Postingan

Kambing Hitam Bernama: "Tidak Mood"

Ditulis: 27 Januari 2019 Nyaris sebulan saya tidak menulis. Mungkin malah lebih. Saya tak berani memeriksa tulisan saya di FB. Kuatir ketahuan kalau saya sudah lama tidak menulis. Sebagaimana ketakutan sebagian orang untuk medical check up, karena khawatir tahu apa yang sedang diderita. Meski dari postur tubuh pun orang sudah akan tahu, kalau gendut itu isinya ya lemak dan kolesterol. Sebagaimana saya yang sudah dua minggu ini tidak rutin joging. Yang tadi pagi s aya beranikan diri untuk timbang badan, ternyata naik 2 kilogram. Astaghfirullah. Begitulah fakta kita. Sebagai manusia, ada yang memilih jalur gemuk dan ada yg pilih jalur kurus. Semua adalah pilihan, meski ada sebagian karena takdir. Mungkin itu juga takdir saya. Sulit sekali membuat badan ini lebih kecil. Terutama bagian perut. Walah, kok malah curhat. Tapi, gapapa. Begitulah proses menulis. Acap kali diawali dengan kegalauan yang dituangkan dalam tulisan yang akhirnya berbentuk curhatan. Itu hal yang wajar. Tak p...

Protektif

Ditulis: di Prameks, 29 Desember 2018 Si Ode minta belajar nyetir. Dia pamer kalau temannya sudah punya SIM A dan C. Dengan berat hati, kami ijinkan. Tibalah pagi itu, ia benar-benar mewujudkan keinginannya. Dipandu oleh Om-nya. Yang kemudian adik istri saya yang polisi itu mengirim foto-foto. Memperlihatkan Ode pegang setir. Jantungku langsung berdesir. Kuatir. Bagaimanapun trauma itu sungguh traumatis. Pertama kali belajar nyetir, saya berhasil membuat bagian depan mobil masuk ke kali. Bukan rem, justru gas yang kuinjak. Beruntung yang memandu saya, pintar. Dia langsung tarik rem tangan. Beberapa waktu kemudian, ternyata saya tidak sepintar pemandu saya itu. Sama kasusnya, niatnya injak rem, tapi yang keinjak malah gas. Mobil itu menabrak pohon mangga. Penyok berat.Tak apa. Yang penting kami selamat. Istri saya yang pertama kali belajar nyetir itu kemudian trauma. Saya yang bodoh, tidak bisa memandu belajar nyetir dan kurang antisipasi. Menghilangkan trauma ...

Urusan Pemda dan Tahun Sinergi

Ditulis: di Prameks, 10 November 2018 Sudah rencana Tuhan. Dalam 2 hari itu saya "diseret" untuk urusan Pemda. Tapi memang menarik. Saya suka. Hanya saja, saya jadi berpikir: kenapa baru sekarang? Tapi sudahlah. Tidak ada kata terlambat untuk hal baik. Pertama, soal standar harga satuan regional (SHSR). Kemenkeu punya gagasan itu. Dengan latar belakang: begitu beragamnya standar biaya di masing-masing prov/kab/kota. Riilnya: biaya perjalanan dinas termasuk honorarium sangat bervariasi di setiap daerah. Dengan nilai yang cukup wah jika dibandingkan dengan standar biaya yang digunakan dalam APBN. Nantinya, Pemda dalam menyusun APBD agar mempedomani SHSR ini. Tidak melulu tentang biaya perjalanan dinas dan honorarium. Meski, diskusi itu lebih banyak menyorot keduanya. Karena memang sejak lama, soal ini sudah menjadi isu dan temuan BPK. Selama ini, dalam menyusun APBD, Pemda setidaknya mengacu pada 4 dokumen standar biaya yang disusun oleh beberapa unit atau SKPD. ...

Kantor Vertikal Yang Mengurusi PNBP

Ditulis: 20 Oktober 2018 Sudah saatnya kita lebih serius. Mengelola PNBP. Dan memang kini pemerintah semakin serius. UU PNBP yang baru sebagai buktinya. Barangkali inilah momen yang tepat. Untuk mendudukkan tugas pada tempatnya. Yang memang sejatinya itu tugasnya. Yang jika tepat tempatnya akan berdampak pada tata kelola PNBP yang lebih optimal. Ada unit yang namanya pelaksanaan anggaran. Tentu yang dimaksudkan adalah APBN. Yang di dalamnya mencakup penerimaan dan pengeluaran. Unit ini bertugas menyusun kebijakan terkait pelaksanaan anggaran. Yang selama ini lebih banyak ke soal kebijakan pelaksanaan pengeluaran. Lalu, bagaimana perumusan kebijakan atas pelaksanaan penerimaan? Nah, inilah saat yang pas. Untuk mulai memikirkan. Kebijakan apa yang tepat agar pelaksanaan penerimaan berdampak pada kebaikan. Bagi negara. Dan rakyatnya. Di dalam DIPA selama ini, ada unsur belanja dan pendapatan. Dalam ranah pelaksanaan mestinya tidak melulu soal belanja yang ditangani. P...

Doa Selamat Dari Musibah

Ditulis: 14 Oktober 2018 Setiap terjadi bencana, khususnya gempa dan gunung meletus, saya selalu teringat satu ceramah. Pengajiannya KH. Anwar Zahid. Yang mengena dan lucu itu. Puluhan video ceramah beliau, saya punya. Dari YouTube. Beberapa saya simpan di HP. Ada yang saya konversi jadi MP3. Saya dengarkan sebelum berangkat tidur. Ada yang saya putar berulang-ulang. Tak pernah bosan. Kira-kira begini ceramahnya itu. Sebagian besar daerah Indonesia ini banyak gunung berapi . Dan juga dilalui jalur gempa. Yang aman hanya satu pulau. Kalimantan. Jadi, beliau menganjurkan, kalau ingin selamat. Silakan pindah ke Kalimantan. Ajak seluruh keluarga. Naik kapal. Tragisnya, kapalnya ternyata karam. Mati semua. Atau naik pesawat. Tapi pesawatnya jatuh. Intinya adalah manusia tak pernah mampu lari dari ajalnya. Mati tak harus menunggu sakit. Atau tua. Yang sehat, lalu mati juga banyak. Yang muda mati, pun tidak sedikit. Setiap yang bernyawa, pasti akan mati. Tinggal kapan waktunya. ...

Mengalirkan Kebuntuan Pada Gaya Tulisan

Ditulis: 27 September 2018 Ada kalanya saya buntu. Tidak bisa menulis. Sejatinya malah sering buntu daripada lancar. Menulis itu memang butuh ide, gagasan. Tanpa itu dijamin macet. Mau memulai paragraf pertama pun mentok. Sekarang ini pun sebenarnya saya tidak punya ide untuk menulis. Saya coba cari-cari ide di otak saya. Kosong. Saya gali perasaan saya. Hampa. Jadi, sepertinya saya kehabisan ide. Lalu, saya paksakan untuk menulis. Tentang apa yang saya alami. Kebuntuan saya ini. Sejatinya, saya ingin mencontoh. Apa yang dilakukan oleh Pak Dahlan Iskan. Setiap hari dia menulis. Di blognya itu. Disway.id itu. Yang selalu menarik itu. Yang setiap habis subuh saya selalu membacanya. Lalu, saya copas untuk saya share ke beberapa grup wa. Kalau pun Anda perhatikan, saya memang sedang meniru gaya tulisan beliau. Kalimat pendek-pendek. Mungkin tak sesuai kaidah tata bahasa. Tapi anehnya, justru itu menarik. Setidaknya menurut saya. Dan beberapa orang yang saya kenal. ...

Distraksi Setan Gepeng

Ditulis: 18 September 2018 Ini yang sudah terjadi. Sering terjadi. Sekarang ini. Sejak adanya medsos. Distraksi oleh si setan gepeng. Di kantor, di rumah, di rapat, di pengajian, di khutbah Jum'at. Sulit sekali untuk membuat orang fokus. Selalu diganggu oleh sebuah kecanduan pada setan gepeng. Lihatlah, sang presiden jancukers juga sewot. Dengan ulah rekan narsu. Yang main HP sendiri saat narsu lain bicara. Coba baca twit-nya. Dan itu benar adanya. Memang terjadi. Tak bisa kita pungkiri. Itulah tantangan saat ini. Lebih tepatnya gangguan. Di saat kita serius bicara dengan segenap tenaga dan pemikiran agar orang lain paham dengan apa yang kita sampaikan, ee..audiens malah asyik sendiri. Dengan orang lain. Yang jauh. Melalui HP. Atau malah senyum senyum sendiri, lihat video lucu yang dishare melalui IG atau Twitter atau Facebook. Akibatnya, blas.. omongan kita tidak ada yang nyantol di kepala. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Saat kita mencoba bertanya, jus...

Jeruk Baby

Ditulis: 16 September 2018 Namanya Jeruk Baby. Cara makannya tak perlu dikupas kulitnya. Cukup dipotong-potong, lalu disesap-sesap. Manis. Apalagi kalau habis disimpan di kulkas. Dingin. Seger. Apalagi disajikan di siang yang terik. Tidak hanya anak bayi yang suka. Saya suka. Anak-anak suka. Sekeluarga kami suka. Harganya relatif murah. Saat dolar naik juga tetap murah. Kami selalu punya persediaan di rumah. Soal manfaat tak perlu ditanyakan. Bagus bagi kesehatan. Kandungan vitamin C-nya m elimpah. Tetapi memang ironis. Bagai pepatah. Habis manis sepah dibuang. Bukan arti kiasan. Memang seperti itu. Kalau setelah disesap, tak lagi berasa air dan manisnya, ya dilepeh, dibuang. Mau diapakan lagi? Paling akan jadi sampah, membusuk dan jadi pupuk. Kompos yang menyuburkan tanah. Begitulah nasib jeruk baby. Nasib yang sama kadang juga berlaku pada manusia. Yang dikala dirasa tak berguna lalu diipinggirkan. Dipensiunkan. Itulah kehidupan. Selalu ada persaingan. Ada kompetisi...

Rumah

Ditulis: 11 September 2018 Malam 1 Suro kemarin, kami kumpul-kumpul. Orang tua beserta anak-anak. Menggelar tikar di jalan kompleks. Yang berisi hanya 8 rumah. Kompleks kluster pertama di kota itu. Serba spontan. Siang hari itu ada yang usul di grup WA. Ide kumpul-kumpul. Lalu ada yang merespon. Setuju. Jadilah acara itu. Tentu acara utama adalah duduk bareng, silaturahim. Ngobrol akrab ngalor ngidul. Tentang apa saja. Diselingi bakar-bakar bakso dan sosis. Disemangati pisang dan kacang godog. Pisang goreng dan juga kopi. Kami juga memutar musik. Awalnya Via Valen lalu Didi Kempot. Lanjut Nissa Syaban. Terakhir Kenny G. Anak-anak ikut-ikutan bakar-bakar. Tentu turut semangat memakan apa yang dibakar. Mereka bermain bersama. Tertawa. Gembira. Sejenak melupakan setan gepeng. Meski tak lama, mereka kembali main setan gepeng. Ya sudahlah. Saya nyaris menyerah. Jangankan anak-anak, yang dewasa, orang tua juga kecanduan setan gepeng. Di rumah, di kantor, kedai, saat rapat, ...

Faktisitas

Ditulis: 1 September 2018 Yang dinanti akhirnya keluar. SK. Lalu heboh. Di grup grup WA. Ucapan selamat. Ada yang bahagia dan setengah bahagia. Ada pula yang komplit bahagianya. Sudah naik peringkat, pulang kampung pula. Nikmat kurang apa lagi. Dan orang biasanya hanya melihat pada bagian ini. Tanpa mencoba melihat bagaimana sebelum bahagia itu hadir. Begitulah yang sering terjadi. Orang hanya melihat kesuksesan tanpa memandang proses. Perjalanannya. Perjuangannya. Untuk sukses. Orang bia sanya iri pada bagian suksesnya, tapi enggan mencontoh perjuangannya. Bagaimana dengan penderitaan untuk bisa berhasil, tak banyak orang mau meniru. Kerap kita mendengar: hasil tak pernah mengingkari usaha. Bisa jadi dan memang sudah terjadi: harapan yang mewujud tak pernah mengingkari kesabaran. Tapi untuk bisa sabar memang juga butuh kesabaran. Ketabahan. Tahan banting. Pengorbanan. Puncaknya adalah keikhlasan. Keikhlasan ada di hati, batin kita. Bukan hal mudah untuk mengatur, men...

Eksistensialisme

Ditulis: 25 Agustus 2018 "Man is nothing else, but what he makes of himself" (Jean Paul Sartre) Kata Sartre, manusia itu fokusnya bukan pada esensi. Esensi manusia tidak bisa dijelaskan seperti esensi benda-benda. Ketika kita melihat pisau dapur, kita bisa memastikan esensi pisau dapur: gunanya apa, tujuan dan proses pembuatan. Begitu juga dengan smartphone, kita bisa pastikan ini alat komunikasi dengan tujuan untuk berhubungan antar manusia. Manusia tidak seperti itu. Sulit untuk mengatakan manusia itu punya hati, perasaan dan akal. Karena kadang, ada manusia yang tidak menggunakan itu semua. Tidak ada esensi atau hakikat asli manusia. Kata Sartre. Lalu, manusia punya hakikat dari mana? Dari eksistensinya. Cara kita mengada. Tidak ada hakikat bawaan. Manusia itu baik atau jelek tergantung cara dia eksis. Jadi, tidak ada manusia itu pasti baik atau pasti jelek. Kalau setiap hari orang itu bohong, maka hakikat diri orang itu adalah bohong. Esensi dibentuk...

Merdeka

Ditulis: 17 agustus 2018 Hari ini kita merdeka. 73 tahun yang lalu. Kita merdeka dari para penjajah. Belanda dan Jepang. Tanam paksa, kerja rodi dan romusha. Bukti kekejaman mereka. Kakek saya nyaris menjadi romusha. Berhari-hari setiap malam beliau mengurangi tidur. Tirakat. Memohon pertolongan Tuhan. Alhamdulillah. Batal. Begitulah. Setiap kali merasa ada ancaman bahaya, beliau melakoni tirakat. Suatu kali dusunnya dibombardir bom. Beliau lalu duduk berdzikir. Tirakat. Bom-bom itu hanya l ewat di atas rumah. Kini beliau benar-benar merdeka. Dari kehidupan fana. Sejatinya sudah sejak lama. Saat saya masih kuliah, beliau wafat. Lahumul fatihah. Bagaimana dengan kita? Apakah betul-betul merdeka? Manusia memiliki kebutuhan primer. Pangan, sandang dan papan. Kita tak lagi merdeka atas ketiganya. Pangan. Kita diteror dengan kolesterol. Dan lemak. Dan asam urat. Dan obesitas. Sandang. Kita diiming-imingi dengan segala jenis merk. Sebagian telah dijajah. Keterga...

Menerawang

Ditulis: 7 Juli 2018 Bagaimanapun manusia senantiasa ingin melihat masa depan. Mencoba meramal, memprediksi atau menerawang. Selalu terkait dengan nasib dirinya, apa yang terjadi dengan kehidupannya. Baik itu soal asmara, karir, posisi dan tentu tentang kematian. Namun, hanya segelintir manusia yang dikaruniai kemampuan itu. Dan itu pasti manusia yang "peng-pengan" dalam lelaku pengabdiannya kepada Tuhan. Hingga kemudian mereka disebut waliyullah. Meski begitu, Tuhan telah menciptakan hukum alam, hukum sebab akibat. Dengan hukum ini, manusia mampu memprediksi apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian, bahkan beberapa waktu kemudian. Tiga puluh menit kedepan, haqqul yakin saya tahu bahwa saya akan sangat kenyang jika sekarang saya makan soto 5 mangkok. Anda pun bisa tahu di akhir bulan ini, akan datang kepada Anda, seorang sobat karib untuk minta bantuan keuangan, andai lihat dia sedang berfoya-foya berbesar pasak daripada tiang. Begitu seterusnya, contoh-...

Kehumasan & Keranjang Mangga

Ditulis: antara Jakarta- Jogja, 9 Juni 2018 Betapa pentingnya kehumasan di era kekinian, biarlah jangan saya yang bicara. Berikut kata-kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung: "Era sudah berubah, kita tak bisa gunakan andalkan sisi kehumasan seperti dulu, harus berubah, harus inovasi, harus kekinian." Betapa media sosial perlu dimanfaatkan, ini ucapannya: "Presiden Joko Widodo kerap menggunakan media sosial sebagai sarana sosialisasi program-program pemerintah. Karena tidak dapat lagi mengandalkan media mainstream." Betapa cara komunikasi yang digunakan tidak terbatas satu saluran, ini pendapatnya: "Tantangan era digital ini tidak ada lagi informasi yang bersifat tunggal, harus ada cara berkomunikasi yang lebih smart dan ada elemen of surprises, tidak lagi bisa monoton." Betapa tantangan besar kehumasan saat ini adalah ketika berhadapan dengan generasi milenial, Gubernur Jabar Aher berujar: "Mereka adalah generasi yang harus didekati de...

Tamasya

Ditulis: Solo-Semarang, 3 Juni 2018 Sabtu lalu saya ajak anak-anak tamasya ke pasar. Sekalian lihat-lihat kalau ada makanan yang menarik untuk dibeli buat buka puasa. Tak ada target sesuatu. Niatnya memang jalan-jalan mengenalkan anak-anak kehidupan pasar. Selama ini mereka lebih banyak ke mall. Belanja di mall. Makan di mall. Dengan harga sesuai label. Hidup perlu mengenal banyak hal. Juga melatih mereka untuk bertemu dengan banyak orang. Belajar merespon atas bujukan penjual untuk mampir di lapaknya, termasuk tawar menawar harga. Kami berkeliling mulai kios pakaian, perabot rumah tangga, kios cemilan, bumbu dapur, sayuran, sembako, lapak ikan asin, ayam potong, daging, deretan pisang, kelapa, dll. Saya ingin menunjukan mereka tentang banyak bahan mentah. Bahwa apa yang mereka makan di kedai atau restoran, berawal dari proses memasak bahan-bahan yang tersedia di pasar. Sambil jalan saya sebutkan nama barang, atau bahan mentah makanan. Sesekali saya berhenti dan m...

Lelaki Harimau

Ditulis: di Kereta Solo-Semarang, 27 Mei 2018 Hampir sepuluh menit saya tercenung memikirkan topik apa yang ingin saya tulis di perjalanan kereta ini. Nyaris kusut. Sejatinya sudah sejam sejak saya naik kereta, tak ada ide di kepala. Kemarin saat pulang juga begitu. Buntu. Padahal saya punya quickwin: satu perjalanan, satu tulisan. Tak ada yang bisa saya tulis, meski sebenarnya ada, tapi saya sulit mengawalinya, saya malah menundanya. Persis dulu saat mau menyusun tesis. Sering menundanya. Begitulah. Faktanya, kita kerap kali menunda-nunda pekerjaan karena sebuah alasan yang kita buat-buat yang sebenarnya bernama kemalasan.  Karenanya Rasul SAW mengajarkan satu doa: "Allohumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani wa a’uudzubika minal ’ajzi walkasali.." "Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan kemalasan..." Padahal, sudah lama saya berpikir untuk ...

Jalan Jihad

Ditulis: di atas Kereta Solo-Semarang, 20 Mei 2018 Biasanya saya membaca novel atau cerpen atau buku-buku manajemen dan motivasi seperti 7 habits atau bukunya Rhenald Kasali dll. Wiken ini saya membuka dan membaca kembali koleksi buku-buku agama. Menyesuaikan momennya. Ramadhan. Saya buka buku "Halal dan Haram dalam Islam" karya Yusuf Qardhawi. Saya lihat daftar isi dan mulai mencari bab tentang bekerja. Sudah lama saya "agak gimana" dengan sikap beberapa orang yang menurut saya tidak konsisten antara keyakinan dan tindakannya soal bekerja. Bahwa bekerja adalah ibadah, semua sepakat. Saya mencoba mengamati dan menarik hipotesa: masih banyak diantara kita yang sejatinya belum yakin dengan dalil itu. Mengapa? Disaat jam efektif bekerja, masih ada yang berasyik asyik melakukan ritual ibadah yang bukan wajib, seolah menganggap apa yang dia lakukan ketika bekerja bukan bagian dari ibadah yang mendapat pahala. Tindakannya seolah meneguhkan anggapan bahwa bekerja ...

Leader

Ditulis: di Kursi Maguwo, 19 Mei 2018 Bagaimanapun setiap puasa saya selalu ingat dengan suasana dusun saya. Setiap malam terdengar suara tadarus. Sampai sahur. Saya tak lagi takut pulang sendiri dari mesjid melewati kebonan gelap sehabis tadarus. Karena syetan dirantai. Suara tadarus itu juga makin menguatkan keberanian. Tarawih di mesjid dusun saya 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Tanpa kultum. Sehingga tak perlu repot menseleksi penceramah. Apakah ia radikal atau tidak. Setelah tarawih kami ramai-ramai memukul beduk. Tabuhan dan iramanya khas. Berlangsung sampai semua jamaah beralih dari ruang utama ke serambi mesjid. Sesudah itu menjadi momen yang selalu kami tunggu: pembagian snack alias jlaburan. Disediakan oleh warga secara bergiliran. Ada aneka kue atau umbi umbian. Sehabis menikmati jlaburan, kami duduk memutari meja "dampar". Tadarus bergantian. Semua berjalan outopilot, otomatis nyaris tanpa manajemen. Siapa muazin dan bilal tarawih tak perlu ditunj...

Regulator & Operator

Ditulis: di atas Jalan Besi, 13 Mei 2018 Dalam setiap gerakan selalu ada pembagian tugas sebagai penggerak dan pemikir. Penggerak berada di lapangan, kerap tampil di depan, untuk membakar semangat, mengarahkan anggota untuk bergerak menuju satu tujuan. Pemikir lebih banyak di belakang layar. Ia menyusun doktrin, blueprint dan strategi perjuangan. Pembagian tugas ini menjadi hal yang jamak setidaknya dulu saat saya ikut aktif dalam kegiatan rohis, baik di SMA maupun di  kampus. Begitu pula di partai dan organisasi lainnya. Termasuk organisasi teroris, selalu ada orang-orang yang disebut penggerak dan pemikir yang mana pemikir mampu mendoktrin anggotanya untuk mau bunuh diri dengan janji bidadari sedangkan penggerak bertugas mengarahkan anggota dan simpatisan berbuat ke arah tujuan yaitu menyulut ketakutan. Maka, dua tipe ini menjadi penting untuk keberlangsungan suatu organisasi. Kalau ditarik ke organisasi kepemerintahan ada istilah regulator dan operator. Maknanya persis...

Tipologi

Ditulis di atas Rel Kereta, 12 Mei 2018 Tipologi dapat memiliki arti pengklasifikasian atau pengelompokan tipe atau jenis sebagaimana bagi PNS di perkotaan rasanya tidak asing dengan tipe rumah 21 atau 36 yang dikategorikan berdasarkan luas bangunan yang penyebutan tipe untuk rumah ini lebih jelas ukurannya dibandingkan ketika ada seorang perempuan mengatakan: "lelaki itu bukan tipe saya." Kadang mendefinisikan dan memerinci tipe saya dan bukan tipe saya itu bukan perkara mudah karena sebenarnya lebih dipengaruhi pilihan rasa emosional yang bisa berubah-ubah tergantung pendekatan si lelaki kepada si perempuan sehingga bisa dikatakan bahwa tipologi dalam urusan ini sangat tidak jelas ukurannya. Ketika saya akan naik kelas 2 SMA dihadapkan pada pilihan untuk masuk kelas A1 atau A2 atau A3 yang oleh pihak sekolah ditetapkan berdasarkan nilai raport yang tentu saja saya memilih kelas A1 yang katanya waktu itu tempatnya anak-anak pandai setidaknya nilai fisika dan ma...