Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Propaganda film

-(Sabtu, 31 Januari 2026)- Menonton film-film Barat, bagi saya, bukan sekadar perkara hiburan. Ia memang menyenangkan, tetapi juga menuntut sikap waspada. Di balik alur cerita yang rapi, sinematografi yang memikat, dan dialog yang terasa wajar, sering kali terselip pesan-pesan tertentu—bahkan propaganda—tentang budaya dan cara pandang yang perlahan ingin ditanamkan kepada penontonnya. Salah satu yang paling mudah terbaca adalah bagaimana hubungan intim pra nikah ditampilkan sebagai sesuatu yang lumrah. Yang lebih jauh lagi, film-film tersebut kerap menghadirkan relasi sejenis—hingga perkawinan sejenis—seolah-olah itu adalah realitas sosial yang sepenuhnya normal dan diterima. Padahal, bagi masyarakat Timur dan dalam kerangka ajaran agama, dua hal ini jelas bertentangan dengan nilai yang selama ini dijaga. Yang menarik, bahkan mengkhawatirkan, bukan semata apa yang ditampilkan, melainkan bagaimana ia ditampilkan. Relasi-relasi tersebut digambarkan hidup tenang, diterima lingkungan seki...

Cakrawala batin

-(Jumat, 30 Januari 2026)- Beberapa kali saya berolahraga jalan kaki di tanah lapang. Sebuah ruang terbuka di mana pandangan seolah tidak terhalang apa pun, membiarkan mata menjangkau kejauhan tanpa perlu bernegosiasi dengan tembok, bangunan, atau rimbun pepohonan. Ada sensasi tertentu ketika berada di sana—sejenis kelegaan yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Pengalaman itu kerap mengingatkan saya pada suasana pantai. Pada momen ketika kita memandangi cakrawala, batas antara laut dan langit seakan mengabur, dan pikiran ikut melebar bersama pandangan. Tanah lapang memang bukan pantai, tetapi ia menghadirkan kebebasan serupa: ruang visual yang luas, sunyi yang tidak menekan, dan perasaan bahwa jiwa tidak sedang disempitkan oleh apa pun. Tentu saja, pengalaman ini sangat personal. Apa yang saya rasakan boleh jadi tidak berlaku bagi orang lain. Sudah lama saya ingin menuliskan perasaan ini—tentang pengalaman berada di tanah lapang sebagai ruang perjumpaan dengan diri sendiri. Ba...

Paradigma tertinggal

-(Kamis, 29 Januari 2026)- Mata saya masih terpaku pada jam dinding. Jarumnya bergerak pelan, sementara lebih dari lima menit berlalu tanpa satu pun gagasan benar-benar menjelma menjadi kalimat. Pagi itu sunyi, tetapi kepala saya riuh—seolah ada sesuatu yang ingin keluar, namun belum menemukan pintunya. Lalu ingatan saya melompat pada diskusi dengan seorang kawan, tentang laporan-laporan yang hingga hari ini masih harus dikerjakan secara manual. Ya, memang menggunakan komputer, tetapi sejatinya itu hanya pengganti mesin ketik. Prosesnya tetap sama: administratif, repetitif, dan melelahkan. Cara lama yang terasa janggal ketika disandingkan dengan realitas zaman. Seolah ada ironi kecil—atau mungkin besar—saat kita hidup di era AI, tetapi bekerja dengan logika masa lalu. Di titik itu saya mulai bertanya: di mana letak masalahnya? Barangkali bukan pada ketiadaan teknologi, melainkan pada paradigma yang masih dipeluk erat dalam menggerakkan organisasi. Dokumen memang tak lagi dicetak, map-m...

Daya sinema

-(Jumat, 23 Januari 2026)- Saya terkesan oleh sebuah film yang baru saja saya tonton. Bukan semata karena kisah tokoh utamanya, melainkan oleh fakta-fakta lain yang bekerja diam-diam namun kuat dalam menopang cerita. Film itu menampilkan sebuah hotel di Maroko—semacam kamp kreatif bagi para penulis novel. Di sana mereka berkumpul, berbagi gagasan, berpesta secukupnya, berwisata, dan tentu saja menulis. Sebuah ruang yang bukan hanya fisik, tetapi juga batiniah: tempat ide-ide bertumbuh. Hotel itu berdiri di kawasan yang sunyi, dikelilingi alam yang indah, jauh dari hiruk-pikuk, namun justru terasa hidup. Sejak lama saya membayangkan bisa berada di tempat seperti itu—menyepi beberapa waktu, menuntaskan sebuah buku, lalu pulang dengan kepala dan hati yang penuh. Yang membuatnya semakin menggoda, film itu tidak berhenti pada lanskap alam. Ia juga menghadirkan kehidupan masyarakatnya: suasana kota, pasar yang riuh, ritme sosial yang khas, hingga pantai yang melengkapi pengalaman. Sebuah pak...

Jejak waktu

-(Selasa, 27 Januari 2026)- Ada tiga dimensi waktu: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ketiganya saling terhubung. Dalam hukum sebab-akibat, apa yang terjadi hari ini niscaya merupakan hasil dari proses yang berlangsung di masa lampau—perlahan, berlapis, dan sering kali tidak kita sadari. Pembuktian atas premis tersebut dapat dilihat dengan jelas melalui lini masa yang telah dilalui manusia. Dari sejarah dan perjalanan peradaban, kita tidak hanya mengetahui siapa saja yang hidup di masa lalu, tetapi juga memahami hubungan antarperistiwa, keterkaitan gagasan yang berkembang pada zamannya, serta bagaimana semua itu memberi dampak pada masa berikutnya—bahkan hingga kita alami di masa kini. Dengan membaca pola sejarah masa lalu, barangkali kita dapat memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa depan. Bukan dalam pengertian meramal, melainkan mengenali kecenderungan. Sejarah kerap bergerak dengan pola yang berulang, meski wajah dan konteksnya berubah. Kesadaran atas pola semacam ini...

Roda manusia

-(Senin, 26 Januari 2026)- Pagi itu saya bertemu dengan seseorang dan berbincang tentang berbagai hal, terutama pengalaman perjalanan. Salah satu yang kami bicarakan adalah sebuah kota dengan tempat wisata yang menarik. Orang itu memuji kota tersebut, termasuk sisi kebersihannya. Dalam hati saya berkata, tentu ini berkat visi kepala daerahnya dan upayanya untuk menjadikan kota itu sebagai tempat kunjungan. Dengan begitu, UMKM akan tumbuh dan menggerakkan ekonomi kota tersebut. Baru juga pagi itu membicarakan kota itu, siang harinya saya cukup terkejut membaca sebuah berita tentang OTT: kepala daerah kota itu ditangkap. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Biarlah itu menjadi bagian dari satu cerita di awal tahun ini. Dan mungkin akan ada cerita-cerita lain yang tak kalah menarik. Orang dulu bilang, hidup bagai roda yang berputar. Kadang berada di atas, kadang turun ke bawah. Mungkin begitulah nasib setiap manusia, yang memiliki masalahnya ...

Saringan nalar

-(Minggu, 25 Januari 2026)- Sudah banyak isu yang heboh di media sosial dan pada akhirnya berujung pada satu kesimpulan yang sama: itu semata opini. Bukan sesuatu yang faktual, apalagi berbasis data. Artinya, isu tersebut sering kali dipicu oleh sikap impulsif. Jika ditelusuri lebih jauh, di baliknya kerap tersimpan sejarah rasa kecewa masa lampau, biasanya akibat sebuah kekalahan yang belum sepenuhnya diterima. Jika kita mau belajar dari pengalaman, polanya hampir selalu mirip. Ada kemarahan, ada kecurigaan, lalu ada narasi yang disebarkan berulang-ulang hingga tampak seperti kebenaran. Karena itu, seharusnya kita bisa lebih sigap mengenali tanda-tandanya ketika isu serupa kembali muncul di media sosial. Sayangnya, tidak sedikit orang justru menjadi korban dari isu tersebut. Bukan mereka yang dituduh, melainkan mereka yang mempercayainya. Bahkan korban itu datang dari kalangan terdidik—orang-orang yang dikenal kritis dan rasional. Ini menunjukkan betapa canggihnya cara atau metode ...

Kentara AI

-(Sabtu, 24 Januari 2026)- Saya kerap merasa penasaran dengan nyinyiran orang terhadap penggunaan AI. Salah satu kalimat yang sering saya dengar kurang lebih begini: “Script hasil AI itu kentara sekali.” Script di sini bisa berarti banyak hal—dialog, cerpen, artikel, atau tulisan dalam bentuk apa pun. Bisa jadi, yang dimaksud adalah keseluruhan produk tulisan. Namun justru di titik itu pertanyaan penting muncul: kalau memang kentara, memangnya kenapa? Ucapan semacam itu seolah mengandung pesan tersirat: pakai AI tidak apa-apa, asal jangan ketahuan. Atau lebih jauh lagi, ia adalah bentuk penolakan total terhadap AI. Jika yang terakhir ini yang dimaksud, saya rasa sikap tersebut tidak lebih dari kekolotan yang dibungkus moralitas. Bagaimana tidak? Kita hidup di zaman ketika AI sudah hadir sebagai bagian dari realitas sehari-hari. Menolak bantuan AI demi gengsi—demi klaim “orisinalitas manusia”—terdengar heroik, tapi sekaligus naif. Seperti bersikeras menulis dengan pena bulu angsa di ten...

Bulan menyapa

-(Jumat, 23 Januari 2026)- Dalam perjalanan menuju musala untuk menunaikan salat Isya, pandangan saya tak sengaja terangkat ke langit. Di sana, bulan sabit tampak menggantung tenang—bukan bulan sabit tua yang kelelahan menutup siklusnya, melainkan bulan sabit muda yang baru saja lahir. Seolah memberi isyarat, ia hadir sebagai penanda waktu yang tak pernah benar-benar berhenti berjalan. Ingatan saya pun melompat ke sepekan sebelumnya. Di kalender, ada satu tanggal merah: peringatan Isra Mikraj, 27 Rajab. Jika hitungan itu ditarik lurus, maka malam dengan bulan sabit muda yang saya lihat itu menandai masuknya bulan Sya’ban. Dan Sya’ban, seperti kita tahu, hanyalah satu pintu sebelum kita kembali mengetuk Ramadan—bulan puasa, bulan yang selalu datang membawa gema yang berbeda. Perasaan itu muncul begitu saja: rasanya belum lama kita melewati Ramadan terakhir, dan kini, dalam jarak waktu yang terasa singkat, kita akan kembali bertemu dengannya. Seperti seorang tamu lama yang baru saja berp...

Dua dunia

-(Kamis, 22 Januari 2026)- Yang viral di media sosial sering kali tidak pernah benar-benar menjelma menjadi realitas di masyarakat nyata. Kita pernah menyaksikannya secara gamblang: pada satu masa pilpres, ada kandidat yang begitu populer di linimasa—dielu-elukan, dipuja, seolah tak terkalahkan. Namun ketika bilik suara dibuka, rakyat justru memilih kandidat lain. Dari situ kita belajar satu hal penting: dua dunia ini kerap tidak berjalan seiring. Dunia maya dan dunia nyata memiliki logika, dinamika, dan penontonnya masing-masing. Apa yang riuh di media sosial belum tentu bergema di ruang-ruang hidup masyarakat. Karena itu, tidak semua yang viral layak dicemaskan, dan tidak setiap isu yang ramai diperbincangkan di jagat digital sedang sungguh-sungguh dibicarakan di warung, di sawah, atau di meja makan keluarga. Kenyataan inilah yang melahirkan kesenjangan. Sebagian kalangan menganggap isu di media sosial sebagai representasi aspirasi publik, lalu menuntut pemerintah untuk segera meresp...

Nafsu makan

-(Rabu, 21 Januari 2026)- Nafsu makan. Pernahkah Anda bertanya, mengapa urusan makan saja disebut demikian—mengapa perlu ada tambahan kata nafsu ? Ada konotasi negatif yang melekat pada kata nafsu . Ia menunjuk pada sebuah dorongan yang sulit dibendung oleh manusia itu sendiri. Bukan berarti tidak ada manusia yang mampu mengendalikannya, tetapi kenyataannya banyak orang justru terjerumus pada berbagai hal yang kerap diawali oleh kata yang sama: nafsu seksual, nafsu amarah, termasuk nafsu makan. Tak sedikit orang yang gagal melakukan diet atau menjaga kesehatan tubuhnya bukan karena tidak tahu caranya, melainkan karena tak kuat menahan nafsu makan. Seolah-olah manusia sedang bertempur dengan dirinya sendiri, berusaha melawan godaan yang terus mengajak untuk mengunyah—lagi dan lagi. Dari kesadaran inilah kemudian muncul berbagai upaya untuk membendung, atau setidaknya mengelabui, nafsu makan tersebut. Ada yang mengunyah es batu, ada pula yang mencoba berbagai trik lain yang entah apa saj...

Menyesali keuntungan

-(Selasa, 20 Januari 2026)- Jika hati tak cukup kuat, yang tersisa dari investasi—apa pun hasilnya—adalah penyesalan. Ini bukan cerita segelintir orang, melainkan pengalaman mayoritas pelaku investasi. Untung atau rugi, pada akhirnya keduanya bisa bermuara pada rasa yang sama: menyesal. Hanya kadarnya yang berbeda. Saat rugi, penyesalan hampir tak perlu dijelaskan. Ia datang dengan sendirinya, jelas sebab-musababnya. Yang justru lebih menggelitik adalah penyesalan ketika investasi itu untung. Bagaimana mungkin sesuatu yang menghasilkan keuntungan tetap melahirkan sesal? Jawabannya sering kali sederhana, namun pahit: karena merasa terlambat. Kenapa tidak sejak dulu berinvestasi? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak membeli ketika harganya masih murah? Kenapa nominalnya hanya segitu? Seandainya lebih banyak, tentu keuntungannya lebih besar. Di sinilah penyesalan mengambil bentuk lain—bukan lahir dari kerugian, melainkan dari keserakahan. Begitulah manusia. Ketika sesuatu yang diinginkan be...

Dua dunia

-(Senin, 19 Januari 2026)- Yang viral di media sosial sering kali tidak pernah benar-benar menjelma menjadi realitas di masyarakat nyata. Kita pernah menyaksikannya secara gamblang: pada satu masa pilpres, ada kandidat yang begitu populer di linimasa—dielu-elukan, dipuja, seolah tak terkalahkan. Namun ketika bilik suara dibuka, rakyat justru memilih kandidat lain. Dari situ kita belajar satu hal penting: dua dunia ini kerap tidak berjalan seiring. Dunia maya dan dunia nyata memiliki logika, dinamika, dan penontonnya masing-masing. Apa yang riuh di media sosial belum tentu bergema di ruang-ruang hidup masyarakat. Karena itu, tidak semua yang viral layak dicemaskan, dan tidak setiap isu yang ramai diperbincangkan di jagat digital sedang sungguh-sungguh dibicarakan di warung, di sawah, atau di meja makan keluarga. Kenyataan inilah yang melahirkan kesenjangan. Sebagian kalangan menganggap isu di media sosial sebagai representasi aspirasi publik, lalu menuntut pemerintah untuk segera meresp...

Beban kendali

 -(Minggu, 18 Januari 2026)- Ada hal-hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita. Betapa pun lama kita memikirkannya—bahkan hingga membuat kepala penat dan dada sesak—kenyataannya, hal-hal itu tetap berjalan dengan caranya sendiri. Pikiran kita boleh berputar ke mana-mana, tetapi dunia tidak selalu ikut menyesuaikan diri. Namun, barangkali persoalannya bukan semata soal kendali. Bisa jadi yang sebenarnya kita hadapi adalah ketakutan akan beban. Kita cemas jika suatu masalah menuntut energi, waktu, dan biaya—hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita keluarkan andaikata hidup berjalan baik-baik saja. Ketakutan semacam ini terasa sangat manusiawi, bahkan mungkin berasal dari ego paling purba: dorongan untuk bertahan hidup, untuk menghindari susah dan sedih, untuk memilih aman. Dari sanalah sikap menjauh kerap lahir. Sebagian orang memilih menutup diri, bahkan sekadar untuk mendengar kabar tentang masalah yang menimpa orang lain. Padahal, hubungan atau ikatan itu mungkin masih...

Ikan lepas

-(Sabtu, 17 Januari 2026)- Saya punya ingatan tentang sungai kecil di masa kanak-kanak. Barangkali nama tepatnya bukan sungai, melainkan saluran air di persawahan. Setiap kali hujan turun, air di sana mengalir deras. Di situlah saya senang bermain, menikmati arus dan suasana yang bagi saya kala itu terasa menyenangkan. Di kesempatan lain, saya mendatangi parit-parit kecil itu untuk mencari ikan. Ada ikan-ikan kecil yang terlihat, juga udang. Jika sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan lele atau ikan gabus. Saya sangat senang ketika berhasil mendapatkannya, sebab itu berarti saya akan makan dengan lauk yang lebih enak: ikan goreng. Namun kenyataannya, ada satu momen yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Sebuah pengalaman yang hingga kini masih membekas. Saat itu, saya bersama banyak orang—para remaja dan beberapa orang tua—mencari ikan di sungai kecil yang melintas di dusun kami. Barangkali karena belum memahami dampak kerusakannya, ada yang menggunakan potasium. Yang membuat ...

Ukuran usia

-(Jumat, 16 Januari 2026)- Kapan sebenarnya kita menyadari bahwa usia kita bertambah? Barangkali bukan ketika angka pada kalender berubah, melainkan saat tubuh pelan-pelan memberi tanda bahwa kekuatannya tak lagi seperti dulu. Tahun boleh berganti—seperti kini, 2026 telah tiba. Sebagian dari kita tersadar bahwa umur bertambah, sementara sebagian lain memilih abai dan sibuk merancang resolusi. Mungkin mereka tak terlalu peduli pada usia, selama tubuh masih sehat dan tenaga masih cukup untuk menjalani hari. Lagi pula, jika dipikirkan lebih dalam, tahun, bulan, dan hari hanyalah kesepakatan manusia. Andaikan dahulu manusia tak pernah menciptakan kalender, barangkali tak ada perbedaan antara Minggu dan Senin, antara Desember dan Januari, antara 2025 dan 2026. Yang ada hanyalah matahari yang setia terbit setiap pagi dan tenggelam setiap sore. Tanpa kalender, kita mungkin tak pernah benar-benar tahu—atau tak pernah peduli—apakah usia kita bertambah. Sebab yang paling nyata menandai muda atau...

Wajah pikiran

 -(Kamis, 15 Januari 2026)- Pada masa Covid dulu, hampir setiap orang mengenakan masker. Ada pengalaman batin yang menarik ketika kita berhadapan dengan wajah-wajah bermasker itu. Tanpa sadar, pikiran kita seperti “melengkapi” wajah yang tertutup. Kita merasa seolah sudah melihat wajah orang tersebut secara utuh. Lalu muncullah penilaian spontan dalam batin: orang ini cantik , yang itu ganteng . Namun, ketika masker akhirnya dibuka, tidak jarang muncul reaksi lain: oh… —sebuah kekecewaan kecil yang sulit dijelaskan. Pertanyaannya, mengapa sebelum melihat wajah secara lengkap, pikiran kita sudah lebih dulu membentuk gambaran tentangnya? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam otak kita? Saya menduga, jangan-jangan otak kita secara aktif memanggil memori tentang wajah-wajah yang pernah kita lihat sebelumnya. Potongan informasi yang tersedia—mata, alis, bentuk wajah, gaya bicara—dipadukan dengan arsip pengalaman masa lalu. Dari sanalah otak menyusun sebuah visualisasi utuh tentang...

Linimasa batin

-(Rabu, 14 Januari 2026)- Setelah lama tak mengikuti linimasa media sosial, belakangan ini saya kembali rajin membaca postingan yang muncul. Saya sempat kecewa dengan unggahan yang beredar karena tidak sesuai dengan keberpihakan saya. Namun, seiring waktu dan bacaan yang saya ikuti, pikiran saya perlahan menjadi lebih terbuka. Meski tetap berpihak, membaca sudut pandang lain saya anggap penting untuk memperkaya pemahaman dan perspektif. Saya tidak pernah ikut berkomentar atas topik yang dibahas. Saya sekadar mengikuti postingan-postingan itu, sambil melatih daya kritis atas informasi atau opini yang tertulis. Saya juga belajar memahami latar belakang dan cara berpikir orang yang menuliskan opini tersebut. Apa yang ada di benaknya? Dorongan apa yang membuat seseorang tampak begitu membenci orang lain? Bisa jadi rasa benci itu tidak sepenuhnya nyata—barangkali hanya kepura-puraan untuk memancing respons dan memperkeruh suasana. Sebagaimana dulu saya sangat update dengan isu terkini, kini...

Air kuasa

-(Selasa, 13 Januari 2026)- Siapakah yang hari ini masih meminum air putih hasil memasak sendiri? Barangkali masih ada—terutama di desa-desa. Namun di kota, jumlahnya kian sedikit. Kita hidup dalam ketergantungan tinggi pada air minum galon atau isi ulang. Padahal air adalah kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan manusia. Ketergantungan ini, disadari atau tidak, menunjukkan betapa rentannya kita terhadap pasokan air minum. Narasi semacam ini mungkin bukan hal baru. Bisa jadi sudah lama dipahami, bahkan dimanfaatkan, oleh mereka yang jeli membaca peluang. Sebab bisnis air adalah bisnis cuan. Setiap hari, setiap jam, setiap orang membutuhkan air minum. Ingatan saya kembali ke masa kecil. Dulu, ibu saya memasak air di panci besar di atas dapur tanah, dengan kayu bakar sebagai sumber api. Air diambil dari sumur. Ditimba, lalu ditampung dalam gentong. Untuk memasak nasi atau sayur, ibu mengambil air dari gentong itu. Untuk mandi dan mencuci pakaian, kami kembali ke sumur—menimba air denga...

Budaya slow

-(Senin, 12 Januari 2026)- Ada satu pernyataan menarik dari seorang pejabat yang saya dengar dalam sebuah acara. Ia mengatakan bahwa masyarakat kita cenderung menyelesaikan urusan di batas waktu terakhir. Maka ketika sebuah ketentuan diberlakukan—misalnya kewajiban registrasi melalui suatu aplikasi—yang terjadi hampir selalu sama: orang-orang berbondong-bondong datang pada hari-hari terakhir. Yang terasa lebih miris, proses itu sejatinya bisa dilakukan dari rumah, dari tempat kerja, atau dari mana saja. Namun tetap saja, banyak yang memilih datang ke tempat layanan untuk meminta bantuan. Fenomena ini seolah mengindikasikan hal lain yang lebih dalam: barangkali kita juga kurang gemar membaca petunjuk atau mempelajari mekanisme secara mandiri. Kita tampaknya lebih nyaman jika dituntun, diarahkan langkah demi langkah. Dua hal ini—kebiasaan menunda dan ketergantungan pada tuntunan—mungkin menjadi penanda bahwa sikap proaktif belum benar-benar tertanam sebagai karakter kolektif. Dalam banya...

Anak harapan

-(Minggu, 11 Januari 2025)- Ketika orang tua memiliki anak, sesungguhnya ada harapan besar yang disematkan sejak awal. Harapan itu bahkan sudah dirumuskan dalam doa-doa sederhana yang akrab di telinga kita. Misalnya, saat seorang anak laki-laki selesai dikhitan, doa yang kerap dipanjatkan adalah agar ia menjadi pintar dan sholeh. Menariknya, doa itu tidak hanya berhenti pada “pintar”. Karena memang, pintar saja tidak cukup. Bahkan, dalam banyak keadaan, kepintaran tanpa kesholehan justru bisa menjadi sesuatu yang berbahaya. Untuk memahaminya, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Jika dihadapkan pada dua pilihan buruk: pencuri bodoh atau pencuri pintar, mana yang lebih aman bagi ketentraman masyarakat? Secara naluriah, kita mungkin akan memilih pencuri bodoh. Mengapa? Karena kebodohannya membatasi kerusakan yang ia timbulkan. Yang ia curi biasanya hal-hal sepele: ayam di kandang, sandal di teras, pisang di kebun, atau kutang di jemuran. Bandingkan dengan pencuri yang pin...

Jejak digital

-(Sabtu, 10 Januari 2026)- Saya membaca sebuah postingan di media sosial yang meminta AI memberikan jawaban. Soal yang diberikan dalam bentuk pilihan. Hanya saja, jawaban dari AI itu sepertinya tidak sesuai dengan yang diharapkan si penanya.  Setelah membaca jawaban itu, saya tiba pada satu kesimpulan: di zaman AI sekarang, sebuah narasi yang menyerang mesti dikonter dengan narasi juga. Artinya, jika narasi itu dibiarkan, kelak di kemudian hari yang dibaca AI hanyalah narasi yang menyerang itu. Kita perlu memahami cara kerja AI secara lebih dingin. Ketika AI diberi pertanyaan, ia akan mencari jawaban dari sumber-sumber di internet. Ia menyusun respons berdasarkan data yang tersedia, bukan berdasarkan data yang ideal. Maka bayangkan skenario berikut: jika yang ia peroleh hanya bersumber dari kelompok tertentu, sementara kelompok lainnya tidak pernah memberikan tanggapan, AI barangkali hanya akan menyampaikan jawaban dari sumber yang ia temukan. Jika itu yang dibaca generasi masa dep...

Wajah palsu

-(Jumat, 9 Januari 2026)- Inilah salah satu kekhawatiran saya atas kecanggihan akal imitasi—atau yang hari ini kita sebut AI. Di salah satu media sosial, saya melihat betapa mudahnya seseorang, hanya dengan bantuan AI, memberi perintah untuk memanipulasi foto secara sembarangan. Dari semua potensi penyalahgunaan, yang paling mengusik tentu manipulasi yang mengarah ke pornografi. Yang membuatnya semakin mengkhawatirkan adalah fakta bahwa dalam situasi ini, siapa pun bisa menjadi korban. Publik figur, pejabat, orang biasa, bahkan tokoh agama—tak ada yang benar-benar aman dari keisengan atau niat buruk orang lain. Sebab sekali lagi, dengan AI, semua itu kini bisa dilakukan dengan sangat mudah. Dan celakanya, hingga saat ini belum terlihat upaya pemerintah untuk membatasi, atau setidaknya mencegahnya. Maka, kita bisa melihat sendiri betapa banyaknya foto dan video palsu tentang seseorang yang disebarkan, bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk memperburuk citra orang tersebut. Motifnya j...

Puas pemerintah

-(Kamis, 8 Januari 2026)- Ada satu keresahan yang sekaligus menjadi pertanyaan saya: bisakah semua orang merasa puas pada pemerintah? Setiap kali membaca postingan di media sosial, saya hampir selalu menemukan dua hal yang sama—ada yang kecewa, dan ada pula yang membela. Tentu, keduanya digerakkan oleh motif yang berbeda. Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, kita bisa menemukan pola-pola tertentu pada masing-masing kubu, baik yang konsisten mengkritik maupun yang kerap memberikan pembelaan. Ah, saya yakin Anda sudah tahu itu. Menariknya, di hampir setiap topik, berita, atau permasalahan, dua kelompok ini selalu muncul. Artinya, pertanyaan di awal tulisan ini pun sebenarnya sudah terjawab: tidak bisa, karena selalu ada dua sudut pandang yang berjalan bersamaan. Lantas, bagaimana? Justru di sinilah tantangan pemerintah bermula. Ketidakmungkinan memuaskan semua orang bukan berarti menjadi alasan untuk tidak mengambil kebijakan terbaik. Upaya yang paling masuk akal adalah memastikan...

Pamer digital

-(Rabu, 7 Januari 2026)- Baru-baru ini saya membaca sebuah postingan di X, tentang keputusan seseorang menonaktifkan sebuah media sosial. Awalnya saya enggan menyebut namanya, karena saya kira Anda pasti sudah tahu. Tetapi sudahlah, saya sebut saja: Instagram. Postingan itu kemudian ramai ditanggapi. Intinya sama: seseorang merasa kesehatan mentalnya terganggu setelah melihat foto dan video pencapaian orang lain—baik itu teman, kenalan, atau orang-orang di sekitarnya. Alih-alih memberi dorongan positif, linimasa justru sering melahirkan rasa iri, memicu perbandingan, dan tanpa sadar mendorong kita untuk terus berlomba. Perlombaan yang tidak pernah jelas garis akhirnya. Inilah yang kemudian membuat hidup terasa melelahkan, menguras energi, dan pada akhirnya menumbuhkan rasa minder. Kenyataannya, fenomena itulah yang kini mendominasi media sosial. Orang lebih banyak memposting foto dan video capaian: liburan, kekayaan, prestasi, pernikahan, anak-anak, dan beragam momen lain yang pada pok...

Sungai coklat

  -(Selasa, 6 Januari 2026)- Setiap kali melihat sungai berwarna coklat itu, hati saya merasa sedih. Lalu pertanyaan yang sama selalu datang: apakah mungkin sejak dahulu sungai itu memang berwarna coklat? Pertanyaan itu semakin mengusik karena di tepi sungai, ada banyak penduduk yang hidupnya—bahkan masa depannya—bertumpu pada air yang mengalir di dekat rumah mereka. Di bagian inilah saya mulai membangun gambaran dalam kepala. Dahulu kala, ketika kawasan ini masih berupa hutan rimba, manusia memilih tinggal di pinggiran sungai. Pilihan itu logis. Air mudah dijangkau. Protein tersedia dari ikan yang hidup di dalamnya. Mobilitas pun bergantung pada perahu, karena sungai adalah jalan paling masuk akal di tengah rimba yang belum mengenal jalur transportasi darat. Gambaran itu terasa semakin rasional ketika membayangkan bahwa di sekeliling sungai, dulu, memang hanya ada pepohonan rapat dan tanah yang belum dibuka menjadi apa pun. Kehidupan berjalan, manusia berkembang, tetapi sungai...

Kreativitas layu

-(Senin, 5 Januari 2026)- Saya kembali mencoba menulis dari kegelisahan yang paling sederhana: membuat tulisan dari dua kata. Saya lakukan ini karena, terus terang, saya benar-benar kehabisan ide. Ironisnya, bahkan untuk menemukan dua kata pun saya kesulitan. Padahal, dua kata itu seharusnya menjadi pemantik, bukan beban. Dari kebuntuan itu, saya terdorong merenung lebih jauh. Mungkinkah kenyamanan hidup membuat daya kreativitas seseorang menyusut? Pikiran itu membawa saya pada pengamatan yang kerap saya lakukan terhadap para pemusik—terutama mereka yang merangkap sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi. Ada pola yang terasa berulang: ketika hidup mereka masih penuh kekurangan, belum mapan, atau masih berjuang, lagu-lagu yang mereka ciptakan terdengar lebih hidup, kuat, dan banyak disukai orang. Ada energi jujur di sana—energi yang lahir dari lapar, bukan dari kenyang. Namun, lambat laun, ketika ketenaran dan cuan mulai mengalir deras, karya-karya baru mereka terasa kehilangan daya pi...

Narasi ikhtiar

-(Minggu, 4 Januari 2026)- Ketika kami berkunjung ke salah satu rest area bagi peziarah Haul Guru Sekumpul, saya sempat berbincang dengan seorang warga Samarinda—begitu pengakuannya. Ia bersama anak perempuannya mengendarai sepeda motor, menempuh perjalanan ratusan kilometer. Menariknya, saat kami bertemu, mereka justru sudah dalam perjalanan balik ke Samarinda. Saya pun bertanya, “Lho, kok tidak ikut acara puncak haul-nya? ” Ia menjawab bahwa ia sudah merasa cukup dengan berziarah di dekat kubah. Selain itu, ia juga mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan. Barangkali ia melihat begitu banyak orang yang hendak hadir pada momen puncak yang kabarnya bisa diikuti jutaan manusia. Ditambah lagi, dalam beberapa hari terakhir hujan turun dan menggenangi sejumlah titik. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor itu, ia memilih untuk mencukupkan ikhtiarnya pada ziarah, tanpa memaksakan diri masuk ke pusat keramaian. Ada fakta menarik yang ia sampaikan, yang menurut saya selaras dengan duga...

Fatamorgana liburan

-(Sabtu, 3 Januari 2026)- Ketika liburan long weekend seperti minggu kemarin, apa yang sebenarnya kita lakukan? Sebagian besar orang menjawab hal yang hampir seragam: pergi healing, piknik, atau wisata bersama keluarga. Mereka menempuh perjalanan ke luar kota, mendatangi tempat wisata, berkunjung ke pusat perbelanjaan, mencoba kuliner baru. Semua itu tampak lumrah, bahkan sudah menjadi semacam ritual zaman. Namun justru di titik ketika sesuatu terasa paling lumrah, saya merasa kita perlu berhenti dan bertanya lebih jauh: mengapa manusia modern merasa perlu melakukan itu? Tidakkah cukup berlibur di dalam kota, di pinggiran kota, atau sekadar pergi ke desa untuk makan siang bersama di tepi sungai? Tidakkah itu juga bisa disebut piknik? Bukankah esensinya sama—menikmati waktu, kebersamaan, dan suasana yang berbeda dari rutinitas? Lalu, mengapa orang harus menghabiskan tenaga, energi, bahkan kelelahan berkendara jauh hanya untuk mendatangi satu lokasi yang diyakini bisa menghibur diri...