AI & AIR
-(Sabtu, 26 September 2026)-
Ada yang membuat saya sedikit terusik belakangan ini. Setiap kali orang membicarakan penggunaan AI, terutama setelah tren membuat foto dengan AI ramai di media sosial, tiba-tiba muncul narasi tentang air yang menyusut, hutan yang berkurang, dan bumi yang semakin terbebani. Saya tidak menolak fakta bahwa AI memiliki jejak lingkungan. Yang membuat saya tidak nyaman adalah ketika persoalan yang sebenarnya sangat kompleks itu kemudian disederhanakan menjadi semacam tuduhan moral kepada orang yang menggunakan AI.
Karena itu, ketika muncul kalimat bahwa setiap kali seseorang menggunakan AI ia ikut membuat air berkurang, saya merasa perlu bertanya: sesederhana itukah persoalannya?
Memang benar, AI membutuhkan pusat data. Pusat data membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Panas itu harus dibuang, dan sebagian sistem pendinginan menggunakan air. Pembangkit listrik yang memasok pusat data pun dalam kondisi tertentu menggunakan air. Jadi, secara ilmiah, AI memang mempunyai jejak air dan energi. Ini bukan sesuatu yang perlu disangkal.
Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan. AI bukanlah penemuan pertama yang membuat kehidupan digital membutuhkan pusat data.
Jauh sebelum ChatGPT hadir, kita sudah menggunakan Google, YouTube, Netflix, Instagram, TikTok, layanan penyimpanan awan, gim daring, video call, perbankan digital, hingga berbagai aplikasi yang hampir setiap saat terhubung ke server. Semua itu membutuhkan pusat data, listrik, sistem pendingin, perangkat elektronik, jaringan komunikasi, dan berbagai infrastruktur fisik.
Dengan kata lain, dunia digital sejak awal tidak pernah benar-benar "digital" dalam arti tanpa jejak fisik. Di balik sebuah video YouTube yang kita tonton sambil tiduran, ada server yang bekerja. Di balik ribuan foto yang kita simpan di cloud, ada perangkat keras yang harus terus hidup. Di balik satu jam scrolling media sosial, ada jaringan dan pusat data yang menopangnya.
Lalu mengapa ketika AI datang, persoalan ini tiba-tiba terasa seperti sebuah dosa baru?
Jawabannya mungkin karena AI memang membawa sesuatu yang berbeda. Model generatif, terutama untuk gambar dan video, membutuhkan komputasi yang intensif. Pertumbuhan penggunaannya juga sangat cepat. Dunia sedang membangun kapasitas komputasi dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan AI. Karena itu, wajar jika para peneliti mulai menghitung kebutuhan listrik, air, material, dan lahan yang menyertainya.
Tetapi dari sini kita perlu berhati-hati agar tidak melompat terlalu jauh.
Ada perbedaan antara mengatakan bahwa AI meningkatkan kebutuhan sumber daya dan mengatakan bahwa seseorang yang membuat satu gambar AI berarti secara langsung membuat air bumi berkurang. Yang pertama memiliki dasar ilmiah. Yang kedua terlalu menyederhanakan hubungan yang sesungguhnya jauh lebih rumit.
Air yang digunakan dalam sistem pendinginan pun bukan berarti air tersebut lenyap dari planet ini. Sebagian memang dikonsumsi melalui penguapan dan karena itu dapat menimbulkan persoalan serius, terutama ketika pusat data berada di wilayah yang mengalami tekanan terhadap sumber air tawar. Tetapi air tersebut tidak menghilang dari siklus alam. Persoalannya adalah ketersediaan air pada tempat dan waktu tertentu.
Ini seperti kita membicarakan listrik. Ketika menyalakan lampu, kita memang menggunakan listrik. Tetapi rasanya aneh jika seluruh persoalan perubahan iklim kemudian dibebankan secara moral kepada orang yang menyalakan satu lampu di rumahnya. Kita harus melihat bagaimana listrik itu diproduksi, seberapa efisien penggunaannya, sumber energinya apa, dan bagaimana keseluruhan sistemnya bekerja.
AI semestinya dilihat dengan cara yang sama.
Saya juga merasa ada persoalan lain yang perlu diperhatikan: kecenderungan untuk mengubah persoalan struktural menjadi kesalahan individual.
Pusat data dibangun oleh perusahaan teknologi. Server diproduksi oleh industri manufaktur. Listrik disediakan oleh sistem energi. Infrastruktur dibangun berdasarkan keputusan investasi dan kebijakan. Lokasi pusat data ditentukan oleh berbagai pertimbangan, termasuk ketersediaan energi, jaringan, lahan, dan air.
Lalu ketika seorang pengguna membuat satu foto AI, mengapa seluruh persoalan itu tiba-tiba diletakkan di pundaknya?
Tentu bukan berarti pengguna sama sekali tidak punya tanggung jawab. Kita tetap bisa mempertanyakan penggunaan AI yang berlebihan dan tidak perlu. Membuat ratusan gambar hanya karena ingin melihat variasi wajah atau gaya tentu berbeda dengan menggunakan satu ilustrasi untuk sebuah tulisan yang kemudian dibaca banyak orang.
Tetapi di sinilah saya kira pembicaraan tentang lingkungan seharusnya menjadi lebih dewasa. Bukan hanya bertanya berapa banyak energi yang digunakan, tetapi juga untuk apa energi itu digunakan dan manfaat apa yang dihasilkan.
Sebab kalau logikanya adalah setiap aktivitas digital yang membutuhkan server harus diperlakukan sebagai persoalan lingkungan, maka kita harus konsisten. Jangan hanya menunjuk AI ketika menonton YouTube, berselancar di media sosial, menyimpan foto di cloud, bermain gim daring, atau melakukan video call dianggap sebagai sesuatu yang netral.
Bukan berarti satu aktivitas harus dibenarkan hanya karena aktivitas lain juga memiliki dampak. Itu hanya akan menjadi whataboutism. Yang saya persoalkan adalah cara kita membangun narasinya.
AI memang perlu dibuat lebih efisien. Pusat data perlu menggunakan energi yang lebih bersih, sistem pendinginan yang lebih hemat air, perangkat keras yang lebih efisien, dan lokasi yang tidak memperbesar tekanan terhadap sumber daya lokal. Perusahaan teknologi juga perlu lebih transparan mengenai konsumsi energi dan air dari infrastruktur mereka.
Tetapi tanggung jawab itu tidak sama dengan menuding setiap pengguna AI sebagai penyebab berkurangnya air dan hutan.
Ada perbedaan besar antara mengkritik sebuah sistem dan menyalahkan orang yang hidup di dalam sistem tersebut.
Saya kira kita perlu menjaga perbedaan itu.
Sebab teknologi tidak pernah benar-benar gratis. Di balik sesuatu yang tampak sederhana di layar, selalu ada energi, material, manusia, mesin, dan alam yang bekerja. Itu berlaku untuk AI, tetapi juga berlaku untuk hampir seluruh kehidupan digital yang selama bertahun-tahun kita nikmati tanpa banyak bertanya dari mana semua itu berasal.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa persoalan lingkungan AI seharusnya dibicarakan secara proporsional, berbasis data, dan dalam konteks yang lebih luas.
Kalau memang ingin menghitung jejak ekologis teknologi, mari hitung semuanya dengan jujur. Jangan mengambil satu teknologi yang sedang populer, lalu menjadikannya terdakwa tunggal atas persoalan yang sebenarnya sudah jauh lebih tua daripada AI.
Sebab mungkin persoalannya bukan semata-mata bahwa manusia sekarang menggunakan AI.
Persoalannya adalah bahwa selama bertahun-tahun kita menikmati dunia digital seolah-olah ia hidup di awan, padahal di bawah awan itu ada pusat data, pembangkit listrik, tambang, pabrik, kabel, gedung, air, dan begitu banyak sumber daya bumi yang bekerja tanpa terlihat.
AI hanya membuat kita mulai melihatnya.