Ekonomi atensi
-(Senin, 5 Oktober 2026)-
Kadang saya berpikir, jangan-jangan ramainya sebuah isu dan kerasnya kritik terhadap sebuah program tidak seluruhnya lahir karena persoalan itu memang sedemikian besar. Jangan-jangan, sebagian keramaian itu juga dibentuk oleh cara kerja para konten kreator di YouTube dan media sosial.
Mereka membutuhkan penonton. Mereka membutuhkan engagement. Dan untuk mendapatkan keduanya, tentu saja mereka harus menyajikan sesuatu yang membuat orang berhenti menggulir layar, menonton sampai selesai, lalu ikut berkomentar dan membagikannya.
Di titik inilah persoalannya menjadi menarik. Setiap konten kreator, podcaster, atau pemilik kanal pada umumnya mengetahui siapa penontonnya. Mereka mengenali selera, kegelisahan, bahkan keyakinan audiensnya. Karena itu, topik yang dipilih dan cara membahasnya pun cenderung mengikuti apa yang dianggap menarik oleh kelompok penonton tersebut.
Akibatnya, satu persoalan yang sebenarnya sama dapat tampil sebagai dua persoalan yang sangat berbeda. Bukan karena faktanya selalu berbeda, tetapi karena ia dilihat melalui lensa yang berbeda.
Kita bisa melihat gejala semacam itu dalam perdebatan mengenai kasus ijazah. Kanal yang audiensnya sudah memiliki keyakinan tertentu akan membahas persoalan tersebut dari sudut pandang yang sesuai dengan keyakinan penontonnya. Kanal lain melakukan hal yang sama dari sisi sebaliknya. Masing-masing menghadirkan argumen, potongan informasi, narasi, dan bahkan tokoh yang dianggap mampu memperkuat pandangan kelompoknya.
Lalu algoritma bekerja seperti pengeras suara. Konten yang banyak ditonton akan semakin sering direkomendasikan. Orang yang menyukai satu jenis pandangan akan semakin sering disuguhi pandangan yang serupa. Lama-kelamaan, sesuatu yang semula hanya perbedaan pendapat dapat terlihat seperti pertarungan dua kelompok besar yang benar-benar berhadap-hadapan.
Padahal bisa jadi, yang terjadi tidak sesederhana itu. Ada masyarakat yang memang memiliki keyakinan kuat. Ada pula yang sebenarnya biasa saja, tetapi terus-menerus disuguhi konten dengan tema yang sama sampai akhirnya merasa bahwa persoalan tersebut jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.
Di sinilah saya melihat adanya persoalan yang lebih besar daripada sekadar benar atau salahnya sebuah konten. Kita sedang berhadapan dengan ekonomi atensi: perhatian manusia telah menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Semakin banyak perhatian yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula nilai sebuah kanal.
Karena itu, sebuah isu tidak hanya hidup karena substansinya. Ia juga dapat terus hidup karena ada ekosistem yang mendapatkan keuntungan dari membuat isu tersebut tetap ramai.
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa semua kritik dibuat-buat oleh konten kreator. Kritik yang serius tetap diperlukan, dan persoalan yang benar-benar bermasalah tidak menjadi benar hanya karena dibahas di media sosial. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa ketika sebuah isu masuk ke dalam industri konten, logikanya bisa berubah. Persoalan publik dapat menjadi bahan baku untuk memproduksi perhatian.
Kalau demikian, ketika pemerintah ingin meredakan ketegangan dalam masyarakat, mungkin persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan memberikan klarifikasi atas substansi isu. Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana ruang digital dikelola agar tidak berubah menjadi mesin yang terus-menerus memperbesar konflik.
Namun pengaturan terhadap konten kreator tentu bukan perkara sederhana. Ia menyentuh wilayah kebebasan berekspresi, hak masyarakat memperoleh informasi, dan potensi penyalahgunaan kewenangan. Karena itu, jika memang diperlukan, pengaturannya harus diarahkan pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berbasis aturan yang jelas—bukan sekadar membungkam suara yang tidak disukai.
Sebab mungkin persoalan kita hari ini bukan hanya terlalu banyak orang yang berbicara. Bisa jadi, kita hidup dalam sebuah sistem yang memberi insentif kepada siapa pun untuk membuat kita terus berbicara, terus marah, dan terus menonton.