Beda generasi

-(Minggu, 11 Oktober 2026)-

Ada hal yang kadang sulit dipahami ketika kita berhadapan dengan generasi yang berbeda. Bagi generasi senior, membaca komentar atau pendapat generasi yang lebih muda terkadang terasa janggal. Kita kemudian mencoba membandingkannya dengan pengalaman yang pernah kita jalani. Dalam ingatan kita, hal semacam itu dulu tidak pernah menjadi persoalan.

Lalu muncul pertanyaan: mengapa sesuatu yang bagi generasi kita terasa biasa saja, sekarang justru dianggap sebagai masalah oleh generasi setelah kita?

Mungkin di situlah letak apa yang sering disebut sebagai gap generasi. Bukan semata-mata karena perbedaan usia, tetapi karena setiap generasi tumbuh dengan pengalaman, lingkungan sosial, dan ukuran kewajaran yang berbeda.

Apa yang dianggap wajar oleh satu generasi belum tentu memiliki makna yang sama bagi generasi lainnya.

Saya kira perbedaan itu salah satunya terlihat dari cara memandang pekerjaan. Bagi generasi sebelumnya, pekerjaan sering kali ditempatkan sebagai bagian dari kewajiban yang harus diselesaikan. Jika ada tambahan tugas, selama masih dianggap sebagai tanggung jawab pekerjaan dan ada kompensasi yang menyertainya, persoalan itu mungkin tidak terlalu dipikirkan.

Waktu santai atau waktu berlibur pun bukan sesuatu yang selalu ditempatkan sebagai wilayah yang harus benar-benar steril dari pekerjaan. Jika ada tugas yang harus diselesaikan, ya dikerjakan. Mungkin menggerutu sedikit, tetapi setelah itu selesai.

Generasi yang lebih muda tampaknya memiliki cara pandang yang berbeda. Ketika waktu pribadi, waktu istirahat, atau waktu berlibur sudah ditempatkan sebagai bagian penting dari kehidupan, gangguan terhadap ruang itu dapat dipersepsikan secara berbeda. Pekerjaan yang masuk pada waktu yang dianggap sebagai waktu pribadi bukan lagi sekadar tambahan tugas, tetapi bisa dipandang sebagai gangguan terhadap batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Di sinilah dua generasi dapat melihat peristiwa yang sama dengan kacamata yang berbeda.

Yang satu mungkin berpikir, "Ini kan bagian dari pekerjaan. Toh ada tugas dan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan." Sementara yang lain mungkin berpikir, "Bukankah saya juga berhak memiliki waktu yang benar-benar menjadi milik saya?"

Tidak ada yang otomatis menjadi benar hanya karena berasal dari generasi tertentu. Persoalannya adalah adanya perubahan ukuran tentang apa yang dianggap wajar.

Perbedaan itu kemudian semakin menarik ketika persoalan di tempat kerja dibawa ke media sosial. Beberapa kejadian yang dahulu mungkin hanya menjadi bahan pembicaraan di ruang kantor, kini bisa berubah menjadi sebuah unggahan. Ada generasi muda yang memilih menceritakan pengalamannya kepada publik, lengkap dengan kekecewaan dan keresahannya.

Bagi generasi senior, tindakan semacam itu sering kali justru terasa lebih aneh daripada persoalan yang diceritakan. "Dulu kalau mengalami hal seperti itu, ya dijalani saja. Tidak perlu diumbar di media sosial."

Tetapi mungkin memang di situlah perbedaan generasi itu bekerja. Kita sering mengukur generasi lain dengan pengalaman generasi kita sendiri. Padahal mereka hidup dalam lingkungan sosial yang berbeda, dengan batas kewajaran yang juga ikut bergeser.

Barangkali yang perlu dipahami bukan siapa yang lebih kuat atau siapa yang lebih manja. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa dunia kerja tidak berhenti pada perubahan teknologi dan cara bekerja. Ia juga berubah melalui perubahan cara manusia memaknai pekerjaan, waktu, tanggung jawab, dan kehidupan pribadi.

Dan perbedaan itulah yang sering kali membuat sesuatu yang bagi kita terasa biasa, bagi generasi lain terasa tidak biasa sama sekali.

Populer

Hidup menunggu

Kreativitas sagu

Ijazah SMA

Ingatan Belanja

Mengekor influencer

Mimbar sosial

Kemajuan timpang

Kebutuhan dasar

Musang King

Malam terbelah