Menjadi pertama

-(Senin, 26 Oktober 2026)-

“Ini pertama kali dalam sejarah.” Ungkapan ini sering terdengar sebagai penanda keberhasilan sekaligus sumber kebanggaan. Ada sesuatu yang baru, sebuah gagasan yang sebelumnya belum pernah diwujudkan, lalu mulai dihadirkan dalam kenyataan. Bahkan, ketika masih sebatas ikhtiar, kebanggaan itu kadang sudah muncul. Seolah-olah menjadi yang pertama saja sudah cukup untuk memberikan nilai lebih pada sebuah pencapaian.

Apalagi jika sesuatu yang pertama kali dalam sejarah itu sudah menghasilkan output, bahkan outcome yang nyata. Kebanggaan tentu semakin besar. Nama seseorang atau sebuah institusi pun berpeluang tercatat sebagai pelopor, sebagai pihak yang berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Para pemimpin dan bos tampaknya menyukai pencapaian semacam ini. Ada kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang baru lahir pada masa kepemimpinannya. Program, kebijakan, atau strategi yang belum pernah ada sebelumnya bisa menjadi bukti bahwa dirinya telah membawa perubahan. Tidak mengherankan jika keinginan untuk menciptakan sesuatu yang pertama kali dalam sejarah terkadang menjadi bagian dari ambisi kepemimpinan. Di titik tertentu, pencapaian itu bukan lagi semata-mata tentang manfaat bagi organisasi, tetapi juga tentang pemenuhan ego pribadi.

Kecenderungan ini bisa kita lihat dari bagaimana program dan kebijakan dirancang. Sesuatu yang baru sering kali lebih menarik perhatian daripada sesuatu yang sudah berjalan. Pemimpin ingin membuat terobosan, meluncurkan program baru, atau memperkenalkan strategi yang berbeda. Ada dorongan untuk meninggalkan jejak yang bisa dikenang sebagai pencapaian khas pada masa kepemimpinannya.

Persoalannya muncul ketika semangat menciptakan hal baru justru membuat keberlanjutan terabaikan. Program yang sudah berjalan baik tiba-tiba dihentikan atau kehilangan perhatian karena pemimpin ingin mengalihkan fokus pada program baru. Apa yang dibangun oleh pendahulunya dianggap kurang menarik untuk diteruskan, meskipun manfaatnya sudah terbukti. Yang lama perlahan ditinggalkan, sementara yang baru mulai dibangun untuk kembali menciptakan catatan sejarah.

Siklus seperti ini bisa terus berulang setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan. Organisasi menjadi sibuk memulai, tetapi tidak cukup tekun untuk melanjutkan dan menyempurnakan. Energi habis untuk melahirkan berbagai inisiatif, sementara hasil dari inisiatif sebelumnya belum tentu dipertahankan. Padahal, sesuatu yang sudah terbukti bermanfaat semestinya menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar peninggalan yang dilupakan.

Menjadi yang pertama memang bisa membanggakan. Namun, dalam sebuah organisasi, tidak semua hal harus dimulai dari awal untuk menunjukkan bahwa seorang pemimpin telah membuat perubahan. Meneruskan program yang baik, memperbaiki kekurangannya, memperluas manfaatnya, dan memastikan hasilnya bertahan lama juga merupakan pencapaian yang layak dibanggakan.

Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pertama kali memulai sesuatu. Sejarah juga mencatat apakah sesuatu itu bertahan, berkembang, dan terus memberikan manfaat setelah orang yang memulainya tidak lagi berada di sana.


Populer

Paradoks Desember

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Jam terbang kelapa

Kredit macet

Haji mabrur

Fokus

Teknokratis

Rel alternatif

Optimisme

Ujian