Nafsu makan

-(Rabu, 30 September 2026)-

Semakin lama menjalani kehidupan, mungkin kita semakin mengenal diri sendiri, termasuk bagaimana kita merespons sesuatu. Ada hal-hal yang mampu kita tahan, tetapi ada pula yang pada akhirnya membuat kita menyerah.

Salah satunya adalah bujukan untuk terus mengunyah.

Entahlah, apa yang sebenarnya dilakukan nenek moyang manusia sehingga kebiasaan mengunyah ini begitu kuat diwariskan kepada kita. Tubuh seolah selalu punya alasan untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Kalau bukan makanan, ada saja pelampiasan lain: rokok, vape, atau sekadar camilan kecil yang katanya hanya untuk menemani waktu luang. Ujungnya sama: mulut tetap sibuk.

Di situlah saya melihat salah satu godaan terbesar ketika seseorang ingin hidup lebih sehat. Musuhnya sering kali bukan makanan yang tersedia di meja, bukan pula restoran atau iklan makanan. Musuh yang paling sulit dikalahkan justru ada di dalam diri sendiri: keinginan untuk makan.

Yang menarik, tubuh dan pikiran kita kadang seperti memiliki dua wajah.

Ketika berpuasa, misalnya, kita bisa melewati berjam-jam tanpa makan. Kita mungkin melihat makanan, mencium aromanya, bahkan membayangkan rasanya, tetapi tetap mampu menahan diri. Seolah-olah kita memiliki kendali penuh atas tubuh.

Namun begitu waktu berbuka tiba, sesuatu seperti terlepas.

Makanan yang sebelumnya biasa saja mendadak terlihat jauh lebih menarik. Kita ingin mencoba semuanya. Yang ada di meja terasa sayang kalau tidak disentuh. Perut mungkin belum benar-benar membutuhkan sebanyak itu, tetapi tangan dan mulut seperti sudah memiliki keputusan sendiri.

Saya sering bertanya-tanya, mengapa bisa begitu?

Apakah ini yang disebut hawa nafsu? Ataukah sebenarnya ada mekanisme biologis yang bekerja melalui hormon dan sinyal lapar? Atau pikiran kita sedang memainkan warisan panjang dari proses evolusi manusia—mendorong kita untuk makan sebanyak mungkin karena pada masa lalu manusia tidak pernah tahu kapan makanan berikutnya akan tersedia?

Mungkin jawabannya bukan salah satu, melainkan gabungan dari semuanya.

Tubuh memiliki mekanismenya sendiri. Otak memiliki ingatannya sendiri. Sementara pikiran kita belajar menghubungkan makanan dengan banyak hal: rasa nyaman, hadiah setelah bekerja, teman ketika bosan, bahkan pelarian ketika sedang menghadapi tekanan.

Karena itu, persoalan makan mungkin tidak sesederhana persoalan disiplin.

Lihat saja betapa banyak orang berulang kali mencoba diet untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan. Ada yang berhasil, tetapi tidak sedikit yang kembali ke kebiasaan lama setelah beberapa waktu. Bukan karena mereka tidak tahu makanan apa yang sehat atau berapa banyak yang seharusnya dimakan. Mereka tahu. Persoalannya adalah mengetahui dan mampu menjalankannya merupakan dua perkara yang berbeda.

Saya sendiri kadang merasa pesimis ketika menyadari bahwa mulut ini seperti tidak pernah benar-benar bisa diajak berhenti mengunyah. Baru saja selesai makan, beberapa waktu kemudian sudah mencari sesuatu lagi. Kadang bukan karena lapar. Hanya ingin mengunyah.

Pada titik tertentu saya mulai berpikir, jangan-jangan yang dicari bukan makanan.

Mungkin ada sesuatu dalam pikiran yang belum selesai. Ada kebosanan yang ingin dialihkan, kegelisahan yang ingin diredakan, atau beban yang belum benar-benar lepas. Lalu makanan menjadi tempat pelarian yang paling mudah dijangkau. Mengunyah memberikan jeda kecil, seolah-olah persoalan yang ada di kepala bisa ditunda untuk beberapa menit.

Barangkali karena itu mengendalikan makan tidak selalu cukup dilakukan dengan berkata kepada diri sendiri: jangan makan.

Kita mungkin juga perlu bertanya: sebenarnya saya sedang lapar, atau sedang membutuhkan sesuatu yang lain?

Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak selalu mampu menghentikan tangan untuk mengambil makanan. Tetapi setidaknya membuat kita mulai mengenali siapa yang sebenarnya sedang berbicara ketika mulut meminta sesuatu untuk dikunyah.

Populer

Membaca pikiran

Mutasi pulang?

Kredit macet

Selera pisang

Romantisasi lampau

Defisit Kalori

Destinasi wisata

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Politik bergosip

Sisi gelap