Siapa yang kuat

 -(Ditulis tanggal 5 Maret 2025)-


Tempo hari saya datang ke Kantor Imigrasi. Anda sudah bisa tebak untuk apa. Yang ini menjadi sebuah pengalaman baru. Karena pertama kali membuatnya. Betul ungkapan itu. Pengalaman adalah guru paling berharga. Apa pun yang kita alami, kita bisa belajar darinya. Dari perbuatan yang tanpa sengaja menjadi kekeliruan, kita bisa belajar untuk tidak terjebak pada peristiwa yang sama. Pun dengan pengalaman keberhasilan. Itu menjadi benchmark untuk strategi yang lebih bagus lagi. 

Pengalaman mengurus paspor juga demikian. Hanya membaca syarat dan prosedur, rasanya tetap kurang. Dengan mengalaminya sendiri, semuanya menjadi terekam di memori. Pengalaman dilayani di CSO, diwawancarai dan difoto, akan bisa diceritakan dan menjadi bahan perbandingan. Ketika misalnya akan merumuskan layanan yang lebih prima. 

Soal biaya layanan juga demikian. Meski sebenarnya kita bisa mencari info di internet terkait berapa tarif yang kita bayar, tapi pengalaman langsung itu lebih membekas. Bahkan tanpa kita berniat menghafalkan. Pengetahuan tentang tarif yang dibayar langsung ke kas negara dan menjadi PNBP itu juga memicu sebuah pemikiran untuk tarif PNBP atas layanan di tempat lain. Ini barangkali yang disebut proses benchmarking. Apalagi di lingkungan pemerintahan. Belajar dari tempat lain adalah hal yang sudah semestinya dilakukan, manakala kita melihat proses atau sesuatu yang dilaksanakan telah menghasilkan layanan atau produk atau kinerja yang sangat bagus. 

Hanya saja, belajar ke tempat lain alias studi banding ini, jangan kemudian dijadikan alasan untuk sebuah kegiatan yang lebih kita menyebutnya sebagai jalan-jalan. Alternatif media daring menjadi pilihan yang lebih bijaksana. Inilah sejatinya yang dikehendaki saat ini, dimana teknologi sudah semakin canggih. Itu pula barangkali yang lebih relevan dengan kebijakan efisiensi. Kalau bisa daring dan itu lebih efisien dan efektif, mengapa mesti luring? Bagaimana sistem daring itu lebih efisiensi, saya kira sudah bukan masanya untuk memperdebatkan itu. 

Kenyataannya, saya sudah mengantongi paspor itu. Persis buku saku. Yang itu mengingatkan saya pada buku saku pramuka. Jaman dulu. Mungkin sekarang masih ada. Saya belum mengeceknya. Bagi saya, buku saku pramuka ini adalah semacam catatan atas pengetahuan atau kompetensi yang mesti dikuasai untuk bisa naik ke level berikutnya dalam kepramukaan. Kita diwajibkan menghadap senior yang akan mengetes kita atas item-item kemampuan yang tercantum dalam buku saku. Ketika kita berhasil dan lulus tes, maka senior itu akan membubuhkan paraf. 

Bagaimanapun saya telah mendapatkan pengalaman itu. Saya pernah menjadi yunior yang mesti menghadap para senior. Dan seiring waktu akhirnya saya menjadi senior yang kemudian mengetes para yunior dan memberikan paraf. Mungkin benar perumpamaan ini. Kehidupan itu ibarat lubang angin pada roda sepeda yang sedang berputar. Setelah berada dibawah, seiring roda berputar, lubang angin itu berubah menjadi diatas. Setelah diatas kembali lagi di bawah. Hanya saja, adakalanya ban sepeda itu berhenti. Sehingga lubang angin itu bisa jadi terus diatas, bisa jadi pula akan lama di bawah. Tergantung kapan roda itu akan kembali berputar. Dimana untuk menggerakan roda itu, dibutuhkan tenaga. 

Barangkali tenaga disini, bisa kita konversi menjadi modal. Alias kapital. Dalam kehidupan yang penuh persaingan, seseorang akan lebih unggul dan naik ke atas ketika memiliki beberapa jenis modal. Yang tentu perlu menyesuaikan dengan arena atau tempatnya. Ada modal sosial, modal budaya, modal ekonomi dan modal simbolik. Setidaknya itu pembagian yang dikatakan Pierre Bourdieu. Seseorang yang memiliki semua modal itu dan berada di arena yang tepat, secara teori, ia pasti akan lebih unggul. Dan akan berada di atas yang lain. 

Begitulah. Tidak saja hal itu menjadi bekal atau pengetahuan bagi kita untuk bagaimana memiliki kapital-kapital itu, tetapi itu juga semakin menguatkan bahwa kehidupan ini sejatinya adalah kompetisi. Dan dalam kompetisi, akan berlaku ungkapan: siapa yang kuat, dia yang menang. 

Namun, tak perlu berkecil hati, karena kita juga mendapati ungkapan ini. Orang yang kuat bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Pengembangan Organisasi