Jalan ketenteraman
-(Rabu, 14 Oktober 2026)-
Pagi itu, saya membaca terjemahan Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28. Ada satu pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Manusia menghabiskan banyak waktu untuk mencari ketenteraman. Kita bekerja keras untuk memperoleh penghasilan lebih baik, mengejar jabatan, membeli barang yang diinginkan, atau berharap mendapat pengakuan dari orang lain. Semua itu wajar. Masalahnya, kebahagiaan yang datang setelah satu keinginan terpenuhi sering kali tidak bertahan lama. Setelah terbiasa, kita mulai menginginkan hal lain. Begitu seterusnya.
Tanpa sadar, ketenteraman seolah-olah selalu berada di tempat yang belum kita capai.
Kebiasaan itu semakin kuat ketika kehidupan orang lain hadir setiap saat melalui media sosial. Kita melihat pencapaian, perjalanan, rumah, penampilan, dan kebahagiaan yang mereka tampilkan. Lalu, kita membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Apa yang sudah dimiliki terasa kurang, sedangkan apa yang belum dicapai menjadi sumber kegelisahan.
Kita pun terus mencari sesuatu yang dianggap mampu membuat hidup lebih menyenangkan. Padahal, belum tentu yang kita butuhkan adalah tambahan pencapaian. Bisa jadi, yang kita perlukan justru kemampuan untuk berdamai dengan kehidupan yang sedang dijalani.
Di sinilah pesan surat Ar-Ra’d ayat 28 menemukan relevansinya. Al-Qur’an telah menunjukkan jalan menuju ketenteraman melalui zikir, mengingat Allah. Ini bukan ajakan untuk berhenti bekerja, meninggalkan cita-cita, atau menerima keadaan tanpa usaha. Zikir menempatkan semua ikhtiar itu dalam kesadaran bahwa hidup tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang berhasil kita miliki dan apa yang diakui orang lain.
Mengingat Allah juga membantu kita melihat kembali hal-hal yang kerap terlewat: nikmat yang sudah ada, batas kemampuan manusia, dan kenyataan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi agar hidup terasa cukup.
Tentu, kecemasan manusia memiliki banyak sebab. Ada persoalan yang membutuhkan pertolongan orang lain maupun bantuan profesional. Namun, bagi orang yang beriman, petunjuk Al-Qur’an menyediakan pegangan yang layak untuk kembali direnungkan.
Pertanyaannya, mengapa kita begitu sering mencari ketenteraman ke berbagai tempat, sementara jalan yang ditunjukkan Tuhan sudah tersedia? Mungkin kita bukan kekurangan petunjuk. Kita hanya terlalu sibuk mengejar apa yang kita anggap membahagiakan, hingga lupa menengok kembali petunjuk itu.
Jangan sampai pencarian kita begitu jauh, sementara jalan pulang sebenarnya sudah kita ketahui.