Postingan

Pemimpin melayani

 -(Jumat, 12 Desember 2025)- Barangkali inilah salah satu daya tarik menjadi pemimpin atau pejabat: penghormatan yang selalu menyertai jabatan. Pada setiap acara seremonial atau formal, para pemimpin ditempatkan di barisan depan, seolah kedatangan mereka adalah pusat perhatian. Ajudan, protokoler, dan humas mengiringi langkah mereka, memastikan setiap detik terdokumentasi, seakan keberadaan mereka harus terus dibuktikan. Dalam setiap sambutan, nama para pemimpin dan pejabat diulang-ulang sebagai bentuk penghormatan. Pengulangan itu bukan hanya formalitas, tetapi juga penegasan eksistensi—seolah menempatkan mereka pada derajat yang lebih tinggi dari manusia lainnya. Barangkali memang demikian bentukan kehidupan manusia: selalu ada yang ditinggikan. Budaya, tradisi, atau tafsir keagamaan kerap membentuk struktur penghormatan yang hierarkis. Padahal, dalam pandangan Tuhan, kemuliaan bukan ditentukan oleh posisi, melainkan oleh ketakwaan. Dalam sistem demokrasi, rakyat sejatinya ada...

Training AI

-(Kamis, 11 Desember 2025)- Ketika wiken kemarin saya berolahraga jalan dan lari, saya bertemu dengan sebuah papan pengumuman berisi informasi pelaksanaan kegiatan in-house training pembelajaran mendalam AI dan coding. Mengingat daerah ini jauh dari kota besar, saya menganggap acara ini sungguh luar biasa. Namun justru karena itu saya penasaran: apa sebenarnya yang dilatihkan pada IHT tersebut? Apakah itu sekadar nama yang terdengar canggih? Ataukah memang sesuai dengan isi acaranya? Berdasarkan judulnya, bayangan saya adalah para peserta akan diajarkan bagaimana membuat sebuah aplikasi berbasis AI—apalagi di dalamnya ada kata coding . Tetapi saya sendiri tidak yakin. Sebagaimana webinar AI yang pernah saya tonton di YouTube, dugaan kuat saya adalah kegiatan semacam ini lebih sering berfokus pada latihan menggunakan aplikasi AI yang sudah ada. Secara konkret, barangkali yang diajarkan hanyalah bagaimana memanfaatkan ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai aplikasi lain untuk memudah...

Destinasi wisata

-(Rabu, 10 Desember 2025)- Baru-baru ini saya mengikuti alur cerita film Letters to Juliet . Selain ceritanya yang menarik, ada sebuah ide baik yang saya notice—sebuah konsep yang bisa ditiru dan dikembangkan sebagai daya tarik wisata di suatu daerah. Film itu menggambarkan bagaimana cinta itu mesti diperjuangkan agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Ada satu tempat—tepatnya bangunan yang dipercaya sebagai peninggalan kisah cinta klasik Romeo dan Juliet. Di sana, wisatawan dapat menuliskan surat berisi ungkapan hati, khususnya tentang kisah cinta mereka, lalu menempelkannya pada dinding. Surat itu ditujukan kepada Juliet. Rupanya, setiap akhir hari, surat-surat itu dikumpulkan oleh sekelompok petugas yang menamakan diri mereka “para sekretaris Juliet”. Mereka membaca surat-surat tersebut dan membuat surat balasan bagi para penulisnya. Diceritakan, ada satu surat yang tanpa sengaja ditemukan terselip di balik batu dinding itu. Surat yang telah berumur puluhan tahun ter...

Heroik & egois

-(Selasa, 9 Desember 2025)- Narasi kepahlawanan barangkali telah merasuk dalam pikiran dan hati manusia sejak awal peradaban. Ketika leluhur kita menghadapi kondisi alam yang berat, selalu ada individu yang melakukan tindakan yang meringankan beban sesamanya. Ketika terjadi konflik antar kelompok, ada pula yang berani menyelamatkan anggota kelompoknya dari ancaman kelompok lain. Aksi-aksi inilah yang kemudian diberi narasi: kepedulian dan kepahlawanan. Sebaliknya, ketika seseorang atau kelompok tidak peduli pada rekannya yang cedera saat berburu—bahkan meninggalkannya karena dianggap beban—tindakan itu kelak dipandang sebagai sesuatu yang tercela. Begitu pula dalam bencana: ketika orang-orang yang punya akses keselamatan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa peduli pada nasib yang lain, aksi itu dilabeli sebagai bentuk ketidakpedulian dan keegoisan. Menariknya, kedua bentuk tindakan tersebut sama-sama bersifat abstrak pada level persepsi. Aksinya memang berbeda, tetapi cara manusia m...

Kuasa algoritma

-(Senin, 8 Desember 2025)- Algoritma media sosial benar-benar membuat setiap orang hidup dalam dunia yang berbeda. Seseorang yang setiap hari membuka, membaca, mengklik, dan menonton berita serta diskusi politik akan diarahkan algoritma untuk terus menerima lebih banyak akun dan kanal bertema politik. Begitu pula ketika seseorang sering menyaksikan ceramah agama, ia akan disuguhi lebih banyak lagi konten sejenis—bahkan dengan pola pemikiran yang sama. Dan begitu seterusnya. Algoritma yang selalu menuntun setiap orang menuju apa yang sesuai dengan kesukaannya, akhirnya menciptakan jagat digital yang terfragmentasi: timeline dan FYP setiap orang tidak pernah sama. Sesuatu yang dianggap viral oleh satu pihak, bisa jadi sama sekali tidak muncul di beranda orang lain. Kita merasa hidup dalam ruang publik yang sama, padahal kita sebenarnya berada dalam realitas informasi yang berlainan. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah ini baik atau buruk bagi kita? Jawabannya tentu tergantung sudut ...

Mengekor influencer

-(Sabtu, 6 November 2025)- Hingga kini saya masih bertanya-tanya: mengapa ada orang yang menyebut dirinya “influencer”, dan mengapa pula media atau publik begitu mudah menahbiskan sejumlah orang dengan gelar itu? Jawaban paling sederhana tentu karena mereka dianggap mampu memengaruhi cara pikir, perilaku, atau gaya hidup banyak orang. Namun pertanyaan yang lebih kritis justru ini: mengapa begitu banyak orang rela dipengaruhi—bahkan menjadi pengekor—oleh mereka? Manipulasi apa yang berlangsung hingga ribuan, bahkan jutaan orang bersedia menjadi pengikut setia? Apakah sekadar karena platform mereka ramai ditonton? Jika iya, mengapa orang-orang menontonnya sejak awal? Apakah ada celah psikologis yang mereka mainkan, kebutuhan emosional yang mereka sentuh, atau sekadar rasa ingin menjadi bagian dari arus mayoritas? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab pada akhirnya kita harus bertanya: kualitas apa yang sebenarnya ada pada diri seorang influencer hingga ia mampu menarik begitu banyak...

Hafalan Qur'an

-(Jumat, 5 Desember 2025)- Tepat di Jumat pagi ini, rutinitas membaca Al-Qur’an membawa saya pada Surah Ar-Rahman. Seusai salat Subuh berjamaah di langgar, saya membiasakan diri membaca Al-Qur’an sebanyak dua halaman setiap hari. Namun belakangan, karena sudah memasuki juz-juz akhir yang berisi surah-surah lebih pendek, saya membaca satu surah penuh. Tentu semua orang Islam mengenal Surah Ar-Rahman—surah yang di dalamnya berulang ayat, fa biayyi alā’i rabbikumā tukażżibān : Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?   Pertanyaan itu, meski retoris, mampu mengetuk batin siapa pun. Ia menghadirkan renungan yang sulit dihindari, seolah memaksa kita mengakui bahwa tak satu pun nikmat yang pantas kita abaikan, apalagi kita dustakan. Dulu sebenarnya saya hafal surah ini. Sayangnya, hafalan itu tidak saya latih. Meski demikian, ketika membacanya kini, lisan saya tetap lancar; beberapa ayat bahkan mengalir tanpa perlu saya lihat teksnya. Dahulu saya juga menghafal Juz Amma—Juz ...

Harmoni subuh

-(Kamis, 4 Desember 2025)- Ketika saya pulang dari langgar (mushola) timur pada suatu subuh, dari langgar utara terdengar imam sedang membaca satu surat. Entah itu bacaan rakaat pertama atau kedua. Namun yang pasti, sholat subuh di sana baru saja berlangsung. Padahal di langgar timur, sholat sudah selesai, bahkan dzikir bersama hingga bacaan “Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x” telah rampung tuntas. Perbedaan waktu dimulainya pelaksanaan sholat subuh ini tentu tidak menjadi soal bagi para jamaah masing-masing. Mereka telah menyesuaikan diri dengan jadwal yang berlaku. Namun bagi saya, perbedaan ini justru menjadi keuntungan tersendiri. Manakala saya bangun agak terlambat, saya masih punya kesempatan untuk datang ke langgar utara yang jadwalnya sedikit lebih mundur. Sementara ketika saya bangun lebih awal dan ingin memiliki waktu longgar selepas subuh, saya bisa memilih ke langgar timur yang lebih cepat memulai. Start yang berbeda dalam dimulainya pelaksanaan s...

Romantisisme healing

-(Rabu, 3 Desember 2025)- Beberapa tahun lalu, muncul istilah healing dan kemudian menjadi viral. Banyak orang mengucapkan kata itu ketika mereka akan atau sedang menikmati hidupnya. Bisa jadi mereka piknik ke satu tempat, seperti pantai atau pegunungan, atau sedang menikmati kuliner di sebuah resto, kafe, maupun warung. Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Saya menduga, healing kemudian seolah menjadi salah satu kebutuhan manusia agar hidupnya merasa senang dan bahagia. Barangkali pula, ada sebagian orang yang melakukan healing karena dorongan FOMO melihat orang lain tengah liburan. Internet dan media sosial telah menjadi sarana efektif yang menyebarkan narasi healing ini. Narasi itu cukup jelas: bahwa untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan, manusia perlu healing . Ini barangkali yang disebut romantisisme—gagasan bahwa kebahagiaan harus dirayakan dalam bentuk liburan atau konsumsi pengalaman. Apalagi dengan budaya pamer atau mencari validasi melalui medsos, narasi ini terla...

Jarak kebijakan

-(Selasa, 2 Desember 2025)- Nampaknya memang ada jarak yang cukup lebar antara pelaksana regulasi di daerah dengan pembuat regulasi di pusat. Ada beberapa kondisi yang membuat saya berakhir pada kesimpulan ini. Meski saya tahu simpulan ini lahir dari proses induksi, dan bila ditantang soal jumlah peristiwanya, saya mesti akui memang relatif sedikit. Namun, saya berharap contoh-contoh ini cukup mewakili apa yang tengah terjadi di daerah. Ketika sebuah kebijakan ditetapkan di pusat dan harus dilaksanakan di daerah, respons yang muncul kerap berupa protes dan kekhawatiran akan potensi gejolak lokal. Kekhawatiran itu lebih berkaitan dengan nasib para pelaksana kebijakan itu sendiri—bagaimana posisi dan kenyamanan mereka terancam—bukan pada bagaimana kebijakan tersebut berdampak bagi masyarakat. Sebagian mengatakan: tak mungkin mendatangi pusat untuk protes, yang lebih masuk akal adalah menyasar kantor-kantor di daerah yang dianggap merepresentasikan pusat. Secara implisit, pernyataan it...

Paradoks Desember

  -(Senin, 1 Desember 2025)- Selamat datang Desember. Bulan yang hanya berisi 31 hari ini menjadi penanda bahwa tahun baru semakin dekat. Bagi sebagian orang, ini adalah bulan yang ditunggu—hadirnya hari raya, liburan, dan waktu berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi sebagian yang lain, Desember justru merupakan bulan paling padat. Bulan ketika target kinerja dan serapan belanja menjadi taruhan. Maka diberlakukanlah berbagai aturan: pengetatan, pembatasan, bahkan larangan cuti. Dan pola ini selalu berulang setiap tahun. Di satu sisi, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai hal positif. Ia menunjukkan keseriusan birokrasi untuk menuntaskan tugasnya. Para pegawai rela mengorbankan kepentingan keluarga demi kepentingan rakyat, menjaga agar serapan anggaran mencapai target. Tetapi di sisi lain, fenomena ini sekaligus menjadi alarm bahaya: kinerja belanja pemerintah belum juga menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun. Penumpukan pencairan anggaran di akhir tahun masih menjadi tradis...

Karya kreatif

-(Minggu, 30 November 2025)- Saya masih tertegun setelah membaca isi buku itu. Bagaimana para pembuat buku tersebut mampu sampai pada pemikiran sedalam itu? Imajinasi yang lalu dituangkan dalam bentuk komik—dengan percakapan yang menarik, bernas, memberi pengetahuan, sekaligus memantik gagasan-gagasan yang mind blowing. Tentu itu bukan karya penulis pemula atau komikus debutan. Sangat mungkin komik tersebut merupakan hasil kolaborasi para pakar: orang-orang berpengalaman yang telah mengasah keterampilan mereka melalui proses panjang dan berulang—mungkin hingga ribuan kali—hingga mencapai level ahli. Ketika mereka merekonstruksi apa yang terjadi di masa lalu berdasarkan temuan arkeologi, mereka jelas membutuhkan lebih dari sekadar kumpulan artefak. Mereka memerlukan kemampuan imajinasi historis. Misalnya, ketika muncul pertanyaan: Bagaimana manusia zaman dulu menemukan bahwa kentang, umbi-umbian, atau kacang-kacangan menjadi lebih enak setelah terkena api? Imajinasi itu mungkin berk...

Kompleksitas perilaku

-(Sabtu, 29 November 2025)- Ribut dan viral soal tumbler di media belakangan ini, yang kemudian berakhir damai, semakin menegaskan kebenaran isi buku yang saya baca itu. Semua berawal dari kehilangan benda yang dianggap berharga di sebuah moda transportasi. Lantas si pemilik tidak terima dan menceritakannya ke medsos. Ah, lanjutannya silakan cari sendiri di internet. Sebenarnya saya agak malas menulis hal-hal viral, karena itu justru membuatnya semakin viral. Yang kadang saya melihat, berita semacam itu menjadi viral karena telah ditunggangi banyak orang untuk barangkali ingin menjadi terkenal, merasa ikut memberikan pembelaan, rasa empati, dan mungkin juga untuk kepentingan memperbanyak penonton alias menambah engagement. Fenomena semacam ini mencerminkan bagaimana opini publik dapat bergeser menjadi komoditas sosial. Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa ada manusia yang melakukan hal begitu? Baik yang dilakukan oleh pemilik tumbler, maupun yang dilakukan oleh para netizen. Dari ma...

Warisan perilaku

  -(Jumat, 28 November 2025)- Setelah membaca buku itu, akhirnya saya benar-benar memahami apa yang membedakan dua makhluk yang terlihat serupa tetapi dikategorikan dalam spesies berbeda. Melalui kategorisasi, kita dapat mengenali perbedaan antarspesies serta ciri khas masing-masing. Dengan cara inilah para saintis dalam dunia biologi memberikan sumbangsih pengetahuan luar biasa terhadap flora dan fauna di bumi. Barangkali, cita-cita para saintis itu adalah kembali menemukan spesies baru yang masih tersembunyi di alam raya. Atau, mungkin pula mereka berharap menemukan spesies yang pernah ada di bumi, tetapi kini telah punah. Dan ternyata, dari buku itu saya belajar bahwa ada banyak spesies yang telah punah. Ulah siapa? Anda barangkali sudah bisa menebaknya. Salah satu saripati penting dari buku itu yang melekat dalam benak saya adalah temuan bahwa setiap kali makhluk ini tiba di satu wilayah atau daratan tertentu, beberapa tahun kemudian akan terjadi kepunahan sejumlah spesies h...

Normalisasi bosan

-(Kamis, 27 November 2025)- Apa yang membuat kita bosan? Pekerjaan, kegiatan, acara, atau aktivitas yang dilakukan berulang-ulang. Pengulangan itu menjadikan sebuah aktivitas yang awalnya bermakna dan menarik menjadi hal yang biasa, tak lagi istimewa. Padahal, barangkali di tempat lain aktivitas yang sama bisa dianggap mustahil atau bahkan ajaib untuk dilakukan. Meski demikian, repetisi itulah yang pelan-pelan membentuk kebiasaan. Aktivitas yang terus diulang akan mengendap menjadi pola, kemudian berkembang menjadi tradisi, bahkan budaya. Dengan kata lain: repetisi itu penting, terutama ketika kita ingin membentuk kedisiplinan, membangun habit, hingga menempa karakter. Masalahnya, proses tersebut sangat membosankan. Biasanya, kita berusaha mencari cara untuk mengatasi rasa bosan itu. Namun alih-alih bertanya bagaimana menghilangkan kebosanan , kita bisa membalik pertanyaan tersebut: mengapa harus dihilangkan? Mengapa kita tidak menjadikan rasa bosan sebagai sesuatu yang biasa saja? ...

Kabar buruk

 -(Rabu, 26 November 2025)- Pada akhirnya, kita bisa merasa bosan dan menutup diri dari kabar buruk. Informasi negatif itu seperti beban: ketika terus menerus menerpa diri, ia kian memberatkan pikiran dan perasaan, dan dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental—bahkan memicu depresi. Ibarat gelas berisi air penuh. Pada awalnya terasa ringan. Namun ketika terus digenggam tanpa jeda, tangan akan terasa semakin letih dan sakit. Begitu pula kabar buruk: bukan karena ia langsung menghancurkan kita, tetapi karena kita menggenggamnya terlalu lama dalam pikiran. Selain berusaha beristirahat dari memikirkan masalah yang sama berulang-ulang, upaya lain yang bisa dilakukan adalah membatasi, bahkan menghindari paparan kabar buruk. Dengan kata lain, memperbanyak kabar yang menggembirakan—yang membangun optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik—merupakan pilihan yang lebih sehat. Namun kenyataannya, kita hidup berdampingan dengan orang lain: keluarga, teman, a...

Hujan birokrasi

-(Selasa, 25 November 2025)- Hari-hari belakangan ini, setiap hari turun hujan. Adakalanya saat dini hari, adakalanya pula di siang hari. Bagi kalangan petani, barangkali ini menjadi berkah—asal hujannya tidak membuat banjir dan sawah tergenang. Bagi pihak lain? Nanti dulu. Barangkali ada yang mengeluh, lalu menjadikan hujan sebagai kambing hitam atas pekerjaan yang terus tertunda penyelesaiannya. Hujan ini tentu akan menjadi persoalan ketika akhir tahun, saat banyak pekerjaan infrastruktur dikejar target penyelesaiannya. Ada yang sedang merehab gedung, memperbaiki jalan dan jembatan, atau merevitalisasi sekolah. Belum lagi proyek-proyek fisik lainnya, baik pemeliharaan maupun perawatan. Mungkin akan ramai-ramai menyalahkan hujan. Tapi jika kita lebih kritis, muncul pertanyaan: ke mana saja selama ini hingga proyek-proyek itu baru dikerjakan sekarang? Sebelum musim hujan seperti ini, tentu yang terjadi adalah musim kemarau. Dan itu sudah pasti, karena negara ini hanya memiliki dua...

Gaji tunggal

  -(Senin, 24 November 2025)- Apakah single salary bagi ASN akan benar-benar menjadi solusi peningkatan kinerja birokrasi? Secara teori mungkin bisa, karena penyederhanaan skema penggajian dapat menciptakan transparansi, mengurangi ketimpangan, serta mendorong profesionalitas. Namun, jika membayangkan implementasinya dalam kondisi birokrasi saat ini, justru muncul kekhawatiran besar: yang terjadi bukan peningkatan kinerja, melainkan demotivasi ASN. Alih-alih tergesa menerapkan single salary, hal yang paling mendesak adalah memastikan bahwa kinerja ASN dapat menjadi bukti nyata dan memberi kepuasan bagi masyarakat. Ketika pelayanan publik belum konsisten memenuhi kebutuhan dan ekspektasi masyarakat, kebijakan single salary bisa memunculkan penolakan publik. Masyarakat dapat mempertanyakan kelayakan gaji tersebut, apalagi jika salary yang dipilih justru dinilai tidak sesuai atau tidak layak untuk ASN pada unit tertentu. Pada titik ini, legitimasi publik terhadap kebijakan bisa sa...

Ekonomi modern

-(Minggu, 23 November 2025)- Nampaknya semua teori ekonomi itu tak benar-benar manjur untuk mengatasi keadaan ekonomi modern. Mengapa? Saya membayangkan teori-teori ekonomi itu disusun pada masa lampau, di mana kondisi sosial masyarakat dan teknologi masih sangat sederhana. Terlebih lagi saat itu belum ada internet dan media sosial. Sebagian besar kehidupan dan pekerjaan juga masih dikerjakan secara manual. Interaksi antar manusia dan antar negara barangkali waktu itu juga belum sekompleks saat ini. Dengan berbagai faktor tersebut yang menjadi pembeda kondisi saat ini dan saat teori itu disusun, rupanya itu pula yang membuat hasilnya tidak bisa sama. Teori-teori itu tidak semujarab zaman dulu lagi. Apalagi ditambah kebutuhan manusia modern yang semakin kompleks, membuat situasinya tak lagi sama dengan dulu. Artinya, kondisi ceteris paribus itu barangkali saat ini hanya di textbook, tak mungkin lagi didapat di kehidupan nyata. Pun, teori atau rumus pendapatan nasional yang ditulis se...

Olahraga beban

-(Sabtu, 22 November 2025)- Saya mulai menjalani latihan rutin setiap hari. Olahraga beban. Di rumah. Mungkin saya terlalu cepat mengumumkan ini karena faktanya baru saya lakukan dalam tiga hari berturut-turut ini. Namun ada yang berbeda dibanding sebelumnya. Jika dulu, karena tidak paham, saya melatih semua otot saya dalam setiap sesi latihan, sekarang setiap sesi saya fokus pada pembentukan bagian tubuh tertentu. Dalam tiga hari ini, pola latihan saya terbagi jelas. Hari pertama, saya melatih otot dada dan lengan dengan gerakan push up dan plank beserta variasinya. Hari kedua, saya melatih otot perut melalui sit up dan angkat kaki dalam posisi tubuh rebahan. Hari ketiga, saya melatih otot paha dan bokong. Untuk hari keempat nanti, barangkali saya akan melatih otot dada atas. Sedangkan hari kelima dan keenam, saya akan melihat contekan program latihan terlebih dahulu. Dan tentu, hari ketujuh adalah hari istirahat yang wajib, agar tubuh memiliki waktu pemulihan. Begitulah upaya kera...

Rel alternatif

-(Jumat, 21 November 2025)- Sudah dua hari ini saya tidak berangkat ke mushola untuk sholat Subuh berjamaah. Alasan utamanya adalah hujan—bukan sekadar gerimis, tetapi hujan deras yang turun setiap dini hari. Anehnya, hujan itu selalu datang tepat saat masuk waktu Subuh. Praktis, niat saya untuk ke masjid pun harus saya urungkan. Sebenarnya ada perasaan tidak nyaman ketika kebiasaan sholat berjamaah di masjid atau mushola itu tidak saya lakukan. Mungkin karena sudah menjadi satu kebiasaan, sehingga ketika ditinggalkan seperti ada yang kurang dalam keseharian. Selain itu, dorongan atas pahala dan keutamaan sholat berjamaah bagi pria membuat saya merasa rugi jika melewatkannya. Namun apa boleh buat, sebab hujan barangkali semesta tidak mengizinkan saya pergi sholat berjamaah. Jika kita berprasangka baik, ini juga bisa menjadi bagian dari rencana Tuhan. Barangkali ada hal berharga lain yang bisa saya lakukan untuk menutup amalan sholat Subuh berjamaah itu dengan amalan lainnya. Karena i...

Kunang-kunang

-(Kamis, 20 November 2025)-  Apa sekarang yang ingin anda lihat dari kenangan masa lalu? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya sudah saya temukan. Mungkin sejak lama jawaban itu sudah bercokol di kepala saya. Sesuatu yang sudah saya rindukan karena menjadi pengalaman masa kecil yang terukir dalam pikiran saya: kunang-kunang . Itu jawaban saya. Binatang ini barangkali sekarang sudah langka. Sulit untuk ditemukan kembali. Jika di tempat anda masih ada kunang-kunang, tolong beritahu saya, di mana tempatnya. Saya ingin benar-benar melihatnya terbang membawa cahaya, lalu saya ingin menangkapnya, memegangnya, lalu menjadikan ia penerang dalam kegelapan malam. Begitulah yang dulu saya lakukan saat masih anak-anak dan remaja. Jalan setapak menuju masjid itu selalu gelap. Saya menangkap kunang-kunang yang melintas dan menjadikannya penerang jalan, sekaligus teman. Barangkali cahaya di tubuhnya tak cukup untuk menerangi gelap malam yang pekat itu. Kalau pun saya masih bisa...

Lagu imitasi

-(Rabu, 19 November 2025)- Sekarang ini sudah banyak lagu-lagu yang digenerate akal imitasi (AI). Bahkan ada lagu cover yang juga dinyanyikan AI. Hasilnya: sangat enak didengar di telinga. Selain memang karena semakin canggihnya AI, barangkali ini juga menjadi semacam “pelarian” bagi beberapa pihak yang merasa terganggu dengan aturan royalti atas lagu-lagu asli yang diputar atau dinyanyikan. Ini tentu sungguh ironis. Aturan itu dibuat untuk memberikan hak bagi musisi, tapi di sisi lain, seperti yang sempat heboh beberapa waktu lalu, agak berlebihan. Bagaimanapun aturan yang berlebihan pastilah akan membuat warga kecewa. Persoalannya tidak berhenti sampai disitu. Setelah orang-orang beralih ke musik AI, lambat laun daya kreatif untuk menciptakan lagu sendiri berpotensi menurun. Ini tentu akan sangat mengkhawatirkan. Seperti kekhawatiran banyak pihak atas dampak AI pada banyak sisi kehidupan terutama industri kreatif. Begitulah. Kemajuan teknologi dan keinginan masyarakat rupanya sal...

Sidak Pemimpin

-(Selasa, 18 November 2025)- Dalam satu potongan video, ada seorang gubernur yang melakukan sidak ke satu sekolah. Ada kata-kata yang masih saya ingat: “mirip kandang ayam” . Artinya, kondisi fisik sekolah ini sangat memprihatinkan. Gubernur terlihat agak marah, karena terkesan para petinggi sekolah itu tidak peduli dengan kondisi bangunan. Dan nampaknya gubernur itu kemudian memerintahkan bawahannya untuk segera melakukan perbaikan atas sekolah tersebut. Saya kemudian jadi berpikir: andai semua kepala daerah juga melakukan sidak begitu. Tentu permasalahan riil di lapangan dapat tercapture oleh pimpinan dan segera dapat penanganannya. Barangkali itu hanya satu dari banyak sekolah yang mengalami hal serupa. Ada banyak bangunan sekolah yang faktanya sangat memprihatinkan. Makanya, jika kemudian pemerintah sekarang memiliki program revitalisasi sekolah, memang sungguh sangat relevan. Program seperti ini dapat menjawab kebutuhan mendesak dunia pendidikan yang sering kali luput dari penga...

Melatih diri

-(Senin, 17 November 2025)- Prinsip bahwa latihan adalah proses untuk mencapai tingkatan sebuah kompetensi atau keahlian, adalah hal yang tidak terbantahkan. Barangkali prinsip ini kemudian digunakan sebagai cara untuk melatih akal imitasi (AI) hingga ia mampu mengerjakan atau menjawab semua tugas yang diberikan manusia. Dan kita tahu semakin hari akal imitasi ini semakin canggih saja. Semua karya-karya kreatif sudah bisa dikerjakan oleh AI. Itu semua karena ia terus belajar dan dilatih. Proses ini bermula dari contoh yang dilakukan oleh manusia. Ketika setiap hari manusia itu terus berlatih pada satu keahlian atau kompetensi, lambat laun ia akan berada pada maqom tertinggi atas keahlian itu. Ada yang bilang, latihan selama minimal 1000 kali akan membawa manusia pada level ahli. Untuk memberikan motivasi kepada para generasi muda saat ini, mari kita balik alur ceritanya. Ini dimaksudkan agar mereka melihat buktinya secara langsung, bukan sekadar bayangan atau fiksi belaka. Saya mem...