Sebuah keisengan
-(Kamis, 8 Oktober 2026)-
Bagaimana kalau sebenarnya tuntutan kepada lembaga tinggi itu berawal dari sebuah keisengan? Dari sesuatu yang pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai perkara serius, tetapi kemudian berkembang jauh melampaui dugaan orang yang memulainya.
Bisa jadi, ia sebenarnya hanya berpura-pura mempermasalahkan soal ijazah itu. Sebagai seorang intelektual, ia tentu memahami bagaimana sistem pendidikan di sejumlah negara bekerja. Ia juga mestinya memahami bahwa orang yang dipersoalkan telah memiliki gelar sarjana. Jadi, barangkali persoalannya bukan pada ketidaktahuan.
Justru karena memahami hukum, ia tahu bahwa hukum memiliki bahasa sendiri. Ada rumusan, definisi, frasa, dan celah yang kadang memungkinkan sebuah persoalan dipersoalkan dari sudut yang berbeda. Dan celah semacam itu bisa saja digunakan untuk bermain-main.
Masalahnya, permainan seperti itu kadang memiliki konsekuensi yang tidak lagi bisa dikendalikan oleh orang yang memulainya.
Ketika lembaga tinggi negara menanggapinya dengan serius, barangkali ia sendiri terkejut. Sesuatu yang mungkin semula hanya dilempar sebagai persoalan hukum kemudian memperoleh panggung yang jauh lebih besar. Orang-orang ikut masuk ke dalamnya. Potongan-potongan logika hukum beredar, diperdebatkan, dibela, bahkan dipercaya sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan.
Lalu terjadilah kehebohan berhari-hari.
Tenaga, perhatian, waktu, bahkan emosi publik tersedot ke dalam satu persoalan yang terus membesar karena masing-masing pihak merasa memiliki alasan untuk terus membicarakannya. Sementara itu, ada begitu banyak persoalan lain yang jauh lebih dekat dengan kepentingan masyarakat dan jauh lebih membutuhkan perhatian.
Di sinilah saya kira ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan: ketika bahasa hukum mengalahkan esensi sebuah ketentuan.
Hukum memang membutuhkan kepastian melalui rumusan. Tetapi hukum tidak pernah hanya terdiri dari kata-kata. Di balik setiap ketentuan selalu ada tujuan, konteks, dan filosofi yang hendak dicapai. Ketika kita hanya sibuk membedah kata demi kata untuk mencari celah, kita bisa saja kehilangan alasan mengapa ketentuan itu dibuat sejak awal.
Pada titik tertentu, kita bukan lagi sedang mencari keadilan atau kebenaran. Kita hanya sedang memenangkan permainan tafsir.
Dan mungkin yang lebih ironis, sebagian dari kita ikut masuk ke dalam permainan itu dengan sangat serius. Kita menganggap sebuah keisengan sebagai perkara besar, lalu menghabiskan begitu banyak energi untuk membuktikan bahwa permainan tersebut memang layak dimainkan.
Padahal bisa jadi, sejak awal, memang tidak ada permainan yang sedemikian serius itu.
Yang serius justru akibatnya.