Karantungan AI

 -(Ditulis tanggal 2 Maret 2025)-


Lihat saja varian durian yang satu ini. Namanya: kerantungan. Ada yang mengeja: karantungan. Buahnya lebih kecil dibandingkan durian. Seukuran dua kepal tangan saya. Kulitnya juga berduri. Yang duri-durinya lebih rapat, dengan ukuran duri sedikit lebih panjang daripada durian. Warna kulit kerantungan lebih hijau. Setidaknya itu jenis kerantungan yang saya dapat tempo hari. Baru kali itu saya menemukan buah ini. Terhampar di lapak pedagang bersama kerabatnya, yaitu papakin dan durian. Rasanya manis. Enak. Saya suka. Meski agak kecewa dengan selaput buahnya yang tipis. Dari lima biji yang saya beli, rasanya sama. Mungkin karena mereka satu pohon.

Dengan temuan buah ini, berarti ada sekitar lima jenis varian durian yang sudah saya makan. Yang tiga saya tahu namanya, tapi yang dua saya lupa mencatatnya. Mungkin kalau tidak berada disini, saya tak pernah tahu ada buah seperti itu.  Ada pula buah hutan lainnya yang baru saya temukan disini. Bahkan ada satu jenis pisang disini, yang tak pernah saya lihat di kampung saya dulu. Artinya, betapa kaya keanekaragaman hayati kita. Yang itu perlu terus dijaga. Agar tidak punah. Meski sepertinya ada beberapa jenis buah yang sekarang sudah tidak saya temukan lagi.

Di kampung saya dulu, ada namanya buah mundu. Seingat saya warnanya kuning. Rasanya manis. Sekarang tak ada lagi buah itu di kampung saya. Pohonnya sudah ditebang atau mati, tanpa ada yang berpikir bagaimana menjaga agar tanaman itu tidak punah. Tentu, kita berharap ada orang yang punya dedikasi mengumpulkan dan melestarikan buah-buah itu. Termasuk tanaman dan tumbuhan lainnya.

Ini persis seperti beberapa jenis permainan yang saat ini sudah tidak dimainkan lagi. Dulu saya bermain sekongan, betengan, engkleng, dll. Sekali lagi semoga ada yang membukukan berbagai jenis permainan itu termasuk mencatat aturan permainannya. Beberapa jenis makanan juga begitu. Sudah jarang orang membuatnya sehingga sulit menemukan lagi. Seperti: botok gembrot, pelas, bongko. Padahal itu makanan asli warisan leluhur yang sangat sehat. Karena terbuat dari dedaunan dan kacang-kacangan yang dikukus.

Kenyataannya, ada yang tergilas oleh jaman. Tidak saja item-item yang saya sebutkan diatas, termasuk juga kosakata bahasa daerah. Ada kata-kata yang sudah lama tidak digunakan, sehingga ketika itu kembali terdengar menjadi terasa asing. Bisa jadi, lama-lama akan hilang. Pun dengan beberapa jenis pekerjaan. Yang dengan perkembangan teknologi, tak lagi dibutuhkan. Atau sudah tergantikan pelakunya. Jika selama ini dikerjakan oleh manusia, kini sudah tergantikan oleh mesin dan aplikasi. Kehadiran AI semakin menambah kekhawatiran ini. Anda sudah tahu soal itu. Baru-baru ini, sebuah bank terbesar di asia tenggara bakal melakukan PHK 4.000 karyawan. Sebagai dampak penggunaan teknologi AI.

Hanya saja, atas perkembangan AI itu belum direspon dengan serius. Di unit tertentu. Itu menurut pengamatan saya. Dengan berbagai macam aplikasi AI, sejauh ini tidak ada inisiatif dalam mendorong optimalisasinya untuk membantu pekerjaan. Apakah karena belum paham. Atau sebab takut akan mengurangi beban kerja sehingga berdampak pada citra. Barangkali ini yang menjadi pertimbangan. Tapi terus membiarkan tanpa membuat kebijakan yang merespon perkembangan AI ini juga memunculkan kondisi yang ambigu.

Saya membayangkan begini. Ada beberapa unit yang bertahan dengan cara lama dalam bekerja. Karena tiadanya arahan dan tidak adanya inisiatif. Artinya bekerja dengan kekuatan dan pemikirannya tanpa keterlibatan AI. Sementara itu, di unit lain sudah mulai menyadari dan berinisiatif menggunakan bantuan AI untuk meringankan beban tugas itu. Lantas apa yang terjadi? Barangkali unit yang masih bertahan dengan cara kerja lama akan merasakan beban tugas yang semakin banyak, sementara yang sudah menggunakan AI mereka merasa baik-baik saja. Karena semuanya bisa dengan cepat diselesaikan. Dan tak ada soal dengan jumlah SDM.

Begitulah. Dinamika yang terjadi saat ini. Yang menurut saya mesti segera direspon. Jangan sampai kita berada pada situasi dimana AI terus bergerak maju, kita masih berdiri termangu untuk memutuskan jalan yang akan ditempuh.

Bagaimanapun kalimat bijak dibawah ini bisa menjadi bahan renungan. "Keberhasilan tidak terletak pada kemampuan kita untuk menghindari perubahan, tetapi pada kemampuan kita untuk memanfaatkannya dengan bijak."


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Pengembangan Organisasi