Mandai bertanya

 -(Minggu, 9 Maret 2025)-

Rasanya makanan ini hanya ada disini. Namanya Mandai.

Semoga anda tahu buah cempedak. Alias tiwadak. Tampak mirip nangka. Tapi berbentuk lonjong. Seperti pepaya. Dengan ukuran yang bervariasi. Itu buah cempedak matang. Setidaknya cempedak memiliki tiga bagian. Kulit luar, kulit dalam, buah & isinya. Dan mandai itu terbuat dari kulit dalam cempedak.

Setelah kulit luar dikupas dan dipisahkan dari buahnya, kulit dalam cempedak direndam dalam air garam. Sehingga bisa awet sampai berbulan-bulan. Ini biasa dijual sebagai oleh-oleh. Yang dikemas dalam toples. Ada pula yang kemasan plastik. Tanpa direndam air garam pun sebenarnya bisa langsung dimasak. Ditumis atau digoreng.

Kulit yang sudah direndam air garam, bisa langsung digoreng. Mau yang kering atau setengah kering, tergantung selera. Rasanya? Enak. Gurih. Apalagi kalau dimakan bareng paliat. Nasi seperiuk bisa habis. Itu saya.

Pagi-pagi sarapan, nasinya masih panas, lauknya mandai sama ikan asin. Nyaman banar. Suatu hari seseorang bilang begitu, menceritakan pengalamannya makan mandai.

Selaput buah cempedak agak tipis. Rasanya manis. Lebih manis dari nangka. Aromanya sangat kuat. Pertama kali makan buah cempedak, saya merasakan percampuran rasa antara nangka dan durian. Tapi, setelah sering mencoba dan merasakan betul-betul, sebenarnya tidak persis begitu. Intinya: ia punya rasa yang khas.

Biji cempedak juga enak. Cukup direbus. Dikupas kulitnya, lalu dimakan. Dan kalau anda cari info di internet tentang manfaat biji cempedak, maka anda akan terbelalak. Sengaja agak hiperbola agar anda penasaran.

Buah cempedak beserta isinya juga bisa digoreng. Layaknya pisang goreng atau nangka goreng. Dengan dicampur tepung tentunya. Biji cempedak ternyata cepat matang, meski hanya digoreng.

Itu semua adalah cempedak yang sudah masak. Cempedak muda juga bisa disulap jadi masakan. Saya pernah menemukan masakan itu dan mencobanya. Enak juga. Saya lihat, cempedak muda itu dipanggang lebih dulu. Lalu dikupas kulit luarnya yang sudah gosong. Akan terlihat isi dalam cempedak yang berwarna putih. Lalu dipotong-potong dan disiram dengan kuah santan yang sudah dibumbui. Lalu, siap dimakan bersama nasi, ikan bakar atau ikan pepes serta sambal. Uenakknya bukan main. Entahlah. Nyaris semua masakan saya doyan.

Kenyataannya, hampir seluruh bagian cempedak ini bisa dimanfaatkan. Dikonsumsi manusia. Saya jadi berpikir. Siapakah dulu yang menciptakan mandai? Bagaimana ia berpikir membuat kulit cempedak menjadi mandai? Dorongan apa yang membuatnya berpikir begitu? Bagaimana ia tahu jika garam itu bisa mengawetkan kulit cempedak?

Hal yang sama kita juga bisa bertanya. Siapakah dulu yang menciptakan pecel, rawon, soto? Atau tidak terbatas pada makanan. Dengan pertanyaan yang mirip kita juga bertanya. Siapakah dulu yang menciptakan permainan dakon? Bagaimana ia berpikir membuat permainan itu?

Barangkali anda akan bertanya. Kepada siapa kita akan bertanya? Menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Saya sudah tahu. Internet adalah berkah di jaman sekarang. Ia sudah menyediakan semua jawaban atas segala pertanyaan. Apalagi dengan kehadiran AI. Apapun ia bisa jawab dengan cepat. Sangat cepat.

Karena itu ada yang bilang begini. Sekarang ini, bagi para guru dan dosen, bukan lagi masanya mengajari anak-anak untuk menjawab pertanyaan. Karena sudah ada AI. Tetapi bagaimana mengajarkan mereka membuat pertanyaan yang bagus. Dengan memotivasi anak-anak untuk terus belajar dan berlatih. Sehingga mereka akan pandai (terdengar: mandai) bertanya.

Begitulah. Atas pertanyaan-pertanyaan itu saya jadi teringat ucapan squidward dalam film spongebob. Ketika ia jengkel atas apa yang ia lihat atau sesuatu yang ia alami. Yang kalimatnya kira-kira begini: “Orang macam apa yang membuat permainan konyol seperti itu?”

Tentu pertanyaan ini bukan untuk ditujukan pada berbagai kuliner yang ada atau permainan-permainan masa kecil. Ini lebih cocok ditanyakan atas berita-berita belakangan ini.

“Orang macam apa yang menciptakan judol konyol seperti itu?”

“Orang macam apa yang dulu mencontohkan korupsi konyol seperti itu?”

Coba saja tanyakan ke AI.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Pengembangan Organisasi