Sok penting

-(Jumat, 9 Oktober 2026)-

“Ga usah sok penting di tempat kerja.”

Begitu bunyi ungkapan yang beberapa kali mampir di timeline saya. Kalimatnya pendek, tetapi entah mengapa cukup mengusik pikiran. Ada sesuatu yang terasa pahit di dalamnya, seolah-olah seseorang sedang mengingatkan kita agar jangan terlalu percaya bahwa keberadaan kita sedemikian penting bagi sebuah organisasi.

Kalau boleh menambahkan, mungkin ungkapan itu bisa dibuat sedikit lebih panjang: bahkan ketika kita sudah berprestasi, jangan terlalu berharap akan selalu ada reward. Sebab organisasi, pada dasarnya, akan lebih dulu memikirkan kepentingannya sendiri. Kalaupun kemudian organisasi juga memikirkan kepentingan personelnya, tentu itu bagian dari kepentingan organisasi untuk menjaga agar pekerjaan tetap berjalan.

Mungkin terdengar sinis. Tetapi barangkali ungkapan semacam itu lahir dari pengalaman. Ada orang yang sudah bekerja keras, memberikan kontribusi, mencapai target, bahkan berkali-kali menunjukkan prestasi, tetapi kemudian mendapati bahwa semua itu tidak serta-merta membuat dirinya memperoleh apa yang diharapkan. Ada keputusan organisasi yang tetap berjalan menurut pertimbangan yang sama sekali berbeda dari apa yang ia rasakan sebagai bentuk pengorbanan dan kontribusinya.

Dari situlah kekecewaan bisa tumbuh. Mula-mula kecil, lalu menumpuk menjadi perasaan bahwa dirinya tidak dihargai. Sampai akhirnya muncul kesimpulan: jangan lagi merasa terlalu penting di tempat kerja.

Saya justru cenderung setuju dengan bagian itu.

Bukan karena kontribusi kita tidak penting. Bukan pula berarti prestasi tidak layak dihargai. Tetapi ada baiknya kita membedakan antara berkontribusi dan merasa tak tergantikan. Dua hal itu tidak sama.

Kita boleh bekerja sebaik mungkin. Boleh mengejar prestasi, memberikan gagasan, menyelesaikan pekerjaan yang sulit, dan menjadi orang yang bisa diandalkan. Tetapi semua itu seharusnya tidak membuat kita membangun keyakinan bahwa organisasi akan kesulitan tanpa kita.

Apalagi sampai merasa kepergian kita akan membuat semuanya berantakan.

Sesungguhnya, itu sering kali hanya perasaan kita sendiri.

Organisasi mempunyai cara yang berbeda untuk bertahan. Ketika seseorang pergi, pekerjaan yang ditinggalkan akan dibagi, posisi akan diisi, orang baru akan belajar, dan perlahan-lahan ritme kerja akan kembali terbentuk. Mungkin pada awalnya ada kekosongan. Mungkin ada pekerjaan yang tersendat. Tetapi waktu biasanya menemukan penggantinya.

Pada akhirnya, hampir semua orang bisa tergantikan.

Kesadaran itu bukan untuk merendahkan diri, melainkan untuk menempatkan diri secara lebih sehat. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh bukan karena organisasi tidak bisa berjalan tanpa kita, tetapi karena selama masih berada di sana, memang itulah tanggung jawab kita.

Dan ketika suatu hari kita harus pergi, barangkali kita tidak perlu terlalu banyak bertanya apakah tempat itu akan kehilangan kita.

Sebab setelah kita pergi, kehidupan organisasi akan terus berjalan.

Seperti sebelumnya.

Populer

Hidup menunggu

Kompleksitas perilaku

Kemajuan timpang

Birokrasi bernapas

Ijazah SMA

Optimisme sunyi

Dokter vs sendok

Ritual administrasi

Riak program

Bus bandara