Pelem jaran

-(Jumat, 6 November 2026)-

Pelem jaran. Artinya mangga kuda. Begitulah bahasa di dusun saya dahulu menyebutnya. Sampai sekarang, saya masih mengingat jenis mangga itu, meskipun tidak tahu apakah di tempat lain namanya sama. Bahkan, saya tidak sepenuhnya yakin apakah sebutan pelem jaran memang nama jenis mangga atau sekadar nama lokal yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Yang paling saya ingat adalah rasanya. Kecut minta ampun. Bahkan ketika sudah matang, mangga itu tetap terasa sangat asam. Mungkin karena itulah ia diberi nama jaran. Tetapi mengapa harus kuda? Apakah karena saking kecutnya, orang yang memakannya sampai mengumpat, lalu menyebutnya jaran? Entahlah. Saya tidak pernah tahu asal-usul nama itu.

Beberapa waktu lalu, sepertinya saya menemukan kembali mangga tersebut setelah puluhan tahun berlalu. Namun, saya tidak yakin apakah mangga yang saya temukan benar-benar pelem jaran yang dulu saya kenal. Saya hanya mengandalkan ingatan tentang rasanya. Ketika rasa asam yang begitu kuat itu kembali menyentuh lidah, muncul semacam keyakinan bahwa mungkin inilah mangga yang sama. Lidah seolah-olah mengenali sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupan saya.

Sebenarnya, saya tidak sedang ingin membicarakan jenis mangga atau memastikan nama dan asal-usulnya. Yang menarik bagi saya justru mengapa pelem jaran begitu melekat dalam ingatan. Apakah semata-mata karena rasanya yang luar biasa asam? Ataukah ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersembunyi di balik pengalaman masa kecil, yang membuat mangga itu terus tersimpan dalam ingatan hingga sekarang?

Saya mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan itu. Dulu, di belakang rumah saya, ada kebun milik tetangga yang jaraknya kira-kira 30–50 meter. Seingat saya, kebun itu sering menjadi tempat bermain saya bersama teman-teman. Terutama setelah panen ketela, ketika tanahnya masih kosong dan cukup lapang untuk kami berlarian. Di sana kami bermain kejar-kejaran dan berbagai permainan anak-anak lainnya.

Kebun itu mungkin tidak istimewa bagi orang lain. Namun, bagi kami, ia seperti ruang terbuka yang menawarkan kebebasan. Tidak ada banyak batas, tidak ada aturan permainan yang rumit. Kami berlari, tertawa, dan menghabiskan waktu tanpa memikirkan apa pun selain kesenangan saat itu.

Di pinggir kebun tumbuh pohon sawo dan pohon pelem jaran. Barangkali keberadaan kedua pohon itulah yang membuat kebun tersebut semakin menarik bagi kami. Buah yang jatuh bisa langsung dimakan. Jika ingin mendapatkan mangga, kami bahkan melemparinya agar buahnya jatuh. Mangga yang masih muda pun tetap kami makan, biasanya dengan sedikit garam. Rasanya asam, tetapi justru itulah yang mungkin membuat pengalaman tersebut terasa menyenangkan. Jika sedang beruntung, kami bisa mendapatkan sawo yang sudah matang.

Ketika mencoba mengingat semuanya, saya menyadari bahwa ingatan masa kecil tidak selalu hadir sebagai rekaman peristiwa yang utuh. Ada bagian yang masih jelas, ada yang samar, dan ada pula yang mungkin telah saya tambahkan dengan imajinasi sendiri. Saya tidak bisa memastikan apakah semua kejadian itu persis seperti yang saya bayangkan sekarang. Namun, secara umum, begitulah gambaran masa kecil yang masih tersisa dalam ingatan saya.

Mungkin pelem jaran bukan sekadar mangga yang rasanya sangat asam. Ia telah menjadi semacam penanda bagi sebuah masa: kebun tetangga, permainan bersama teman-teman, pohon sawo, dan kebebasan bermain yang dahulu terasa begitu luas. Rasa asamnya mungkin hanya pintu masuk untuk kembali ke sana.

Puluhan tahun berlalu, tetapi satu rasa bisa membawa seseorang pulang ke tempat yang bahkan sudah lama tidak dikunjunginya. Dan ketika saya mengingat pelem jaran, yang sebenarnya saya rindukan barangkali bukan mangganya, melainkan masa ketika hidup terasa sesederhana bermain di kebun tetangga, memungut buah, lalu memakannya bersama teman-teman.

Populer

Kera Putih Sengon

Puasa surplus

Belajar menunggu

Hujan bandara

Rebahaner

Bubur siring

Karya kreatif

Godaan digital

Kenormalan Baru

Training AI