Diluar kendali

-(Sabtu, 17 Oktober 2026)-

Bagaimanapun, rasa kecewa itu nyata. Dan dalam keadaan tertentu, kekecewaan dapat tumbuh menjadi rasa dendam. Salah satu pemicunya adalah ketika seseorang merasa dirugikan oleh sebuah keputusan atau aturan yang menurutnya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Kita mungkin merasa tidak melakukan kesalahan. Bahkan, kita tahu betul bahwa bagian yang menjadi tanggung jawab kita telah dikerjakan dengan baik. Kita telah memberikan kontribusi secara maksimal. Tetapi kemudian muncul sebuah aturan yang menentukan bahwa ada komponen lain yang ikut memengaruhi penilaian atau keputusan. Pada titik itulah persoalan mulai terasa berbeda.

Sebab, meskipun kita sudah melakukan bagian kita dengan baik, hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh sesuatu yang berada di luar kendali kita. Kita akhirnya ikut menanggung akibat dari kinerja yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab kita.

Di sinilah rasa tidak adil mulai muncul.

Bayangkan seseorang sudah berlari sekuat yang ia mampu. Jarak yang menjadi tanggung jawabnya telah ditempuh dengan baik. Tetapi karena catatan keseluruhan kelompok tidak mencapai target, catatan orang itu ikut dikurangi. Ia diminta menerima hasil yang lebih rendah, bukan karena ia gagal menjalankan bagiannya, tetapi karena bagian orang lain tidak mencapai hasil yang sama.

Memang, dalam sebuah organisasi, kinerja bersama penting. Tidak mungkin seluruh pekerjaan dipisahkan sepenuhnya dari hasil agregat. Tetapi persoalannya adalah bagaimana memperlakukan kontribusi individual di dalam sebuah hasil bersama.

Setiap orang memiliki bagian masing-masing. Tidak semua orang memiliki kendali atas seluruh proses. Karena itu, ketika bagian yang menjadi tanggung jawab seseorang sudah terbukti dilakukan secara maksimal, rasanya tidak tepat jika ia ikut "dihukum" karena kinerja agregat tidak optimal.

Di sinilah mungkin terdapat asumsi yang perlu diperiksa kembali: bahwa hasil bersama selalu cukup untuk menggambarkan kinerja setiap orang di dalamnya. Padahal, hasil agregat dan kontribusi individual adalah dua hal yang bisa saja berbeda.

Sebuah aturan memang perlu berlaku secara konsisten. Tetapi konsistensi tidak selalu identik dengan keadilan. Aturan yang diberlakukan sama kepada semua orang belum tentu menghasilkan perlakuan yang adil apabila orang-orang tersebut memiliki ruang kendali dan tanggung jawab yang berbeda.

Karena itu, ketika sebuah aturan terbukti menimbulkan rasa dirugikan pada orang yang sebenarnya telah menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, aturan tersebut layak ditinjau ulang. Bukan semata-mata karena ada pihak yang kecewa, tetapi karena aturan yang baik semestinya mampu membedakan antara sesuatu yang berada dalam kendali seseorang dan sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Sebab persoalannya tidak berhenti pada rasa kecewa. Ketika seseorang merasa bahwa kerja kerasnya tidak sepenuhnya dihargai karena dinilai melalui sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan, yang terganggu bukan hanya perasaannya. Motivasi untuk memberikan kinerja terbaik pun bisa ikut terkikis.

Dan ketika orang mulai berpikir, "Untuk apa saya bekerja maksimal jika hasil akhirnya tetap ditentukan oleh sesuatu yang bukan bagian dari kendali saya?", barangkali saat itulah sebuah aturan perlu mulai dipertanyakan.

Populer

Haji mabrur

Training AI

Apa yang kau cari

Jalan menulis

Propaganda film

Kebutuhan dasar

Kreativitas sagu

Ingatan Belanja

Godaan digital

Asap Kalimantan