Logika Thanos

-(Rabu, 28 Oktober 2026)-

Dibandingkan dengan mereka yang jarang bepergian, mungkin saya termasuk orang yang cukup sering melakukan perjalanan. Dalam perjalanan itu, saya bertemu dengan banyak orang, melihat kerumunan manusia di berbagai tempat, dan menyaksikan betapa beragamnya kehidupan di berbagai daerah dan negara. Tanpa sadar, semua pemandangan itu membawa saya pada satu kesimpulan sederhana: jumlah manusia di bumi ini luar biasa banyak.

Setiap manusia tentu membutuhkan energi untuk bertahan hidup. Makanan, air, listrik, bahan bakar, dan berbagai sumber daya lainnya menjadi kebutuhan yang terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Sementara itu, sumber daya yang tersedia tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama. Dari sini, pikiran saya mulai merambah pada kemungkinan terjadinya perebutan sumber daya. Bukan semata-mata karena manusia semakin banyak, melainkan juga karena setiap orang memiliki kebutuhan dan kepentingan yang harus dipenuhi.

Pada titik itulah, entah mengapa, saya teringat film Avengers: Infinity War dan tokoh Thanos. Ia memiliki keyakinan bahwa kehidupan di alam semesta akan lebih seimbang jika separuh makhluk hidup dimusnahkan. Dengan mengumpulkan batu-batu Infinity, ia menjalankan rencananya tanpa membedakan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus lenyap. Baginya, tindakan mengerikan itu justru merupakan jalan untuk menyelamatkan kehidupan.

Tentu saja, Thanos adalah tokoh fiksi dengan cara berpikir yang ekstrem. Namun, gagasannya menyisakan pertanyaan yang tidak sepenuhnya mudah diabaikan: bagaimana jika jumlah makhluk hidup terus bertambah, sementara sumber daya yang menopang kehidupan semakin terbatas? Apakah keseimbangan kehidupan memang harus dibayar dengan berkurangnya jumlah manusia?

Pertanyaan itu tentu tidak serta-merta membenarkan gagasan Thanos. Masih ada banyak cara untuk mengatasi keterbatasan sumber daya, mulai dari penggunaan teknologi, pengelolaan lingkungan, hingga pemerataan akses terhadap kebutuhan dasar. Persoalannya mungkin bukan sekadar berapa banyak manusia yang hidup di bumi, tetapi bagaimana manusia mengelola sumber daya dan membagi kesempatan untuk hidup layak.

Namun, pikiran saya telanjur berjalan lebih jauh, memasuki wilayah yang bahkan saya sendiri ragukan.

Saya kemudian teringat pada pandemi Covid-19 yang beberapa tahun lalu melanda dunia. Jutaan orang meninggal, kehidupan berubah, dan berbagai negara mengalami guncangan yang luar biasa. Dalam berbagai percakapan di ruang digital, pernah beredar dugaan bahwa pandemi tersebut sengaja diciptakan untuk mengurangi jumlah penduduk dunia. Saya tidak mengetahui dasar yang dapat membenarkan dugaan itu. Sejauh yang dapat saya pahami, tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 merupakan bagian dari rencana sistematis untuk mengurangi populasi manusia.

Meski demikian, pikiran liar saya mulai menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Bagaimana dengan perang yang terus terjadi di berbagai belahan dunia? Bagaimana dengan bencana yang merenggut begitu banyak nyawa? Jangan-jangan, begitu pula dugaan saya yang semakin tidak masuk akal, semua itu merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi populasi manusia.

Tentu saja, hubungan semacam itu tidak memiliki dasar yang cukup untuk dianggap sebagai penjelasan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Perang memiliki sejarah, kepentingan, dan pelaku yang nyata. Bencana pun memiliki penyebab yang perlu ditelusuri melalui bukti dan pengetahuan ilmiah. Menghubungkan semuanya dengan sebuah rencana rahasia hanya karena akibatnya sama-sama berupa kematian adalah lompatan logika yang berbahaya.

Akan tetapi, pikiran manusia kadang memang bekerja dengan cara yang aneh. Ia mengambil beberapa peristiwa yang berbeda, mencari benang merah di antaranya, lalu menyusun sebuah cerita yang terasa masuk akal. Padahal, sesuatu yang terasa masuk akal belum tentu benar.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa persoalan yang sebenarnya bukan lagi tentang Thanos atau jumlah penduduk bumi, melainkan tentang betapa mudahnya pikiran manusia tergoda oleh penjelasan sederhana untuk persoalan yang rumit.

Anehnya, saya bahkan sempat berpikir bahwa cara Thanos menghilangkan separuh makhluk hidup itu tampak lebih manusiawi dibandingkan dengan kematian akibat perang, wabah, atau bencana. Mereka yang menjadi korban seketika lenyap menjadi debu, tanpa harus mengalami sakit berkepanjangan atau penderitaan fisik. Seolah-olah kematian dapat berlangsung tanpa rasa sakit dan tanpa proses panjang yang menyiksa.

Namun, bukankah cara berpikir semacam itu justru mengabaikan sesuatu yang paling mendasar dari kehidupan manusia?

Kematian bukan sekadar perkara bagaimana seseorang meninggal. Ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, ada anak yang tumbuh tanpa orang tua, ada pasangan yang harus menjalani sisa hidup sendirian, dan ada begitu banyak rencana yang mendadak berhenti. Bahkan jika kematian berlangsung dalam sekejap, kesedihan mereka yang ditinggalkan tidak ikut menghilang menjadi debu.

Lagi pula, gagasan Thanos mengandung persoalan yang jauh lebih mendasar. Siapa yang berhak menentukan bahwa separuh kehidupan harus dihilangkan? Mengapa seseorang boleh mengambil keputusan sebesar itu atas nama keseimbangan, tanpa persetujuan mereka yang menjadi korbannya? Di balik alasan yang tampak rasional, terdapat kesewenang-wenangan yang meniadakan nilai setiap kehidupan.

Saya tahu, sampai di sini, pikiran saya mulai terdengar semakin gelap. Bahkan, mungkin sudah mendekati cara berpikir yang nir empati. Namun, justru karena itulah saya merasa perlu mengakuinya sebagai pikiran liar, bukan sebagai kebenaran yang harus dipercayai.

Belakangan, pikiran itu bahkan merambah pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta asap yang menyelimuti sejumlah daerah. Jangan-jangan, begitu imajinasi saya yang semakin tidak terkendali, itu juga ulah Thanos. Hanya saja, karena tidak berhasil menemukan seluruh batu Infinity, kali ini ia menggunakan asap untuk menjalankan misinya. Sebuah cara yang jauh lebih kejam karena manusia tidak langsung lenyap, tetapi harus menghirup udara yang tercemar dan menanggung berbagai dampaknya.

Tentu saja, saya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Thanos berada di balik karhutla. Ia hanyalah tokoh film, sedangkan kebakaran hutan dan lahan memiliki penyebab nyata yang harus diselidiki dan ditangani. Justru, jika ada sesuatu yang patut dicurigai, itu bukan keberadaan Thanos, melainkan kemungkinan bahwa kelalaian manusia, keserakahan, atau lemahnya pengelolaan lingkungan membuat bencana terus berulang.

Pada akhirnya, mungkin ada satu hal yang bisa saya petik dari perjalanan pikiran ini. Kekhawatiran tentang bertambahnya jumlah manusia dan terbatasnya sumber daya memang layak dibicarakan. Namun, ketika upaya mencari keseimbangan mulai membayangkan kematian massal sebagai jalan keluar, ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memandang kehidupan.

Thanos mungkin merasa sedang menyelamatkan alam semesta. Tetapi, jika keseimbangan hanya bisa dicapai dengan menghilangkan separuh kehidupan, jangan-jangan yang perlu diperbaiki bukan jumlah penghuninya, melainkan cara berpikir yang menganggap sebagian kehidupan boleh dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar.

Untungnya, Thanos hanya tokoh fiksi. Yang perlu kita waspadai justru ketika logikanya mulai terasa masuk akal di kepala manusia sungguhan.

Populer

Kredit macet

Jejak ombak

Rebahaner

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Teknokratis

Optimisme

Ramadhan Istimewa

Grafik langkah

Sangu halal bihalal

Ujian