Hujan subuh
-(Minggu, 1 Februari 2026)- Pada rakaat kedua sholat subuh, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Bukan hujan biasa—suaranya menghantam atap mushola yang terbuat dari seng, keras dan berulang, seperti ketukan tanpa jeda. Suara itu memenuhi ruang, menutup keheningan subuh yang sebelumnya tenang. Entah mengapa, denting hujan itu memicu rasa takut, atau mungkin cemas—saya sendiri sulit memberi nama yang tepat. Perasaan itu menjalari batin secara perlahan, bukan karena hujan semata, melainkan karena ia mengganggu rencana kecil yang sudah saya susun sejak awal. Selepas sholat, saya berniat berdzikir sebentar, lalu segera pulang. Namun hujan berkata lain. Dengan derasnya, ia seolah menutup jalan pulang dan “memaksa” saya untuk tetap duduk, mengikuti dzikir berjamaah hingga selesai. Dan memang begitu yang terjadi. Begitu imam menutup doa, hujan pun mereda, seakan tahu tepat kapan harus berhenti. Saya segera berdiri dan meninggalkan mushola. Lima menit setelah sampai di rumah, hujan turun kembal...