Tiang retak

-(Senin, 23 Maret 2026)-

Barangkali, langkah paling masuk akal dalam situasi saat ini adalah menahan diri—berhenti memperluas program-program yang dilabeli sebagai “strategis” oleh pemerintah. Sebab realitas keuangan tampaknya sudah bergeser dari keseimbangan. Ia lebih menyerupai peribahasa lama: besar pasak daripada tiang. Bedanya, kini pasak itu seolah terus membengkak, seperti disengat ribuan tawon—menggelembung tanpa kendali. Ketika pasak yang kian besar itu dipaksa menancap pada tiang yang rapuh, yang terjadi bukan sekadar goyah, melainkan patah. Dan saat tiang patah, bangunan yang disangganya pun ikut runtuh.

Namun pertanyaannya: apakah pilihan itu akan benar-benar diambil?

Di balik layar, bisa dibayangkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi para menteri, terutama yang mengurusi sektor ekonomi. Defisit anggaran sudah berdiri di depan mata—terang, tak lagi bisa disamarkan. Secara teoritis, jalan keluarnya sederhana: kurangi pengeluaran. Tapi negara bukan rumah tangga. Keputusan fiskal bukan sekadar soal menekan belanja, melainkan berkelindan dengan kepentingan politik, stabilitas sosial, hingga kepercayaan publik. Di titik ini, kesederhanaan berubah menjadi ilusi.

Maka, kebingungan itu terasa wajar. Bisa jadi, di antara mereka ada yang mencoba menggali lebih dalam—mencari gambaran utuh tentang pelaksanaan program di lapangan. Namun ketika pertanyaan diajukan ke kementerian terkait, jawaban yang muncul kerap terasa seperti cermin yang dipoles: memantulkan realitas, tetapi dengan bias tertentu. Sementara itu, data dari publik pun belum tentu memberi kejernihan yang diharapkan. Di antara kepentingan dan persepsi, kebenaran sering kali menjadi kabur.

Dalam situasi seperti itu, mungkin satu-satunya jalan adalah turun langsung—mencari sendiri potongan-potongan realitas yang tercecer. Melihat bagaimana program berjalan, apa yang tersendat, dan di mana letak sesungguhnya persoalan. Sebab keputusan besar tidak bisa hanya bertumpu pada laporan; ia membutuhkan keberanian untuk menyentuh kenyataan.

Sementara itu, di ruang lain—media sosial—suasana terasa jauh lebih panas. Narasi krisis beredar cepat, membentuk kecemasan yang seolah mendahului realitas. Padahal di banyak tempat, kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak semua orang merasakan gentingnya situasi yang ramai dibicarakan. Ada yang tetap hidup dalam ritme tenang, jauh dari hiruk-pikuk informasi dan konflik yang terus diproduksi.

Di sinilah barangkali kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih sunyi: apakah kita sedang menyaksikan realitas, atau sekadar narasi yang dibangun begitu kuat hingga terasa nyata?

Saya sendiri tidak sepenuhnya yakin. Namun satu hal terasa jelas—di antara kegaduhan dan ketenangan yang berjalan bersamaan, kita sedang berdiri di atas sebuah tiang yang mulai retak. Dan keputusan untuk memperbaiki atau membiarkannya patah, tampaknya masih menggantung di udara.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"