Penggerak ekonomi

-(Sabtu, 22 Maret 2025)-

Seperti biasa saya di shaf pertama. Saya tengok ke belakang. Ternyata hanya sepertiga barisan. Artinya, jamaah pria sholat tarawih tinggal 1 baris plus 1/3 baris. Kemana orang-orang yang biasanya ikut tarawih? 

Kondisi ini biasanya menjadi bahan sindiran para penceramah. Dengan mengatakan jamaah tarawih semakin maju. Di awal ramadhan, masjid dan mushola penuh dengan jamaah tarawih. Lambat laun shaf jamaah itu terus berkurang. Alias maju kedepan, tepat di belakang imam. Hingga tersisa dua baris. Atau kadang malah tinggal satu baris. Ini yang kerap disayangkan para pendakwah itu. Bahwa disaat 10 malam terakhir, yang diyakini merupakan waktu turunnya lailatul qadr, justru jamaah semakin berkurang. 

Kondisi itu terus berulang setiap tahun. Masjid yang tadinya ramai jamaah, di akhir ramadhan mulai sepi. Yang nanti selepas lebaran, suasana masjid akan kembali normal. Seperti sebelum bulan puasa. Orang-orang sudah kembali pada kebiasaannya. 

Alih-alih kecewa dengan kondisi masjid di akhir ramadhan, mungkin lebih baik kita berbaik sangka. Saya membayangkan seperti ini.

Pertama, sebagai tradisi, setiap akhir ramadhan atau menjelang idul fitri, warga saling berbagi bingkisan. Berupa sembako atau kue lebaran. Saya membayangkan orang-orang itu sedang menyiapkan itu. Mereka akan membagi bingkisan. Kepada para tetangga dan sanak keluarga. Ini tentu hal yang menggembirakan. Karena saya kira berbagi rejeki merupakan ibadah yang barangkali lebih tinggi keutamaannya. Dibanding ibadah pribadi. Yang bukan wajib.

Kedua, karena minggu depan sudah libur anak sekolah, barangkali beberapa keluarga sudah mulai menyiapkan mudik ke kampung halaman. Ini tentu butuh persiapan yang lebih. Terutama, barang-barang yang harus dibawa. Termasuk oleh-oleh atau bingkisan lebaran. Yang akan dibagikan kepada keluarga di kampung. Ini saya kira juga hal yang sangat baik. Karena akan membahagiakan banyak orang. 

Ketiga, rupanya sudah mulai banyak yang datang dari jauh. Alias mudik. Karena jarang bertemu dan mumpung sudah berada di kampung halaman, mereka mengadakan acara bukber. Sekaligus reuni. Kangen-kangenan. Yang butuh waktu agak lama. Belum lagi foto-foto. Yang merupakan acara wajib. Di jaman ini. Untuk bahan medsos. Yang kemudian menyebabkan beberapa orang fomo. Dan tak mau kalah. Lalu ikut-ikutan membuat acara serupa. Bukber. Sekaligus reuni. Yang fotonya diposting di medsos. Dan membuat fomo orang lain. Yang orang itu lalu bikin bukber juga. Dan reuni. Dst. Apa yang terjadi? Sholat tarawih di masjid pun lewat. 

Dan benar, ketika pulang dari tarawih tadi, saya melewati sebuah rumah. Tampak acara bukber itu belum selesai.

Begitulah. Bagaimanapun kita mesti berbaik sangka. Mereka sedang menggerakkan ekonomi.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Pengembangan Organisasi