Harga diri
-(Minggu, 18 Oktober 2026)-
Akhirnya, saya menghapus akun medsos itu dari ponsel. Ada dorongan yang mungkin terdengar egois, tetapi justru menjadi alasan kuat di balik keputusan itu: saya merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang selama ini postingannya muncul di timeline saya.
Saya tidak mengenal mereka. Mereka juga tidak mengenal saya. Namun, saya menghabiskan waktu membaca pendapat, perdebatan, pameran pencapaian, dan berbagai pernyataan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kehidupan saya. Sebagian terasa seperti bualan, sebagian lainnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar saya butuhkan.
Pada satu titik, muncul pertanyaan sederhana: mengapa saya mesti membaca semua itu?
Pertanyaan tersebut menyentuh harga diri saya. Mengapa saya memberikan perhatian kepada orang-orang yang tidak saya kenal, yang kehidupannya tidak berkaitan dengan kehidupan saya, dan yang ucapannya bahkan sering tidak saya anggap penting?
Saya menyadari bahwa saya memiliki kehidupan sendiri yang jauh lebih layak mendapatkan perhatian. Lalu, untuk apa terus menjadi penonton bagi kehidupan orang lain?
Saya tahu, merasa lebih tinggi daripada orang lain bukanlah sikap yang lazim dibanggakan. Kita diajarkan untuk rendah hati dan tidak menganggap diri lebih baik daripada siapa pun. Namun, kali ini, ego justru membantu saya memutus kebiasaan yang mungkin sulit dihentikan jika hanya mengandalkan pertimbangan rasional.
Saya tidak perlu menyusun daftar keburukan media sosial atau meyakinkan diri bahwa medsos itu selalu membawa dampak negatif. Saya cukup merasa tidak ingin lagi menghabiskan waktu membaca bualan orang-orang yang tidak saya kenal.
Tentu, saya tidak menganggap semua orang di medsos itu tidak bermutu. Saya hanya merasa tidak perlu terus memberikan perhatian kepada mereka, terutama ketika apa yang disampaikan tidak memberikan manfaat bagi saya.
Media sosial menyediakan percakapan tanpa batas. Selalu ada pendapat baru, perdebatan baru, dan sesuatu yang membuat kita ingin kembali membuka aplikasi. Tanpa disadari, kita menyediakan ruang dalam pikiran bagi orang-orang yang sesungguhnya tidak memiliki tempat dalam kehidupan kita.
Saya ingin mengambil kembali ruang itu.
Saya masih bisa membaca berita, mempelajari pemikiran orang lain, dan mengikuti perkembangan dunia melalui berbagai saluran. Menghapus medsos itu bukan berarti menutup diri dari informasi. Saya hanya ingin lebih selektif menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian.
Jika keputusan ini berawal dari ego, biarlah. Setidaknya, kali ini, ego membantu saya melepaskan diri dari kebiasaan yang tidak lagi saya kehendaki.
Saya tidak harus mengikuti kehidupan semua orang. Saya juga tidak harus membaca semua pendapat.
Ada kehidupan sendiri yang perlu dijalani. Dan saya memilih untuk kembali memberikan perhatian kepadanya.