Yang tak sama

-(Sabtu, 19 September 2026)-

Dua tulisan tentang mutasi itu, jika dibaca kembali, sebenarnya lebih banyak berbicara tentang bagaimana membuat hati tetap tenteram ketika mutasi yang datang tidak sesuai dengan harapan. Ia juga berlaku bagi mereka yang sampai hari ini belum mendapatkan mutasi, padahal mungkin sudah lama menunggu, berharap, bahkan diam-diam bertanya-tanya kapan giliran itu tiba.

Bagaimanapun, membuat hati tetap kuat dan tegar menuju tempat baru jauh lebih penting daripada terus-menerus menangisi keadaan dan merasa menjadi korban nasib. Perasaan “apa salah saya?” yang muncul ketika nama sendiri tidak ada dalam daftar, ketika mutasi justru semakin menjauh dari kampung halaman, atau ketika tempat tugas yang baru terasa semakin jauh dari apa yang selama ini diharapkan, sering kali tidak lebih dari bentuk overthinking. Bukankah hal serupa juga kerap dirasakan anak-anak muda sekarang ketika melihat unggahan atau story teman-temannya? Mereka melihat kehidupan orang lain dari potongan-potongan kecil yang tampak menyenangkan, lalu mulai membandingkannya dengan hidup sendiri.

Dalam urusan mutasi, kita pun kadang melakukan hal yang sama.

Kita melihat seseorang pindah ke tempat yang menurut kita lebih dekat dengan kampung halaman. Ada yang bahkan bertahun-tahun bertugas tidak terlalu jauh dari tempat asalnya. Sementara kita, entah mengapa, harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain, menyeberangi pulau, meninggalkan keluarga, atau memulai lagi kehidupan di tempat yang sama sekali asing.

Di sinilah kenyataan yang sedikit tidak nyaman itu muncul.

Kalau mau sedikit lebih jujur, memang ada orang-orang tertentu yang seolah terlalu istimewa untuk mengikuti pola perjalanan karier yang sama dengan kebanyakan orang. Mereka lebih sering mendapatkan penugasan di kampung halaman atau setidaknya di wilayah yang dekat dengan kampung halaman—dalam konteks ini, katakanlah wilayah Jawa. Bukan berarti setiap orang yang mengalami hal tersebut mendapat perlakuan khusus. Tetapi ketika pola itu berulang beberapa kali, wajar jika orang lain kemudian bertanya-tanya.

Barangkali mereka memang memiliki keahlian atau kompetensi tertentu yang tidak mudah digantikan. Karena itu, organisasi merasa perlu mempertahankannya lebih lama di tempat-tempat tertentu.

Barangkali pula mereka memang dianggap terlalu penting untuk ditempatkan terlalu jauh.

Atau mungkin ada penjelasan yang jauh lebih sederhana: mereka memang dikenal oleh lebih banyak orang yang memiliki kewenangan.

Kita sering ingin percaya bahwa perjalanan karier bekerja seperti sebuah garis lurus. Semua orang memulai dari titik yang kurang lebih sama, menempuh jarak yang sama, lalu pada waktunya berpindah mengikuti pola yang sama pula. Padahal dunia tidak pernah sesederhana itu.

Ada kompetensi, ada kebutuhan organisasi, ada momentum. Tetapi ada pula relasi.

Relasi bukan selalu berarti sesuatu yang buruk. Dalam kehidupan manusia, orang memang cenderung memilih orang yang sudah dikenalnya ketika harus mengambil keputusan, dibandingkan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang pimpinan akan lebih mudah mempercayai orang yang rekam jejaknya sudah ia ketahui. Seseorang yang pernah bekerja bersama tentu memiliki tingkat keterkenalan yang berbeda dengan seseorang yang hanya dikenal dari berkas administrasi.

Maka, jika orang-orang tertentu lebih sering berada di tempat yang dekat dengan asalnya karena mereka memang dikenal dan dipercaya oleh banyak pihak yang memiliki otoritas, barangkali itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka.

Mereka memang sedang mujur.

Mereka memang sedang beruntung.

Dan keberuntungan, suka atau tidak suka, adalah bagian dari kehidupan yang tidak pernah bisa dibagi secara merata.

Tetapi saya kira kita juga tidak perlu terlalu iri. Sebab jumlah orang seperti itu tidak banyak. Mereka pun bukan selalu berada di puncak. Hanya ada satu-dua orang yang perjalanan kariernya tampak sedikit berbeda dari pola kebanyakan orang.

Toh, pada akhirnya mereka tetap mengalami mutasi.

Mereka tetap akan pergi ke daerah. Hanya saja, mungkin waktu keberangkatannya berbeda. Tempatnya mungkin dipilihkan dengan lebih hati-hati. Jaraknya mungkin tidak sejauh yang dialami orang lain. Bisa jadi, dalam perspektif tertentu, itu sekadar cara untuk menjaga kepatutan agar pola umum tetap terlihat dan tetap dapat diterima.

Dan menurut saya, pola itu tetap perlu dihargai.

Sebab organisasi memang tidak selalu bisa memperlakukan setiap orang dengan cara yang persis sama. Keadilan tidak selalu berarti semua orang mendapatkan perjalanan yang identik. Ada kebutuhan organisasi, ada pertimbangan personal, ada kompetensi yang dibutuhkan, dan tentu saja ada dinamika manusia yang tidak seluruhnya bisa diterjemahkan ke dalam tabel atau aturan.

Mungkin yang perlu kita terima adalah kenyataan bahwa dalam setiap perjalanan, selalu ada satu-dua orang yang tidak bisa sepenuhnya kita samakan perlakuannya dengan kita.

Bukan karena mereka pasti lebih hebat.

Bukan pula karena kita pasti kurang berharga.

Hanya saja, jalan yang mereka lalui memang sedikit berbeda.

Dan mungkin di situlah kita perlu belajar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menerima sebuah surat keputusan mutasi: bahwa hidup tidak pernah menjanjikan pembagian jarak yang sama kepada setiap orang.

Ada yang pergi jauh.

Ada yang pergi dekat.

Ada yang cepat.

Ada yang harus menunggu.

Ada yang berkali-kali berpindah.

Ada pula yang untuk sementara waktu tetap tinggal.

Yang paling penting bukan memastikan perjalanan kita sama dengan perjalanan orang lain. Sebab itu hampir mustahil. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa ketika giliran kita datang—ke mana pun kaki ini harus melangkah—kita masih memiliki hati yang cukup lapang untuk menjalaninya.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan kualitas sebuah perjalanan bukan selalu seberapa jauh kita dipindahkan, melainkan seberapa utuh kita mampu tetap menjadi diri sendiri ketika tempat berpijak berubah.

Populer

Puasa Berita

Merdeka

Usai disini

Subuh singgah

Jarak imajinasi

Kawal, Mengawal

Enggan adaptasi

Rumah dinas

Destinasi wisata

Jam karet