Burjo & Bassang

 -(Minggu, 7 Juni 2026)-

Pagi itu saya sengaja mengambil rute baru untuk jalan kaki. Salah satu kesenangan dari kebiasaan ini adalah kesempatan menjelajah sudut-sudut kota yang belum pernah saya lewati sebelumnya. Sering kali, kejutan kecil justru muncul dari tempat yang tidak direncanakan.

Di sebuah tepi jalan, pandangan saya tertumbuk pada gerobak sederhana dengan tulisan besar: Burjo & Bassang. Burjo tentu bukan hal asing bagi saya—singkatan dari bubur kacang hijau yang akrab dijumpai di banyak tempat. Namun, bassang adalah nama yang sama sekali baru di telinga saya. Rasa penasaran itulah yang akhirnya membuat saya berhenti.

Untuk pengalaman pertama, saya meminta keduanya dicampur dalam satu mangkuk. Ketika hidangan itu tersaji, perhatian saya langsung tertuju pada bagian berwarna putih yang disebut bassang. Setelah diamati dan dicicipi, ternyata isinya adalah jagung putih yang dimasak hingga lembut, semacam bubur jagung dengan cita rasa yang sederhana namun menghangatkan. Nama yang sebelumnya asing itu perlahan memperoleh bentuk, rasa, dan cerita di dalam ingatan saya.

Sejak pertemuan pertama itu, rute jalan pagi tersebut justru menjadi salah satu pilihan yang sering saya ulang. Bukan semata-mata karena jalannya, melainkan karena ada tujuan kecil yang menunggu di ujungnya. Saya singgah membeli burjo dan bassang, lalu membawanya pulang dalam gelas plastik yang memang telah disiapkan penjual. Dari pengamatan saya, sebagian besar pelanggan melakukan hal yang sama. Mungkin karena makanan seperti ini bukan hanya soal rasa, melainkan juga soal kebiasaan—sesuatu yang nyaman dinikmati di rumah setelah memulai hari.

Pengalaman menemukan bassang mengingatkan saya bahwa mengenal sebuah daerah tidak selalu harus melalui tempat-tempat besar atau peristiwa penting. Kadang-kadang, pemahaman itu justru datang dari semangkuk makanan sederhana yang dijual di pinggir jalan. Setiap daerah menyimpan cara unik untuk mengolah bahan yang tersedia di sekitarnya, dan dari sana lahir identitas kuliner yang membedakannya dari tempat lain.

Saya sendiri sudah kehilangan hitungan berapa banyak kuliner lokal yang telah saya cicipi selama berada di kawasan ini. Ada coto, buras, gogos, kasuami, panada, sinonggi, dan kini bassang. Masing-masing menghadirkan pengalaman yang berbeda, bukan hanya di lidah, tetapi juga dalam cara saya memahami keragaman budaya yang melahirkannya.

Karena itu, pencarian ini rasanya belum akan berhenti. Masih banyak nama yang belum saya kenal dan rasa yang belum saya temui. Setiap makanan baru ibarat penanda kecil dalam perjalanan, memperkaya peta pengalaman yang saya bawa pulang. Bagi saya, semakin banyak kuliner Nusantara yang pernah dinikmati bukan sekadar soal kebanggaan pribadi. Ia adalah anugerah: kesempatan untuk merasakan betapa luas dan berwarnanya negeri ini, satu suapan pada satu waktu.

Populer

Defisit Kalori

Irigasi listrik

Haus validasi

Perbendaharaan Go Green

Bubur siring

Kemewahan fiskal

Berani bertanya

Kipas mubazir

Filsafat Kebahagiaan

Jumat istimewa