Panggung popularitas
-(Minggu, 1 November 2026)-
Barangkali memang ada orang yang memiliki keinginan untuk terus dibicarakan publik dan diberitakan media. Ada banyak cara untuk mempertahankan perhatian itu. Salah satunya dengan menempuh berbagai upaya hukum, mengajukan tuntutan, atau terus-menerus berusaha membongkar kesalahan dan aib orang lain. Dalil yang digunakan bisa berupa dokumen yang ditemukan, potongan informasi, atau tafsir terhadap suatu pasal dalam peraturan. Semuanya dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan persoalan baru ke ruang publik.
Pada mulanya, langkah-langkah semacam itu mungkin terlihat sebagai upaya mencari kejelasan atau memperjuangkan kebenaran. Namun, tidak jarang prosesnya justru berkembang menjadi rangkaian persoalan yang panjang. Satu tuntutan belum selesai, muncul tuntutan berikutnya. Satu proses hukum telah ditempuh, masih ada proses lain yang dianggap perlu dilanjutkan. Ketika satu keinginan dipenuhi oleh pihak yang dituntut, persoalan ternyata belum juga berakhir. Selalu ada ruang untuk membuka babak baru.
Pada titik tertentu, publik mungkin perlu bertanya dalam hati: apakah yang sebenarnya sedang diperjuangkan adalah penyelesaian persoalan, atau justru keberlangsungan perhatian publik terhadap orang yang memperjuangkannya?
Tentu, tidak adil jika setiap orang yang mengajukan tuntutan hukum atau berusaha mengungkap dugaan pelanggaran langsung dicurigai sedang mencari popularitas. Ada hak masyarakat untuk mengkritik, menggugat, dan meminta pertanggungjawaban. Bahkan, dalam negara hukum, tindakan semacam itu merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun, hak tersebut juga tidak serta-merta membebaskan siapa pun dari kewajiban untuk bersikap proporsional dan menghormati proses hukum.
Persoalannya muncul ketika sebuah tuntutan tampak tidak lagi berorientasi pada penyelesaian, tetapi terus dipelihara melalui rangkaian kontroversi. Seolah-olah yang lebih penting bukanlah tercapainya kejelasan, melainkan agar nama dan wajah seseorang tetap hadir dalam pemberitaan. Popularitas akhirnya menjadi semacam hasil sampingan yang mungkin justru lebih menarik daripada penyelesaian persoalan itu sendiri.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat modern yang semakin akrab dengan viralitas. Perhatian publik telah menjadi sesuatu yang bernilai. Orang bisa dikenal bukan karena karya, prestasi, atau kontribusinya, tetapi karena kemampuannya menciptakan kontroversi dan mempertahankan percakapan tentang dirinya. Dalam ekosistem media dan media sosial, polemik sering kali memiliki daya tahan lebih panjang daripada penjelasan yang tenang dan masuk akal.
Di sinilah publik perlu lebih berhati-hati. Tidak setiap isu layak mendapatkan perhatian tanpa batas. Tidak setiap tuduhan harus segera disambut dengan kemarahan. Dan tidak setiap orang yang tampil lantang di hadapan kamera atau aktif mengajukan tuntutan otomatis sedang memperjuangkan kepentingan publik. Kita perlu membedakan antara substansi persoalan dan pertunjukan yang mungkin menyertainya.
Sayangnya, masyarakat kita masih cukup mudah terseret oleh respons emosional. Informasi sering kali diterima bukan berdasarkan kekuatan bukti, melainkan berdasarkan seberapa kuat ia membangkitkan rasa marah, kecewa, atau antipati. Orang lebih cepat memberikan penilaian daripada memeriksa duduk persoalan. Bahkan, tidak jarang sebuah isu sudah lebih dahulu menghasilkan vonis sosial sebelum proses klarifikasi dan pembuktian berjalan sebagaimana mestinya.
Kondisi ini tentu menjadi lahan yang subur bagi siapa pun yang ingin mempertahankan popularitas melalui kontroversi. Sebab, selama publik terus memberikan perhatian, selama setiap pernyataan memancing perdebatan dan setiap tuntutan melahirkan kegaduhan baru, panggung itu akan selalu tersedia. Media dan media sosial, dengan logika penyebaran informasinya, ikut memperpanjang usia sebuah drama.
Karena itu, mungkin sudah saatnya publik belajar menahan diri. Bukan berarti mengabaikan dugaan pelanggaran atau menutup mata terhadap ketidakadilan. Setiap persoalan tetap harus diperiksa dan diselesaikan melalui mekanisme yang semestinya. Namun, kita tidak harus memberikan seluruh perhatian kepada setiap kontroversi, apalagi ikut memperbesar sesuatu yang belum jelas kebenaran dan urgensinya.
Sebab, perhatian publik sesungguhnya adalah sumber daya yang berharga. Ketika perhatian itu terus diberikan tanpa pertimbangan, kita mungkin sedang membantu seseorang mempertahankan panggung yang sebenarnya ingin ia miliki.
Dalam waktu ke depan, entah sampai kapan, kita barangkali masih akan menyaksikan drama-drama serupa. Akan selalu ada orang yang ingin tetap dibicarakan, ingin mendapatkan pengakuan, dan membutuhkan validasi dari perhatian orang lain. Namun, sebuah panggung tidak akan terus hidup tanpa penonton. Dan publik selalu memiliki pilihan untuk tidak ikut menjadi bagian dari pertunjukan tersebut.