Scrolling medsos

 -(Rabu, 21 Oktober 2026)-

Ada yang mengatakan bahwa scrolling media sosial, seperti TikTok, membuat otak menjadi lemot atau menyebabkan kita mengalami kelebihan informasi. Saya memahami kekhawatiran itu, tetapi saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi saya, scrolling terkadang mirip dengan berjalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Kita melihat hal-hal baru, menyaksikan kehidupan orang lain, menemukan kejadian unik, atau sekadar menikmati sesuatu yang mengundang tawa. Kita tidak selalu datang dengan tujuan tertentu. Kadang-kadang, kita hanya ingin melihat dan menikmati apa yang ada di hadapan kita.

Ketika berjalan-jalan, kita tidak merasa wajib mengingat semua yang kita lihat, apalagi mengambil pelajaran dari setiap pengalaman. Kita bisa melewati sebuah toko tanpa mengingat namanya atau menyaksikan pemandangan indah yang beberapa jam kemudian terlupakan. Namun, apakah itu berarti perjalanan kita sia-sia? Saya kira tidak. Pengalaman tidak selalu harus menambah pengetahuan atau menghasilkan sesuatu yang berguna.

Hal yang sama, menurut saya, berlaku ketika kita scrolling media sosial. Ada video yang membuat kita tertawa, ada yang memperlihatkan kehidupan di tempat jauh, dan ada pula yang tidak terlalu penting. Kita menikmatinya tanpa harus menyimpan semuanya dalam ingatan.

Lebih dari itu, scrolling bisa menjadi jeda dari pikiran yang terus bergerak ke masa lalu dan masa depan. Kita mengingat sesuatu yang seharusnya sudah berlalu, memikirkan pekerjaan yang belum selesai, atau mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bahkan ketika sedang duduk santai, pikiran kita masih sibuk dengan berbagai urusan.

Saat menikmati video, perhatian kita beralih kepada apa yang sedang muncul di layar. Kita tertawa, merasa terhibur, atau sekadar mengikuti kejadian-kejadian kecil yang melintas. Untuk sementara, kita tidak sibuk menyesali apa yang telah terjadi atau mengkhawatirkan apa yang akan datang. Kita menikmati saat ini.

Tentu, saya tidak mengatakan bahwa scrolling selalu membawa manfaat seperti itu. Ada kalanya kita terus menggeser layar tanpa benar-benar menikmati apa pun. Waktu berlalu, tetapi kita bahkan tidak ingat apa yang baru saja ditonton. Jika kebiasaan ini mengganggu pekerjaan, tidur, atau hubungan dengan orang lain, tentu ada persoalan yang perlu diperhatikan.

Namun, saya kira kita juga perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa scrolling dengan sendirinya membuat otak lemot. Melihat banyak informasi tidak sama dengan harus mengingat semuanya. Tidak setiap video harus dipikirkan secara mendalam, sebagaimana tidak setiap hal yang kita temui saat berjalan-jalan harus menjadi bahan renungan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebiasaan itu memengaruhi kehidupan kita, bukan sekadar berapa banyak informasi yang kita lihat.

Saya juga bertanya-tanya, mengapa waktu yang kita habiskan sering kali harus menghasilkan sesuatu yang berguna? Seolah-olah setiap kegiatan harus menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan, atau membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan waktu luang pun terkadang kita perlakukan seperti pekerjaan yang harus memiliki target.

Padahal, hidup bukan hanya tentang mempersiapkan masa depan. Kita mendengarkan musik tanpa harus menjadi ahli musik, berjalan-jalan tanpa harus memperoleh pengetahuan baru, atau bercanda tanpa perlu menemukan makna di balik setiap tawa. Mengapa menikmati video di media sosial harus selalu diperlakukan secara berbeda?

Bagi saya, persoalannya bukan semata-mata apakah scrolling itu produktif atau tidak. Selama kita masih mampu mengendalikan penggunaannya dan tidak mengabaikan hal-hal penting, saya tidak melihat alasan untuk menganggapnya sebagai kegiatan yang buruk. Sesekali tertawa, melihat dunia dari sudut pandang berbeda, atau memberi pikiran kesempatan untuk beristirahat juga merupakan bagian dari kehidupan.

Tidak semua yang kita lakukan harus membawa kita ke suatu tempat. Ada kalanya kita cukup menikmati perjalanan itu sendiri, tanpa harus mengingat setiap hal yang kita temui atau memastikan bahwa perjalanan tersebut menghasilkan sesuatu.

Populer

Haji mabrur

Rel alternatif

Media darling

Sabar menanti

Alur mimpi

Strategi muslihat

Mesin daerah

Memori tradisi

Mind Blowing

Imam masjid