Tembok algoritma
-(Sabtu, 3 Oktober 2026)-
Nampaknya pemerintah mulai menyadari bahwa tantangan komunikasi dengan masyarakat hari ini tidak lagi sesederhana soal seberapa sering informasi disampaikan atau seberapa menarik pesan dikemas. Ada persoalan yang bekerja lebih dalam: algoritma media sosial telah ikut menentukan apa yang dilihat, dibaca, dan pada akhirnya dipercaya oleh masyarakat.
Pemerintah bisa saja membuat konferensi pers, menyebarkan siaran pers, memasang iklan layanan masyarakat, atau memenuhi media dengan berbagai informasi. Namun, semua itu belum tentu sampai kepada publik yang dituju. Informasi tersebut harus lebih dulu melewati sebuah gerbang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah: algoritma.
Algoritma mempelajari kebiasaan kita. Ia tahu video seperti apa yang membuat kita berhenti menggulir, berita apa yang membuat kita membaca lebih lama, dan pendapat seperti apa yang membuat kita bereaksi. Dari sana, algoritma menyusun semacam ruang informasi personal. Dua orang yang duduk berdampingan sambil memegang ponsel yang sama-sama terhubung ke internet bisa melihat dunia yang sangat berbeda.
Di titik inilah komunikasi pemerintah menghadapi persoalan baru. Bukan semata-mata bagaimana membuat pesan yang baik, tetapi bagaimana pesan itu bisa menembus ruang informasi yang telah dipersonalisasi oleh algoritma.
Karena itu, ketika muncul gagasan agar pemerintah memiliki kemampuan untuk mengendalikan atau setidaknya memengaruhi cara kerja algoritma, narasinya tentu dapat diarahkan pada tujuan yang baik: melawan disinformasi, menjaga ruang publik, mencegah manipulasi, dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
Namun, ada persoalan lain yang menurut saya justru lebih mendasar.
Kita sering lupa bahwa algoritma tidak hanya bekerja di luar diri kita. Ia bekerja bersama kebiasaan kita sendiri. Apa yang kita sukai, apa yang kita bagikan, apa yang kita komentari, bahkan berapa lama kita berhenti pada sebuah video, semuanya menjadi bahan untuk menentukan apa yang akan disodorkan berikutnya.
Akibatnya, seseorang bisa hidup berhari-hari dalam ruang informasi yang terasa begitu meyakinkan. Ia melihat banyak orang mengatakan hal yang sama, membaca berita dengan sudut pandang yang serupa, dan menyaksikan video yang memperkuat keyakinannya. Lama-kelamaan muncul kesan bahwa itulah kenyataan yang sedang terjadi.
Padahal belum tentu.
Bisa jadi itu memang bagian dari realitas. Tetapi bisa juga hanya sebagian kecil realitas yang terus-menerus dipilihkan oleh algoritma karena dianggap paling sesuai dengan perilaku kita. Yang lebih berbahaya, kita kemudian mengira banyaknya konten yang muncul di layar sebagai bukti bahwa pendapat atau peristiwa tersebut memang dominan di masyarakat.
Di sinilah saya kira persoalan sebenarnya berada. Kita tidak cukup hanya menuntut algoritma agar lebih sehat. Kita juga perlu memiliki kesadaran bahwa layar di tangan kita bukan jendela yang sepenuhnya terbuka terhadap dunia. Ia adalah jendela yang kacanya telah disaring oleh sistem tertentu.
Karena itu, sebagai orang yang ingin tetap waras di tengah derasnya informasi, saya merasa perlu membiasakan satu pertanyaan sederhana setiap kali memperoleh informasi dari media sosial: benarkah ini realitas, atau sekadar realitas yang dipilihkan untuk saya?
Pertanyaan itu mungkin terlihat kecil. Tetapi ia memberi jarak antara informasi dan keyakinan. Dari jarak itulah muncul keberanian untuk mencari sumber lain, membaca sudut pandang yang berbeda, memeriksa konteks, dan menyadari bahwa apa yang memenuhi layar ponsel belum tentu memenuhi kehidupan nyata.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era algoritma mungkin bukan bagaimana membuat semua orang melihat informasi yang sama. Yang lebih penting adalah memastikan manusia tetap memiliki kemampuan untuk keluar dari ruang informasi yang telah dibuatkan untuknya.