Jendela pesawat

-(Rabu, 24 Juni 2026)-

“Flight attendant, prepare for arrival.”

Suara itu tiba-tiba memotong lamunan saya. Pagi itu saya duduk di kursi dekat jendela dalam sebuah penerbangan. Dari tempat itu saya bisa melihat hamparan awan putih yang membentang seperti lautan tanpa tepi. Jika awan berada di bawah sana, berarti pesawat ini sedang melintas jauh di atasnya.

Kursi saya kebetulan berada tepat di dekat sayap. Karena itu, selain awan, saya juga dapat memandangi sayap pesawat yang tampak kokoh membelah udara. Di ujungnya ada bagian yang melengkung ke atas dengan logo maskapai menempel di sana. Sebuah pemandangan yang sangat khas. Bahkan tanpa perlu menjelaskan apa pun, cukup memotret sayap itu lalu mengunggahnya ke status WhatsApp atau Instagram, orang-orang akan langsung tahu bahwa saya sedang berada di dalam pesawat.

Namun kali ini saya tidak melakukannya.

Mungkin saya sudah melewati fase ketika hampir setiap pengalaman harus diabadikan dan dibagikan. Ada masa ketika sebuah perjalanan terasa belum lengkap sebelum diposting ke media sosial. Kini saya lebih sering membiarkan pengalaman itu tinggal lebih lama dalam ingatan sebelum menjadikannya cerita.

Meski begitu, ada ironi yang menarik. Saya tidak mengunggah foto sayap pesawat, tetapi ketika seseorang membaca tulisan ini, bisa jadi ia justru mengetahui pengalaman saya dengan jauh lebih rinci daripada sekadar melihat sebuah foto. Barangkali memang begitulah cara saya menikmati sesuatu sekarang: bukan dengan membagikan gambar, melainkan dengan merangkainya menjadi cerita.

Sejak lama saya memang cenderung menyukai jalur yang berbeda. Ketika banyak orang bergerak ke satu arah, saya sering tertarik melihat apa yang ada di arah sebaliknya. Saat media sosial menjadi arena utama untuk berbagi pengalaman, saya justru merasa lebih betah menuliskannya di blog. Bukan karena ingin terlihat berbeda, melainkan karena saya menemukan kenikmatan tersendiri dalam cara itu. Ada ruang yang lebih luas untuk berpikir, mengingat, dan memahami sebuah peristiwa, bukan sekadar menampilkannya.

“Flight attendant, landing station.”

Suara itu terdengar kembali. Saya menghentikan tulisan sejenak dan memilih menikmati proses pendaratan.

Pandangan saya beralih ke bawah. Hamparan sawah hijau mulai terlihat jelas. Di beberapa titik tampak asap membumbung dari lahan yang baru dibakar. Di tempat lain, deretan rumah baru berdiri berjajar, sebagian masih dalam tahap pembangunan. Saya membayangkan mungkin sebagian dari itu merupakan bagian dari program pembangunan rumah yang belakangan sering diberitakan.

Semakin rendah pesawat turun, semakin berubah pula cara mata memandang. Apa yang beberapa menit lalu tampak kecil dan sederhana dari ketinggian kini perlahan menunjukkan bentuknya yang sesungguhnya. Jalan-jalan mulai terlihat, rumah-rumah menjadi lebih jelas, dan bumi yang semula seperti miniatur kembali menjelma menjadi dunia nyata yang akan segera saya pijak.

Mungkin begitulah banyak hal dalam hidup. Dari kejauhan, semuanya tampak sederhana. Tetapi ketika kita mendekat, detail-detailnya mulai terlihat; kerumitannya, ceritanya, juga kenyataannya.

Pesawat semakin dekat ke landasan. Saya merapikan posisi duduk dan bersiap menghadapi gaya pendaratan maskapai ini yang, setidaknya menurut pengalaman saya, selalu terasa sedikit keras. Beberapa detik kemudian roda menyentuh aspal dengan hentakan yang cukup tegas.

Dan seperti setiap pendaratan yang baik, bukan kelembutannya yang paling penting, melainkan kenyataan bahwa kita akhirnya tiba dengan selamat.

Populer

Puas pemerintah

Penempatan 200T

Teknokratis

Ujian

Rebahaner

Bubur siring

Makar kuasa

Sehat enak

Kota atau pedalaman?

Haji mabrur