Kuliah gratis

-(Rabu, 23 September 2026)-

Dalam pidato Presiden itu, sejatinya ada bagian yang jauh lebih penting dan patut untuk diviralkan agar benar-benar menjadi kenyataan: soal pendidikan gratis, dari SD hingga universitas negeri.

Sayangnya, perhatian publik justru lebih banyak tersedot pada pernyataan Presiden tentang orang-orang pintar yang lama-lama menjadi “goblok”. Buzzer dan para content creator ikut memperbesar isu tersebut. Potongan pernyataan itu beredar, ditanggapi, diperdebatkan, lalu menjadi konsumsi sehari-hari di ruang publik.

Seolah-olah di situlah persoalan terbesar dari pidato tersebut.

Saya bisa memahami jika sebagian orang merasa tersinggung. Terlebih bagi mereka yang selama ini berada di lingkungan intelektual dan terbiasa bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Mereka tentu memiliki hak untuk memberikan tanggapan, bahkan mengkritik balik Presiden atas pernyataan tersebut.

Tetapi ada persoalan lain yang menurut saya jauh lebih penting.

Perdebatan tentang satu kata akhirnya menenggelamkan gagasan tentang pendidikan gratis. Padahal, jika benar-benar diwujudkan, kebijakan tersebut akan menyentuh kehidupan jauh lebih banyak orang. Ia bukan sekadar bahan perdebatan di media sosial, melainkan sesuatu yang berhubungan langsung dengan masa depan keluarga, kesempatan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan, dan beban ekonomi yang selama ini harus ditanggung masyarakat.

Kita seperti terlalu sibuk memperdebatkan suara seseorang, sampai lupa mendengar isi pesannya.

Soal pernyataan “goblok” itu, barangkali memang tidak perlu dibawa terlalu jauh. Bisa jadi Presiden sedang bercanda atau berguyon dalam suasana pertemuan yang cair bersama para pendukungnya. Bisa jadi pula konteks keseluruhannya membuat pernyataan itu tidak dimaksudkan sebagai serangan serius kepada kelompok tertentu.

Tentu orang lain boleh memiliki tafsir berbeda. Mereka juga berhak merasa tidak nyaman atau menganggap pilihan kata tersebut tidak tepat. Tetapi respons publik terhadap sebuah ucapan semestinya tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk memilah mana yang sekadar menjadi keributan dan mana yang berpotensi menjadi kebijakan penting.

Ironisnya, ketika sebagian orang merasa tersinggung lalu membalas dengan kemarahan dan serangan balik, perdebatan itu akhirnya bergerak dalam lingkaran yang sama. Satu pihak merasa diserang, pihak lain merasa perlu menyerang balik. Masing-masing sibuk mempertahankan harga diri, sementara gagasan yang semestinya dibicarakan justru perlahan menghilang dari perhatian.

Di sinilah saya kira publik perlu sedikit menahan diri.

Tidak semua ucapan Presiden harus menjadi perang opini. Tidak semua kata yang kontroversial harus kita jadikan pertarungan panjang. Ada kalanya sebuah pernyataan cukup dicatat, dikritisi seperlunya, lalu dilewati. Sebab ruang publik kita terlalu berharga jika seluruh energinya habis untuk memperdebatkan satu kata.

Yang lebih penting adalah memastikan apakah janji pendidikan gratis itu benar-benar akan diwujudkan.

Kalau pendidikan hingga universitas negeri memang hendak digratiskan, pertanyaan publik seharusnya bukan lagi sekadar siapa yang tersinggung oleh kata “goblok”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana mekanismenya, siapa yang akan menerima, universitas mana yang masuk cakupan, bagaimana pembiayaannya, kapan mulai dilaksanakan, dan apakah kebijakan tersebut benar-benar akan mengurangi beban keluarga?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih sulit menjadi viral. Tidak seseksi potongan video seorang pejabat yang mengucapkan kata kontroversial. Tetapi justru di situlah letak kepentingannya.

Pendidikan gratis bukan sekadar slogan yang enak didengar dalam pidato. Jika diwujudkan dengan desain kebijakan yang tepat, ia dapat menjadi instrumen untuk memperluas kesempatan pendidikan. Anak dari keluarga yang selama ini harus berhitung berkali-kali sebelum membayar uang kuliah akan memiliki ruang yang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan. Keluarga tidak lagi harus memilih antara membiayai kuliah anak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.

Karena itu, menurut saya, publik seharusnya membantu menjaga agar gagasan tersebut tetap berada di ruang percakapan.

Biarkan perdebatan tentang “orang pintar yang menjadi goblok” menemukan ujungnya sendiri. Yang perlu terus ditagih justru janji yang memiliki konsekuensi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Barangkali inilah salah satu bentuk kritik publik yang lebih produktif: bukan sibuk mencari kesalahan setiap kata, tetapi memastikan setiap janji tidak berhenti sebagai kata-kata.

Sudahlah, abaikan saja bagian yang membuat kita tersinggung itu jika memang tidak membawa persoalan ke mana-mana. Mari kembali kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih substantif: pendidikan gratis, termasuk kuliah di universitas negeri.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari viralnya sebuah pernyataan. Masyarakat hidup dari kebijakan yang benar-benar diwujudkan.

Populer

Kabut pagi

Wedangan kelas menengah

Bukan alumni

Apa yang kau cari

Kabut asap

Kreativitas

Teori "dua hari"

Mata uang

Wajah manusia

Birokrasi bernapas