Perjalanan rindu

-(Minggu, 25 Oktober 2026)-

Hari yang luar biasa. Bagaimana tidak? Selepas Subuh, ketika hari mulai terang, saya melangkahkan kaki menyusuri Teluk Mekongga. Langkah terus berlanjut melewati jalanan kota hingga tiba di Pasar Raya Mekongga.

Para pedagang tampak telah bersiap dengan barang dagangan masing-masing. Saya memasuki pasar sambil mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Namun, pagi itu saya hanya menyusuri jalan utama, tanpa masuk ke gang-gang yang juga dipenuhi pedagang. Ada kehidupan yang bergerak di sana, tetapi waktu tidak memberi keleluasaan untuk menjelajah lebih jauh.

Kaki terus melangkah hingga saya kembali ke titik awal perjalanan. Mungkin sekitar 30 menit waktu yang saya habiskan. Jauh lebih singkat dibandingkan rutinitas jalan pagi selama ini. Bukan karena keinginan berjalan sudah terpenuhi, melainkan karena ada jadwal yang harus ditepati.

Pukul 07.30, saya mesti sudah siap di kendaraan untuk menuju ibu kota. Sebelumnya, tentu saja, sarapan pagi tak boleh dilewatkan. Saya berusaha menikmati setiap hidangan yang tersaji, meskipun hanya mengambil sedikit demi sedikit. Dalam perjalanan seperti ini, waktu untuk menikmati sesuatu kadang sama terbatasnya dengan waktu untuk sampai ke tujuan.

Tepat pada waktunya, mobil meluncur menyusuri jalan berkelok di lereng pegunungan, atau mungkin lebih tepat disebut perbukitan. Tikungan demi tikungan dilalui dengan laju kendaraan yang seolah berpacu dengan waktu. Tubuh ikut terguncang mengikuti irama jalan. Bagi yang tidak terbiasa atau memiliki kondisi tubuh yang kurang prima, perjalanan semacam ini tentu bisa memancing mual dan mabuk darat.

Namun, sebelum tengah hari, kami sudah tiba di ibu kota.

Setelah merampungkan urusan yang memang perlu diselesaikan, pikiran saya beralih pada perjalanan berikutnya. Kali ini, tujuannya bukan sekadar sebuah kota atau tempat yang tertera di tiket. Ada sesuatu yang lebih personal yang menunggu di sana: sebuah tempat yang saya rindukan.

Dorongan rindu itu bahkan membuat saya tiba lebih awal daripada waktu yang tercantum dalam tiket. Seolah-olah dengan datang lebih cepat, jarak yang memisahkan bisa segera dipangkas. Padahal, dalam perjalanan, tidak semua hal tunduk pada keinginan kita.

Jadwal keberangkatan ternyata tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saja gangguan yang membuat waktu terasa lebih panjang daripada semestinya. Saya pun harus menunggu, membiarkan detik demi detik berlalu sampai burung besi yang akan membawa saya terbang akhirnya datang.

Ketika pesawat itu akhirnya mengudara, perjalanan menuju daratan yang jauh pun dimulai. Di sana ada sebuah hati yang selalu setia menunggu. Bayangan tentangnya membuat penantian terasa memiliki arah. Saya tidak sekadar sedang menempuh jarak, tetapi juga sedang mendekati seseorang yang kehadirannya memiliki arti tersendiri.

Tentu saja, semuanya tidak sesederhana itu. Pesawat harus mendarat terlebih dahulu, lalu perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan darat. Waktu dan kesabaran kembali diperlukan. Rupanya, jarak tidak selalu bisa ditaklukkan hanya dengan berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya.

Namun, begitulah perjalanan rindu. Ada langkah kaki, jalanan berkelok, jadwal yang harus ditepati, ruang tunggu, penerbangan, dan perjalanan darat yang mesti dilalui. Setiap tahap menuntut kesabaran dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengusahakan perjalanan sebaik mungkin, lalu menerima bahwa ada hal-hal yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Rindu boleh membuat kita ingin segera tiba, tetapi perjalanan tetap memiliki waktunya sendiri.

Dan pada waktunya, perjalanan rindu itu akan sampai juga, meskipun sesekali harus terlambat.


Populer

Paradoks Desember

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Jam terbang kelapa

Kredit macet

Haji mabrur

Fokus

Teknokratis

Rel alternatif

Optimisme

Ujian