sesungguhnya.

Populer

Motivator backoffice

Penempatan 200T

Bisul

Rebahaner

Haus validasi

Walking home kantong sampah

Pembekalan

Defisit Kalori

Karya kreatif

Mesin birokrasi