Kunci kenangan
-(Minggu, 20 September 2026)-
Entahlah, mungkin saya memang terlalu melankolis. Setiap kali mendengar Samsara dari Soegi Bornean, yang terbayang dalam pikiran saya justru diri saya di masa lalu—ketika sedang berada di sebuah kota yang sebenarnya hanya saya singgahi selama beberapa bulan.
Saya sendiri tidak tahu mengapa kenangan tentang kota itu begitu lekat. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Lagu-lagu Soegi seperti memiliki kemampuan membawa saya kembali ke sana, sebagaimana saya seperti dibawa pulang ke masa SMA setiap kali mendengar Forever in Love dari Kenny G.
Mungkin di situlah kekuatan sebuah lagu. Ia bukan sekadar rangkaian nada yang kita dengarkan, melainkan sesuatu yang kadang diam-diam menyatu dengan tempat, waktu, suasana, dan perasaan ketika pertama kali kita benar-benar menghayatinya. Ada lagu yang kita dengarkan sambil lalu, lalu hilang begitu saja. Tetapi ada pula lagu yang hadir pada sebuah momen tertentu, ketika kita sedang berada dalam keadaan batin yang begitu terbuka, sehingga kesannya seperti terukir lebih dalam daripada yang kita sadari.
Lalu waktu berjalan.
Bertahun-tahun kemudian, lagu itu terdengar lagi. Tiba-tiba saja sebuah pintu terbuka. Kita tidak sedang berniat mengingat apa-apa, tetapi kenangan datang sendiri. Bukan hanya gambarnya, melainkan suasana yang menyertainya. Kita seolah kembali menjadi diri kita yang dulu. Tempat itu kembali memiliki warna, udara terasa seperti pernah kita hirup, jalan-jalan yang pernah dilewati muncul dalam ingatan, bahkan perasaan yang menyertainya seperti ikut kembali.
Nampaknya, ketika berada di kota itu, saya cukup sering mendengarkan lagu-lagu Soegi. Lagu-lagu itu mungkin menjadi semacam musik latar bagi hari-hari saya di sana. Karena itulah, tanpa saya sadari, mereka kemudian tersimpan bersama kenangan tentang kota tersebut.
Yang menarik, periode saya berada di kota itu sebenarnya tidak panjang. Hanya beberapa bulan. Tidak sampai setahun. Bahkan saya pernah melewati periode kehidupan yang jauh lebih panjang daripada itu. Ada tempat yang saya tinggali bertahun-tahun, mengalami begitu banyak peristiwa, bertemu begitu banyak orang, dan menjalani rutinitas yang jauh lebih lengkap. Tetapi anehnya, ketika Samsara atau lagu Soegi yang lain terdengar, yang muncul justru kota yang hanya saya tempati sebentar itu.
Mungkin karena kenangan tidak pernah bekerja berdasarkan ukuran waktu.
Kita sering mengira bahwa sesuatu yang lama semestinya meninggalkan bekas yang lebih dalam daripada sesuatu yang singkat. Padahal belum tentu. Ada masa yang kita jalani bertahun-tahun tetapi terasa datar, lalu ada beberapa bulan yang begitu penuh kesan sehingga menetap jauh lebih lama daripada durasinya sendiri.
Barangkali yang menentukan bukan berapa lama kita berada di suatu tempat, tetapi seberapa utuh kita hadir ketika berada di sana.
Bisa jadi ketika berada di kota itu, saya sedang berada dalam sebuah fase kehidupan yang membuat saya lebih mudah menikmati hal-hal sederhana. Saya mungkin lebih banyak memperhatikan jalan yang saya lewati, suasana sore, percakapan dengan orang-orang, makanan yang saya temui, atau sekadar perasaan menjadi seseorang yang sedang menjalani kehidupan di tempat yang baru.
Dan mungkin saya memang terkesan dengan kota itu.
Saya menikmatinya.
Ada kemungkinan lain yang juga masuk akal: karena waktunya singkat, saya belum sempat merasa jenuh. Saya belum sampai pada titik ketika rutinitas mengubah sesuatu yang semula menarik menjadi biasa. Belum sempat merasa bosan, saya sudah harus pergi. Maka ketika meninggalkan kota itu, yang saya bawa bukanlah kejenuhan, melainkan kesan.
Mungkin justru karena itulah beberapa kenangan terasa begitu indah. Ia berhenti pada saat yang tepat.
Kita pergi sebelum sesuatu menjadi biasa.
Kita meninggalkan sebuah tempat ketika sebagian besar yang tersimpan di sana masih berupa rasa ingin tahu, kegembiraan, dan pengalaman-pengalaman kecil yang belum sempat berubah menjadi rutinitas. Kota itu kemudian membeku dalam ingatan, bukan sebagai keseluruhan kehidupan yang pernah kita jalani di sana, tetapi sebagai potongan masa yang terasa utuh.
Barangkali kenangan memang bekerja seperti itu. Ia tidak menyimpan kehidupan kita sebagaimana adanya. Ia memilih-milih. Mengambil beberapa fragmen, mengabaikan yang lain, lalu menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang kita sebut masa lalu.
Karena itu, sebuah lagu bisa menjadi kunci.
Makanan tertentu bisa menjadi kunci.
Sebuah jalan, aroma hujan, suara kendaraan dari kejauhan, atau bahkan harum parfum tertentu bisa menjadi kunci.
Kita tidak pernah tahu kapan kunci itu akan diputar. Tetapi ketika sesuatu membukanya, tiba-tiba saja kita berada di sana lagi. Di sebuah kota yang mungkin sudah berubah. Di sebuah kamar yang mungkin sudah ditempati orang lain. Di sebuah jalan yang mungkin tidak lagi kita kenali. Atau pada sebuah masa ketika diri kita masih menjadi seseorang yang berbeda.
Dan mungkin memang begitulah cara hidup menyimpan sebagian dirinya di dalam diri kita.
Kita terus berjalan, berpindah kota, berganti pekerjaan, bertemu orang-orang baru, melewati periode yang satu menuju periode berikutnya. Kita mengira semuanya telah berlalu. Padahal sebagian darinya tidak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu sesuatu untuk memanggilnya kembali.
Bagi saya, mungkin Samsara adalah salah satu panggilan itu.
Dan kelak, mungkin akan ada lagu lain, makanan lain, sebuah aroma, atau sesuatu yang bahkan tidak saya duga, yang tiba-tiba membawa saya kembali kepada suatu masa yang sekarang masih saya jalani.
Sebab mungkin hidup memang tidak hanya meninggalkan kenangan di kepala. Ia juga menitipkannya pada benda-benda kecil di sekitar kita.
Dan ketika suatu hari kita bertemu kembali dengannya, kita baru menyadari: ternyata ada bagian dari diri kita yang tidak pernah benar-benar meninggalkan masa itu.
Ia hanya sedang menunggu sebuah lagu untuk pulang.