Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Melawan arus

-(Selasa, 30 September 2025)- Diluar terdengar suara hujan ketika saya terbangun. Spontan tangan meraih smartphone, sekadar melihat jam. Waktu belum menunjukkan pukul 4 pagi—masih ada waktu hampir satu jam sebelum alarm berbunyi. Namun, muncul dorongan untuk bangun lebih awal dan melanjutkan kebiasaan harian: sholat tahajud. Akhirnya saya beranjak ke kamar mandi. Selepas wudhu, wajah saya keringkan dengan handuk, lalu saya kenakan sarung untuk sholat. Seperti biasa, tahajud saya cukupkan empat rakaat dengan dua salam, kemudian ditutup dengan witir tiga rakaat sekaligus. Setelah itu, zikir dan doa saya panjatkan. Biasanya setelah rangkaian ibadah itu, waktu subuh sudah dekat. Tapi kali ini masih ada setengah jam. Saya pun merebahkan diri di kursi panjang sambil menggenggam smartphone. Dari situ muncul niat untuk menulis sesuatu. Saya buka aplikasi catatan, berharap ada ide segar yang bisa segera dituliskan. Namun, lima menit berlalu tanpa kata, hanya hening dan pencarian gagasan dalam k...

Harga waktu

-(Senin, 29 September 2025)- Earl Stone adalah seorang pria tua berusia 80-an. Dahulu, ia dikenal sebagai pengusaha bunga yang sukses. Namun, kejayaan itu tidak bertahan lama. Bisnisnya bangkrut, hidupnya runtuh, dan yang lebih menyedihkan, hubungannya dengan keluarga pun hancur. Earl terlalu sibuk mengejar karier hingga lupa pada mereka yang seharusnya paling ia utamakan. Ia bahkan lebih memilih menghadiri acara penghargaan atas karyanya ketimbang mendampingi putrinya sendiri di hari pernikahannya. Dalam keterpurukan finansial, kesempatan tak terduga datang. Earl mendapat tawaran pekerjaan sebagai “sopir.” Tanpa ia sangka, pekerjaan itu ternyata adalah menjadi kurir narkoba bagi kartel Meksiko. Anehnya, usia tuanya justru menjadi keuntungan. Dengan penampilan yang tidak mencurigakan, Earl berhasil menjadi kurir paling andal. Ia mampu mengangkut ratusan kilogram kokain tanpa tersentuh hukum. Uang yang ia peroleh dimanfaatkannya untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama putri...

Realitas baru

-(Minggu, 28 September 2025)- Cerita ini saya dengar dari sebuah kuliah di salah satu channel YouTube. Pengajarnya adalah seorang Romo ternama. Pada satu sesi, beliau memberikan contoh sederhana tentang bagaimana realitas dapat lebih cepat mengubah persepsi. Begini kisahnya. Seorang pemuda selalu ketakutan setiap kali masuk ke kamarnya. Orang tuanya bertanya, “Kenapa kamu takut?” Anak itu menjawab, ada setan di kolong tempat tidurnya. Orang tuanya kemudian membawa sang anak ke psikolog. Namun, meski sudah beberapa kali konsultasi, rasa takut itu tidak juga hilang. Bapaknya mulai bingung. Padahal, uang berjuta-juta sudah dihabiskan untuk sesi terapi. Akhirnya mereka mencoba ke psikolog lain. Menariknya, hanya dengan satu kali pertemuan, masalah itu selesai. Apa saran psikolog kedua? Sangat sederhana: potong saja kaki-kaki tempat tidur, sehingga tidak ada lagi kolong yang bisa menimbulkan bayangan ketakutan bagi si anak. Kisah ini memberi pelajaran penting. Sering kali kita berusaha memb...

Jalan menulis

-(Sabtu, 27 September 2025)- Dua hari kemarin saya melakukan sebuah percobaan aneh: berjalan kaki sambil menulis. Ternyata, percobaan itu berhasil. Percobaan ini berangkat dari pemikiran bahwa waktu jangan sampai terbuang percuma hanya untuk berjalan kaki. Meski demikian, mungkin pemikiran ini keliru, sebab pada dasarnya tidak ada waktu yang terbuang ketika kita berolahraga. Olahraga justru merupakan investasi bagi kesehatan kita. Tetap saja, saya ingin mencobanya. Tentu hal ini tidak mungkin dilakukan di jalan raya. Bisa-bisa malah membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Bagaimanapun, baik berjalan kaki maupun berlari di jalan raya menuntut fokus dan kewaspadaan, terutama terhadap kendaraan. Bahkan ada yang mengatakan sebaiknya kita berjalan atau berlari melawan arus, agar lebih jelas melihat apa yang ada di depan, tanpa harus khawatir kendaraan datang dari belakang. Karena itu, saya memilih sebuah tanah lapang yang sepi, tanpa kendaraan. Di situlah saya berjalan berkeliling, ber...

Dana Daerah

-(Jumat, 26 September 2025)- Faktanya, alokasi TKD tahun 2026 turun dibandingkan tahun ini. Sejak awal, pemerintah daerah sudah merasakan keresahan atas penurunan itu, dan puncaknya barangkali terjadi ketika rincian alokasi resmi diterbitkan. Namun, bagaimanapun keputusan ini sudah diketok palu. Pemerintah tentu memiliki argumen untuk memilih kebijakan tersebut, dan Dewan pun telah menyetujuinya. Bahwa benar alokasi TKD turun—itu tidak terbantahkan. Tetapi penurunan itu tidak serta-merta berarti pembangunan daerah akan berkurang. Pemerintah pusat telah menyiapkan program-program yang ditujukan langsung bagi daerah, dengan tujuan utama mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya, kucuran dana dari pusat ke daerah tetap berjalan, bahkan bisa saja lebih besar, hanya saja bentuk dan mekanismenya berbeda. Barangkali analoginya seperti ini: jika sebelumnya orang tua memberi uang kepada anak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, kini orang tua memilih langsung membelanjakan kebutuhan itu. Dalam kon...

Kebutuhan dasar

-(Kamis, 25 September 2025)- Setiap pagi, ketika saya berjalan kaki menyusuri jalanan utama kota ini, saya menyaksikan pemandangan yang berulang: para pekerja tambang berangkat menuju tempat kerja. Ada bus dan mobil yang mengangkut mereka. Beberapa orang berdiri di tepi jalan, menunggu jemputan. Di sekitar warung mobil, terlihat pula beberapa pekerja yang menyempatkan diri sarapan sambil menanti kendaraan tumpangan. Pemandangan ini bukan peristiwa sekali-sekali, melainkan rutinitas harian. Sama halnya dengan langkah kaki saya yang berulang setiap pagi, juga dengan pegawai kantoran yang berangkat kerja setiap hari kerja. Bahkan, jika dipikirkan lebih jauh, rutinitas itu mirip dengan matahari yang selalu terbit di timur, bergerak ke barat, lalu tenggelam pada waktunya. Pertanyaan pun muncul: sampai kapan para pekerja tambang menjalani rutinitas semacam ini? Persis sama dengan pertanyaan: sampai kapan para pegawai kantoran berhenti bekerja? Tentu jawabannya sederhana: sampai mereka pensiu...

Menyadari kefanaan

-(Rabu, 24 September 2025)- Ketika berada di Mekkah dan Madinah, hampir setiap hari saya ikut berdiri dalam sholat jenazah atau sholat gaib. Begitu sering, sampai-sampai rasanya menjadi bagian dari keseharian di tanah suci. Namun, beberapa bulan setelah kepulangan, barulah hari Minggu kemarin saya kembali merasakan suasana sholat jenazah di tanah air. Pengalaman kali ini berbeda. Saya berdiri di shaf terdepan, tepat berhadapan dengan keranda. Di tanah suci, jenazah biasanya tidak tampak dari posisi jamaah, sehingga saya hanya mengikuti sholat tanpa melihat langsung. Tetapi kali ini, keranda itu begitu dekat, nyata, dan jelas di depan mata. Saya tidak mengenal almarhum. Namanya saya ketahui hanya dari pengumuman keluarga yang disampaikan di masjid. Sebenarnya, niat saya datang hanya untuk sholat dhuhur berjamaah. Namun, begitu memasuki masjid, suasana terasa lain: jamaah begitu banyak, tidak seperti biasanya. Rupanya karena ada jenazah yang akan disholatkan, dan banyak orang datang untu...

Ingatan Belanja

-(Selasa, 23 September 2025)- Barangkali setiap kali melihat atau bertemu saya, Pak Bupati itu selalu teringat pada persoalan penyerapan anggaran, alias realisasi belanja daerah. Hal ini wajar, sebab setiap kali berjumpa, saya konsisten menyampaikan evaluasi terkait penyaluran TKD maupun capaian realisasi belanja APBD. Bahkan, laporan bulanan mengenai kinerja penyaluran TKD dan realisasi APBD selalu kami sampaikan secara rutin. Jadi, mungkin karena itulah, setiap kali bertemu saya, yang langsung muncul di ingatan beliau adalah kinerja belanja daerahnya. Dalam rentang dua minggu itu, saya sempat bertemu Pak Bupati sebanyak dua kali dalam dua acara berbeda. Pertemuan pertama terjadi dalam forum high level meeting TPID, TP2DD, dan TPAKD. Kebetulan saya duduk di sebelah beliau. Tiba-tiba, beliau berinisiatif menyampaikan bahwa sudah ada upaya percepatan belanja, antara lain melalui percepatan proses pengadaan barang dan jasa. Berbagai proyek infrastruktur, katanya, akan segera dimulai, den...

Maulidan semarak

-(Senin, 22 September 2025)- Subuh itu, setelah sholat di langgar, saya hendak pulang ketika seorang jamaah menyusul dari belakang. Dengan ramah ia menyampaikan undangan agar saya hadir pada acara peringatan Maulid Nabi malam nanti. Saya pun tersenyum dan menjawab singkat: insyaallah. Pagi itu memang sudah tampak suasana berbeda. Di dalam mushola, bagian depan mulai dipasang dekorasi. Di halaman, berdiri tenda sederhana sebagai atap tambahan untuk menampung jamaah. Dari kabar yang saya peroleh, bahwa di daerah ini tradisi Maulid berlangsung sepanjang bulan Rabiul Awal. Hampir semua masjid dan mushola menggelar acara serupa, bahkan ada yang menyelenggarakannya di rumah-rumah warga. Malam itu bertepatan malam Jumat. Saya datang untuk sholat Isya dan sekaligus mengikuti rangkaian acara Maulid Nabi. Suasana terasa semarak. Di langgar maupun di bawah tenda luar, snack atau jajanan kemasan tampak digantung dengan tali rapia yang dibentangkan dari dinding ke dinding. Pemandangan ini rupanya c...

Kredit rakyat

-(Minggu, 21 September 2025)- Jika benar para bank Himbara itu pusing setelah menerima penempatan dana dengan total Rp200 triliun—di mana mereka harus memberikan imbal hasil ke pemerintah sebesar 4%—maka seharusnya mereka menggali usulan dan masukan dari masyarakat. Pertanyaan penting: kredit macam apa yang sebenarnya dibutuhkan rakyat kita? Tentu saja, kredit berbunga rendah. Dengan kewajiban imbal hasil 4%, bunga 6% masih masuk akal untuk diterapkan dan barangkali tetap memberi keuntungan bagi perbankan. Selain soal bunga, pemerintah dan masyarakat tentu menginginkan agar proses peminjaman tidak berbelit-belit. Bahkan, sampai plafon tertentu, idealnya tidak perlu ada agunan. Proses cepat peminjaman ini juga bisa diakomodasi melalui aplikasi semacam pinjaman online versi perbankan, yang tentu saja harus menjaga keamanan data dan tetap prudent. Dengan cara itu, perbankan bisa menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengulang kesalahan fintech ilegal yang kerap merugikan. Satu hal yang tida...

Arah baru Menkeu

-(Sabtu, 20 September 2025)- Sudah ada beberapa pernyataan dari Menkeu baru yang sebagian bahkan sudah diformalkan menjadi kebijakan. Sementara itu, sejumlah pernyataan lain yang lebih berupa rencana aksi tentu harus segera diikuti dengan eksekusi nyata di lapangan. Dan di sinilah tugas direktorat terkait menjadi krusial: menyusun regulasi serta juknis implementasi agar setiap kebijakan tidak berhenti di tataran wacana. Ambil contoh soal penempatan dana Rp200 triliun. Memang sudah ada KMK-nya, tetapi aturan itu masih bersifat umum. Belum diatur hal teknis. Misalnya: laporan bulanan seperti apa yang harus disampaikan bank, evaluasi macam apa yang akan dilakukan Kemenkeu, serta bagaimana koordinasi teknis dengan OJK dalam mengawasi penyaluran kredit hasil penempatan dana tersebut. Hal-hal semacam ini penting karena keberhasilan kebijakan ini ditentukan oleh eksekusi detail, bukan hanya angka besar yang diumumkan. Contoh lain, rencana Menkeu untuk mengajak BGN melakukan press release. Ide...

Kebiasaan Langgar

-(Jumat, 19 September 2025)- Bagaimanapun, setiap masjid, mushola atau langgar punya tata cara dan kebiasaan masing-masing. Setidaknya, dalam seminggu saya biasa sholat berjamaah di lima masjid atau mushola yang berbeda. Dari situ saya merasakan bagaimana perbedaan kecil dalam mengatur iqomat bisa menghadirkan pengalaman yang juga berbeda. Ada satu masjid yang sangat disiplin dalam urusan iqomat. Di sana dipasang jam besar dan timer menuju iqomat, yang bisa dilihat oleh semua jamaah. Kehadiran timer ini memberi tanda sekaligus informasi penting. Misalnya, ketika waktu iqomat masih agak lama, itu seperti memberi isyarat: silakan sholat sunnah lebih dulu. Tapi kalau waktu tersisa hanya satu menit, isyaratnya jelas: sebaiknya cukup berdoa atau berdzikir saja. Kedisiplinan masjid ini betul-betul tegas. Walaupun semua jamaah sudah selesai sholat sunnah dan hanya menunggu, petugas tetap tidak akan melantunkan iqomat sebelum timer berbunyi. Sebaliknya, meskipun masih ada jamaah yang sholat su...

Pertarungan subuh

-(Kamis, 18 September 2025)- Tiba-tiba saja gerimis turun menjelang waktu subuh. Seingat saya, baru kali ini terjadi. Hari-hari sebelumnya tidak pernah ada hujan pada waktu yang sama. Padahal saya sudah bersiap berangkat menuju langgar. Anehnya, peristiwa ini juga sempat terjadi menjelang maghrib kemarin. Seolah-olah ada sebuah ujian kecil yang datang berulang: apakah saya akan tetap berangkat ke mushola, atau memilih shalat sendiri di rumah. Secara fikih, hujan memang alasan yang sah untuk bertahan di rumah. Namun, rasa tidak nyaman itu tetap hadir—seperti ada bisikan halus yang menuduh, “Ah, lemah sekali. Gerimis begini saja sudah takut. Padahal ada pahala yang lebih besar bila kau tetap melangkah.” Tetapi saya sadar, persoalannya bukan hanya soal gerimis. Ada sisi malas yang turut bermain, menggoda dengan argumen yang tampak masuk akal: “Tidak apa-apa, shalat di rumah saja. Lagipula, kalau hujan bertambah lebat, kau bisa basah kuyup, masuk angin, lalu sakit.” Di titik itulah saya me...

Sinergi makan bergizi

-(Rabu, 17 September 2025)- Kemarin kami kedatangan tamu dari teman-teman SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) yang telah direkrut oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka ini juga berperan sebagai komandan di setiap SPPG atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dibangun di daerah ini. Kami berbicara dan berdiskusi panjang tentang progres program MBG. Sudah ada dapur yang beroperasi dan melayani siswa-siswi penerima manfaat di beberapa sekolah. Dalam waktu dekat, beberapa dapur tambahan akan menyusul. Dari percakapan itu, ada beberapa hal menarik yang menurut saya penting dicatat. Meski program ini digagas pemerintah pusat, pada praktiknya mereka tetap membutuhkan dukungan Pemda. Setidaknya berupa tempat untuk berkantor atau ruang pertemuan yang bisa dipinjamkan agar mereka bisa berkoordinasi. Selain itu, ada kebutuhan penting lain: data penerima manfaat. Mereka memerlukan data sekolah beserta jumlah murid dan guru, juga data ibu hamil, balita, dan lansia. Di sinilah pe...

Mesin ekonomi

-(Selasa, 16 September 2025)- Lebih dari lima menit saya mencoba mengorek isi kepala, mencari gagasan yang bisa dituangkan hari ini. Tetapi, tidak juga ketemu. Barangkali inilah yang disebut writer’s block, kondisi ketika penulis merasa seperti menghadapi tembok besar yang menghalangi aliran ide. Namun, pikiran saya kemudian tertuju pada isu hangat: rencana Menteri Keuangan yang kembali ingin menghidupkan dua mesin ekonomi. Mesin pertama adalah penempatan dana pemerintah pada bank-bank Himbara. Harapannya, likuiditas tambahan ini akan mendorong bank untuk memperluas penyaluran kredit ke masyarakat. Jika kredit bergerak, konsumsi rumah tangga dan investasi swasta ikut terstimulasi, sehingga roda ekonomi kembali berputar. Mesin kedua adalah akselerasi belanja pemerintah, baik dari APBN maupun APBD. Kita tahu, realisasi anggaran memang menjadi masalah klasik. Hampir setiap tahun, pola yang sama terulang: serapan rendah di paruh pertama, lalu melonjak di triwulan IV. Akibatnya, dampak bela...

Penempatan 200T

-(Senin, 15 September 2025)- Soal penempatan dana 200T itu, mengingatkan saya kembali pada apa yang telah dilakukan pemerintah di masa pandemi Covid. Kebetulan saya ikut terlibat dalam mengawal program itu, yang dikenal dengan penempatan uang negara (PUN). Artinya, pemerintah sebenarnya sudah punya lesson learn atas apa yang pernah dilakukan. Itu terjadi pada periode 2020–2021, ketika pemerintah setidaknya tiga kali menempatkan dananya di perbankan. Pada saat itu, tidak hanya bank Himbara, tetapi juga BPD yang mendapatkan kucuran dana. Tujuan dari kebijakan ini cukup jelas, yaitu untuk menggerakkan sektor riil di tengah tekanan krisis kesehatan. Meski demikian, langkah tersebut tidak lepas dari perdebatan. Saya masih ingat bagaimana saat itu sempat muncul kekhawatiran. Dengan diberlakukannya PPKM yang membatasi aktivitas masyarakat dan dunia usaha, muncul pertanyaan: apakah dana yang dikucurkan benar-benar bisa efektif mendorong aktivitas ekonomi, atau hanya berputar di sistem perbanka...

Jalan rekreasi

-(Minggu, 14 September 2025)- Saya selalu kagum pada orang-orang yang bisa konsisten. Apalagi dalam olahraga. Ada yang tetap rutin berlari, padahal usianya tidak lagi muda. Saya membayangkan, mungkin tubuh mereka sudah terbiasa, sehingga lari bukan lagi sekadar hobi atau ikut-ikutan, tapi sudah menjadi kebutuhan. Kalau kebutuhan itu tidak terpenuhi, mungkin ada sesuatu yang terasa kurang dalam hari-hari mereka. Bisa juga muncul rasa tidak nyaman, atau malah sakit yang timbul karena melewatkan lari. Mungkin di situlah lari sudah berubah bentuk—dari sekadar aktivitas—menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan. Saya pun pernah mengalami masa itu. Dulu saya bisa berlari seminggu dua kali, bahkan lebih. Tapi seiring bertambahnya usia, lari mulai terasa berat. Bukannya segar, malah seperti menyiksa. Bisa jadi karena saya terlalu memaksakan diri. Namun ada juga pikiran yang ikut menyelip: soal keberlanjutan. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah lari ini bisa saya lakukan sampai tua nant...

Menantang usia

-(Sabtu, 13 September 2025)- Seiring waktu, nampaknya ingatan saya mulai berubah, tak lagi setajam sebelumnya. Baru saja saya menyadari, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah gagasan menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Namun sampai saat ini, saya benar-benar lupa gagasan apa itu. Saya hanya mengingat momen ketika ide itu muncul. Saat itu, saya sempat berniat menuliskannya di catatan HP, tapi saya urungkan karena merasa yakin akan mampu mengingatnya. Meski demikian, ada pula rasa khawatir yang terbersit: bagaimana jika saya justru lupa? Kekhawatiran itu kini terbukti. Hal ini bukanlah kejadian pertama, melainkan sudah berulang kali saya alami. Karena itu, saya merasa perlu berkomitmen untuk segera menuliskan setiap ide yang muncul, tanpa menunda. Rupanya, mengandalkan ingatan saja tak lagi cukup, sebab ia tak setajam dulu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang salah dengan usia sehingga membuat kemampuan manusia menurun? Kita sering mendengar permakluman dengan mengatasnamakan u...

Cermin anggaran

-(Jumat, 12 September 2025)- Saya percaya setiap pelaksanaan tugas dan fungsi kementerian/lembaga digerakkan oleh anggaran yang mereka miliki. Dengan kata lain, anggaran adalah bahan bakar yang memungkinkan roda pelaksanaan tugas bergerak. Ketika anggaran belum terserap optimal atau realisasinya masih rendah, hal itu menjadi indikator bahwa pelaksanaan tugas pun belum berjalan sebagaimana mestinya. Maka, jika sebuah kementerian/lembaga tidak mampu merealisasikan anggaran sesuai target pada periode tertentu, hal ini menunjukkan kinerja yang belum optimal. Bagi masyarakat, dan juga presiden, capaian tersebut akan menjadi catatan penting atas kepemimpinan para pimpinan lembaga. Apalagi jika kondisi ini terjadi setelah melewati semester pertama, hal itu semakin menegaskan belum adanya upaya maksimal untuk mengatasi tantangan yang dihadapi. Seolah mereka hanya mengandalkan waktu sebagai solusi, tanpa langkah percepatan yang nyata. Karena itu, keterbukaan data realisasi anggaran menjadi pent...

Waktu, Alam, Manusia

-(Kamis, 11 September 2025)- Waktu terus bergerak maju. Ia tak pernah mundur. Namun, jadwal sholat nampaknya justru bergerak maju dan mundur. Saya mencoba memperhatikan jadwal sholat setiap hari. Rasanya kini waktu Subuh lebih awal dibanding beberapa waktu lalu. Dulu, awal Subuh baru masuk sekitar pukul lima lewat. Sekarang, sebelum pukul lima kita sudah mendengar azan Subuh. Ada selisih lebih dari lima menit yang terasa signifikan. Perubahan ini berpengaruh pula pada jadwal Dhuhur dan sholat lainnya, yang juga datang lebih cepat. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh rotasi bumi, revolusi bumi mengelilingi matahari, serta siklus alamiah yang memang bergerak demikian adanya. Kelak, jadwal sholat itu akan kembali bergeser. Subuh tidak lagi sebelum pukul lima, tetapi sesudahnya. Demikian pula dengan Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya—semuanya akan mengalami perubahan perlahan. Inilah yang selalu hadir dalam hitungan waktu: sesuatu yang terus berubah, sementara kita ada di dalam arusnya. Peru...

Ikigai hidup

-(Rabu, 10 September 2025)- Ada satu informasi menarik: orang-orang Jepang dikenal dapat hidup panjang, bahkan hingga ratusan tahun. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka bisa mencapai usia sepanjang itu? Memiliki umur panjang dan sehat tentu menjadi harapan sebagian besar manusia. Bahkan, ada yang membayangkan hidup abadi. Chairil Anwar, misalnya, pernah menulis keinginan untuk hidup seribu tahun lagi. Dalam film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, para tokohnya berusaha keras mencari air keabadian. Dalam buku Homo Deus, Yuval Noah Harari juga mengungkap bagaimana manusia lewat sains dan teknologi berupaya menyimpan memori dalam sebuah entitas atau robot, seolah-olah membuat kehidupan bisa terus berlanjut. Namun, resep panjang umur orang Jepang tidaklah serumit atau sefantastis itu. Ada satu konsep sederhana tetapi mendalam, yang disebut Ikigai. Yaitu menjalani hidup sesuai panggilan jiwa, menemukan alasan untuk bangun setiap hari, dan terus berkarya. Dalam budaya Jepang, ti...

Rumus tabungan

-(Selasa, 9 September 2025)- Ketika kita ingin membeli HP, pertanyaan yang sering muncul adalah: dari pos keuangan mana sebaiknya dana diambil? Jawaban yang paling tepat tentu dari pos tabungan. Membeli HP dengan dana tabungan jauh lebih aman daripada mengganggu anggaran kebutuhan pokok, apalagi sampai berutang. Namun, sebelum membicarakan cara membeli HP, kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana tabungan itu terbentuk.  Rumusnya: penghasilan - pengeluaran = tabungan.  Rumus ini adalah sebuah keniscayaan. Jika penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, maka tabungan akan bertambah. Sebaliknya, jika pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, tabungan bisa minus, bahkan membuat kita harus berutang untuk menutup kekurangan. Dengan pemahaman ini, kita bisa lebih mudah mengambil keputusan. Katakanlah kita ingin membeli HP dengan harga tertentu, sementara tabungan belum mencukupi. Pilihan yang muncul biasanya ada dua: menunggu hingga tabungan terkumpul atau langsung memin...

Batman vs Joker

-(Senin, 8 September 2025)- Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, bahkan setiap tahun, kita berupaya keras mendorong akselerasi belanja pusat dan daerah agar tidak menumpuk di ujung tahun. Namun kenyataannya, dari tahun ke tahun, upaya ini seolah tak pernah benar-benar berhasil. Meski ada perbaikan di sana-sini, kondisinya belum banyak berubah: realisasi anggaran masih menumpuk di akhir tahun. Lalu, untuk apa sebenarnya semua upaya itu jika hasilnya tetap sama? Situasi ini seakan menciptakan sebuah absurditas kerja. Barangkali kondisi ini mirip dengan kisah Sisyphus dalam mitologi Yunani: tokoh yang terus mendorong batu ke puncak bukit meski pasti akan jatuh kembali. Upaya yang sia-sia, tapi terus diulang. Dari sinilah muncul pertanyaan: apakah kita akan terus mendorong batu itu dengan tekad, atau sekadar menertawakan absurditasnya? Untuk memahami sikap yang mungkin diambil, kita bisa bercermin pada dua tokoh fiksi yang kontras: Batman dan Joker. B...

Pasar lejen

-(Minggu, 7 September 2025)- Sudah lama saya menyimpan keinginan untuk masuk ke dalam pasar itu. Satu pasar, yang terletak tepat di depan balai kota, di sebuah kota yang namanya sama dengan istilah untuk seorang penyanyi yang tampil seorang diri. Namun, kesempatan untuk benar-benar masuk ke pasar itu seolah tak pernah datang. Hingga akhirnya, tanpa rencana, sebuah gagasan tiba-tiba muncul begitu saja. Keinginan lama itu akhirnya terlaksana. Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi, ketika kami berniat mencari kuliner sarapan di kota ini. Tujuan pertama kami ternyata belum siap menyajikan masakan. Maka kami pun menyusuri jalanan kota sambil mencari referensi tambahan di media sosial. Tiba-tiba, tanpa berpikir panjang, saya menyebutkan nama pasar itu. Setelah memarkir kendaraan, kami segera mencari pintu masuk. Suasana pagi di dalam pasar mulai hidup. Kami berjalan menyusuri gang-gang sempit dengan kios dan lapak pedagang di kanan kiri. Beberapa warung sudah tampak bersiap, salah satunya wa...

Generasi bergizi

-(Sabtu, 6 September 2025)- Mudah-mudahan para guru tidak hanya mengawasi pembagian paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memberikan pemahaman kepada murid mengenai komposisi makanan bergizi. Dengan begitu, anak-anak tidak sekadar menyantap makanan tersebut, melainkan juga memahami pentingnya gizi seimbang bagi tubuh mereka. Harapannya, program MBG mampu menumbuhkan kebiasaan sekaligus kegemaran anak-anak untuk mengonsumsi makanan bergizi. Lebih jauh, program ini bisa menjadi titik balik dalam membentuk generasi baru—dari yang selama ini, kita sebut saja generasi karbo menuju generasi bergizi. Mengapa bisa disebut “generasi karbo”? Mari kita amati pola makan masyarakat saat ini. Tidak sedikit orang yang piring makannya lebih banyak dipenuhi karbohidrat. Contoh sederhana, seporsi mie dengan lauk gorengan berbahan dasar sama seperti mie itu sendiri, lalu ditutup dengan es teh manis. Bukankah hampir semuanya karbohidrat? Belum lagi jajanan yang beredar di seki...

Sifat serakah

-(Jumat, 5 September 2025)- Barangkali kita sering bertanya-tanya: dari manakah sifat serakah manusia itu berasal? Apakah ia sudah tertanam secara bawaan (built-in) dalam diri kita, ataukah muncul sebagai hasil proses panjang evolusi? Dalam film The Hobbit, misalnya, sifat ini digambarkan dengan jelas. Diceritakan bagaimana kakek Thorin, seorang raja bangsa kurcaci, terbuai oleh limpahan emas dan harta. Kekayaan itu membuatnya dipenuhi keserakahan, hingga ia tidak lagi peduli pada kerajaannya. Ketika Bilbo Baggins, sang hobbit, berhadapan dengan Smaug, ia mendengar ucapan sang naga bahwa keserakahan akan tumbuh dalam diri Thorin begitu ia melihat emas yang berlimpah. Dan benar, pada akhirnya Thorin mengingkari janjinya untuk berbagi harta dengan penduduk Lake Town. Kisah semacam itu tidak hanya hadir dalam fiksi. Dalam sejarah, kita juga kerap mendengar bagaimana keserakahan manusia melahirkan bencana kemanusiaan. Kolonisasi, penjajahan, hingga pengerukan harta dan emas penduduk pribum...

Kuantum pangan

-(Kamis, 4 September 2025)- Banyak orang mungkin akan mengernyit kalau mendengar fisika kuantum dibicarakan di tengah hiruk-pikuk saat ini. Bagaimana tidak? Kita masih sibuk dengan debat politik sampai urusan remeh yang terus jadi bahan ribut. Lalu tiba-tiba, misalnya ada yang bicara soal partikel, gelombang, dan teori aneh yang terdengar jauh dari tanah. Tapi, bukankah ponsel yang kita pakai, internet yang kita akses, bahkan mesin MRI di rumah sakit—semua lahir dari riset kuantum? Artinya, ilmu yang kelihatan “langit-langit” itu sebenarnya sudah menyusup ke dalam keseharian kita. Kita mungkin tidak mengerti rumusnya, tapi kita menikmati hasilnya. Lalu, apakah ada kaitannya dengan kita hari ini, yang sedang fokus pada makan bergizi gratis, koperasi desa, ketahanan pangan, dan energi? Jawabannya: ada. Barangkali teknologi kuantum bisa membuat panel surya lebih efisien, baterai lebih awet, bahkan membantu memetakan distribusi pangan. Sensor kuantum bisa memantau tanah dan air di desa, me...

Eksperimen ketakutan

-(Rabu, 3 September 2025)- Dalam film The Dark Knight Rises, diceritakan bagaimana Joker menebar teror dan kekacauan untuk menciptakan ketakutan di tengah warga kota. Baginya, ketakutan adalah target utama. Ketika rasa takut itu berhasil menyebar dan menyelimuti hati setiap orang, Joker kemudian melakukan sebuah eksperimen sosial. Ia adalah sosok yang tidak percaya pada etika dan nilai moral. Sebagai seorang nihilistis, ia memandang kehidupan semata-mata sebagai absurditas. Responnya terhadap absurditas itu hanyalah menertawakannya. Eksperimen pertamanya terbukti berhasil. Ia berhasil mengubah Harvey Dent—seorang penegak hukum yang idealis—menjadi sosok yang bertindak melawan hukum, etika, dan norma karena dorongan balas dendam. Padahal sebelumnya Harvey adalah simbol keteguhan hukum. Fenomena ini barangkali bisa pula terjadi. Misalnya, ketika ada pihak-pihak yang mengatasnamakan protes terhadap perilaku korup, tetapi justru melakukan perusakan fasilitas publik yang dibiayai negara. Pa...

Era Post-truth

-(Selasa, 2 September 2025)- Fenomena post-truth kini semakin nyata, terutama di media sosial. Informasi bertebaran begitu cepat, namun kebenaran justru semakin kabur. Sering kali kita tak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar fakta dan mana yang sekadar opini atau manipulasi. Istilah post-truth terdiri dari dua kata: post berarti “setelah”, sedangkan truth berarti “kebenaran”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ia seakan menimbulkan pertanyaan: “ada apa setelah kebenaran?” Konsep ini memang belum memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi maknanya jelas—yakni kondisi ketika kebenaran objektif tergeser oleh opini, emosi, dan framing. Contohnya mudah ditemukan. Sebuah potongan video dapat direkayasa atau dipotong sedemikian rupa hingga maknanya berubah total. Ketika video itu menyebar, persepsi negatif muncul, lalu tumbuh menjadi kebencian. Motif di balik tindakan ini pun beragam: bisa politis, ideologis, ekonomis, atau bahkan sekadar demi “viewer” dan sensasi. Cir...

Prioritas keamanan

-(Senin, 1 September 2025)- Hari-hari belakangan ini semakin menegaskan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia. Keamanan bukan hanya soal terhindar dari ancaman fisik, tetapi juga mencakup perlindungan atas jiwa dan raga, keluarga, serta harta benda. Apabila satu saja aspek keamanan itu terganggu oleh faktor eksternal, maka ketenangan dan kenyamanan hidup akan goyah. Situasi yang tidak kondusif sering kali tidak hanya merugikan pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga menyeret orang-orang yang sama sekali tidak mengerti persoalan menjadi korban. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa keamanan sejatinya bukan sekadar kebutuhan, melainkan prioritas utama bagi kehidupan bermasyarakat. Karena keamanan dan ketenteraman adalah kebutuhan dasar, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri serta melindungi keluarganya. Tanggung jawab itu tidak terbatas pada lingkungan fisik, melainkan juga pada ruang digital, termasuk media sosial. Lingkungan maya kini menjadi bag...

Memantau situasi

-(Minggu, 31 Agustus 2025)- Tidak seperti biasanya, hari ini saya memutuskan berkeliling kota untuk memantau situasi. Informasi dari beberapa pihak sebenarnya sudah jelas: tidak ada aksi demonstrasi. Namun, saya ingin memastikan langsung dan menilai sejauh mana ketentraman serta kedamaian di kota ini. Perjalanan saya dimulai dari gedung dewan. Kondisi terlihat aman, tanpa kerumunan massa. Dari sana, saya melanjutkan ke Polres. Situasi pun sama: tenang, tidak ada tanda-tanda demonstrasi. Setelah itu, saya bergerak melewati kompleks pendopo bupati menuju area UMKM Minggu pagi. Pemandangan di sana pun serupa; kegiatan masyarakat berlangsung normal, seolah tidak terpengaruh oleh suasana yang tengah memanas itu. Saya meneruskan perjalanan dengan mengecek beberapa perkantoran. Semuanya tampak aman. Sesekali, saya melewati kerumunan sepeda motor yang diparkir di sekitar warung. Jangan-jangan? Rupanya orang-orang sedang bermain atau menyaksikan permainan catur. Barangkali karena hari libur, me...