Batas kepantasan

-(Selasa, 6 Oktober 2026)-

Perdebatan di media sosial rupanya memang tidak pernah kehabisan bahan. Bukan hanya soal politik, kebijakan, atau perilaku pejabat publik. Bahkan urusan dalil agama pun bisa menjadi arena perdebatan yang panjang. Satu pendapat berhadapan dengan pendapat lain, masing-masing membawa dalil, rujukan, dan keyakinannya sendiri.

Belakangan, yang kembali ramai adalah soal musik. Sebenarnya ini bukan persoalan baru. Sejak dulu, hukum musik telah menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang membolehkan dengan batasan tertentu, dan ada pula yang membedakan antara jenis musik, lirik, suasana, serta konteks penggunaannya. Sampai hari ini pun, perbedaan itu belum menemukan satu kesepakatan tunggal.

Perdebatan lama tersebut kemudian seperti mendapat bahan bakar baru setelah beredar potongan video seorang pendakwah yang terlihat sedang menyaksikan konser dan menikmati sebuah lagu.

Bagi sebagian orang yang selama ini mengenalnya sebagai pendakwah dan hidup dalam lingkungan religius, pemandangan itu mungkin terasa janggal. Bukan semata-mata karena konsernya, tetapi karena label “pendakwah” telah melekat begitu kuat pada dirinya. Dari sinilah persoalan kemudian melebar menjadi perdebatan tentang hukum musik.

Nama-nama ulama yang membolehkan musik kembali dibawa ke dalam percakapan. Begitu pula ulama yang mengharamkannya. Masing-masing pihak merasa memiliki landasan yang kuat dan, seperti yang sering terjadi di media sosial, perlahan-lahan perbedaan pendapat berubah menjadi dorongan agar orang lain mengikuti pendapatnya.

Padahal, kalau dicermati lebih jauh, mungkin persoalannya bukan lagi soal hukum musik.

Bisa jadi yang sebenarnya dipersoalkan adalah kepantasan seorang pendakwah menonton konser.

Seolah-olah ada suara yang berkata: “Seorang pendakwah tidak seharusnya menonton konser. Ia harus memberi contoh kepada orang lain.”

Di titik inilah saya justru tertarik berhenti sejenak. Mengapa seorang pendakwah diperlakukan berbeda dari orang lain? Mengapa sesuatu yang dianggap boleh dilakukan oleh orang biasa tiba-tiba menjadi tidak pantas ketika dilakukan oleh seorang pendakwah?

Apa sebenarnya dasar dari pembatasan itu?

Apakah seseorang yang memilih profesi atau peran sebagai pendakwah otomatis kehilangan ruang untuk menikmati sesuatu yang oleh sebagian ulama dinilai boleh? Apakah status sebagai pendakwah menjadikannya harus selalu berada dalam standar perilaku yang lebih tinggi daripada orang lain? Jika iya, siapa yang menetapkan standar itu, dan sampai sejauh mana batasnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena kita sering kali mencampuradukkan antara hukum agama, ekspektasi sosial, dan citra yang kita bangun sendiri terhadap seseorang.

Seorang pendakwah memang memiliki tanggung jawab moral ketika menyampaikan ajaran agama. Tetapi menjadi pendakwah tidak serta-merta membuat seluruh kehidupannya menjadi milik publik. Ia tetap manusia yang memiliki ruang pribadi, selera, kegemaran, dan pilihan hidup. Selama sesuatu yang dilakukannya tidak bertentangan dengan hukum yang diyakininya, apakah setiap pilihannya harus dipaksa tunduk pada ekspektasi semua orang?

Di sinilah media sosial sering membuat persoalan sederhana menjadi rumit. Sebuah potongan video beberapa detik dapat dilepaskan dari konteks, kemudian ditempelkan pada identitas seseorang. Setelah itu, orang ramai-ramai mengadili bukan hanya tindakannya, tetapi juga kredibilitas, keilmuan, bahkan pendapat-pendapat lain yang pernah disampaikannya.

Padahal perbedaan pendapat dalam agama bukan barang baru. Ia telah ada jauh sebelum media sosial ditemukan. Yang baru adalah cara perbedaan itu dipertontonkan: lebih cepat, lebih ramai, dan sering kali lebih emosional.

Mungkin karena itu, tidak semua kegaduhan di media sosial layak kita masuki. Ada perdebatan yang memang penting untuk dibicarakan. Tetapi ada pula perdebatan yang hidup karena terus diberi perhatian.

Dan ketika persoalan seperti ini kemudian masuk ke dalam konten, podcast, atau kanal media sosial, kita juga perlu menyadari satu hal sederhana: perhatian adalah bahan bakar utama ekonomi konten. Semakin kontroversial sebuah isu, semakin besar peluang orang berhenti menonton, berkomentar, membagikan, dan memperdebatkannya.

Akhirnya, yang semula hanya sebuah potongan video berubah menjadi perdebatan panjang tentang agama, ulama, musik, dan kepantasan.

Mungkin justru di situlah kita perlu belajar menahan diri. Tidak setiap kegaduhan membutuhkan jawaban. Ada kalanya sebuah perdebatan menjadi besar bukan karena persoalannya besar, tetapi karena terlalu banyak orang bersedia membuatnya semakin besar.

Populer

Membaca pikiran

Kompleksitas perilaku

Birokrasi bernapas

Berani bertanya

Kesenangan musiman

Makar kuasa

Manusia berlomba

Andai Semua Das Des Sat Set

Bulan madu

Logika rezeki