Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Kuliner cempedak

-(Kamis, 1 Januari 2025)- Apakah Anda pernah makan cempedak goreng? Nangka goreng mungkin Anda pernah memakannya. Tetapi cempedak goreng, belum tentu. Mengapa? Sebab tidak semua daerah ditumbuhi cempedak. Buah ini memang tidak hidup di sembarang tempat. Bisa jadi Anda bahkan belum pernah melihat buahnya. Terlebih jika Anda tinggal di wilayah pesisir, di pinggir pantai, tempat tanahnya asin, berpasir, dan angin laut berembus tanpa henti—kondisi yang membuat cempedak sulit tumbuh. Sebaliknya, ia lebih banyak hidup di hutan pedalaman, di tanah lembap yang subur, seperti di Kalimantan. Bagi masyarakat yang akrab dengan cempedak, buah ini bukan sekadar buah musiman, melainkan sumber pangan yang dekat dengan kehidupan. Ia telah menjadi menu populer. Hampir semua bagian buahnya dapat diolah dan dikonsumsi. Salah satunya adalah cempedak goreng—yang menariknya, bukan hanya daging buahnya yang digoreng, tetapi juga bijinya. Biji cempedak digoreng garing dan bisa langsung dimakan, tanpa limba...

Hari rapuh

-(Rabu, 31 Desember 2025)- Hari Sabtu itu hujan turun terus-menerus—sepanjang pagi hingga siang. Meski hanya rintik-rintik, ia cukup jujur untuk membuat pakaian basah, dan cukup berkuasa untuk mengganggu aktivitas di luar rumah. Saat itu pula, pikiran saya tertuju pada para pedagang di pasar mingguan. Pasar yang hanya buka di hari Sabtu—yang berarti, satu pagi adalah segalanya, satu siang adalah batasnya, dan satu hujan bisa menggoyahkan keduanya. Biasanya, Sabtu pagi menjadi panggung optimisme. Para pedagang berdatangan, menempati lapak masing-masing, menyiapkan barang dagangan, dan menata harapan akan rezeki. Tetapi ketika hujan turun, saya membayangkan suasana hati mereka akan ikut merunduk. Bukan karena air, melainkan karena pertanyaan yang lebih berat: bagaimana dengan rezeki hari itu? Pada momen itulah saya teringat seloroh lama: lebih baik panas daripada hujan. Panas mungkin menguras tenaga, tetapi hujan mengubah takdir rencana. Panas tidak merusak acara—hujan merombak cerit...

Kipas mubazir

-(Selasa, 30 Desember 2025)- Di kota air itu kami singgah di sebuah rumah makan panggung.  Bangunan kayunya berdiri memanjang ke belakang, tepat di atas rawa. Kokoh, meski logika saya sempat bertanya: bagaimana caranya bangunan ini tidak amblas sejak dulu. Saya sempat membayangkan, makan siang berdua dengan pemandangan air dan tumbuhan di sekeliling, ditambah angin yang berhembus sepoi-sepoi, akan menghadirkan suasana romantis. Dugaan yang wajar. Meski saya sadar, suasana romantis tidak selalu lahir dari pemandangan. Kadang ia lahir begitu saja, tanpa dekorasi. Ada bagian lesehan di rumah makan itu, tapi kami memilih duduk di kursi. Menurut saya lebih nyaman. Dan ketika soal kenyamanan sudah dipilih, biasanya saya tidak banyak berdebat dengan pilihan lain. Patin bakar dan itik panggang tanpa tulang kemudian datang. Dua menu khas daerah ini.  Masing-masing ditemani pasangannya: lalapan untuk si patin, kuah sop untuk si itik. Teh hangat dan es jeruk pun begitu, tak mau sendiri...

Sunyi berdua

-(Senin, 29 Desember 2025)- Aktivitas kecil, tetapi membawa kebahagiaan. Setidaknya, itu yang saya rasakan ketika kami melakukan sesuatu bersama: mencuci pakaian. Kata kami sendiri sudah cukup menjadi bukti bahwa saya tidak sendirian. Ada seseorang di dekat saya—yang kehadirannya membuat hati lebih tenang. Dan anehnya, justru dari hal sesederhana memeras baju basah dan menggantungnya di bawah atap, kebahagiaan itu muncul tanpa diminta. Barangkali, bukan aktivitasnya yang utama, melainkan kebersamaan pada satu fokus yang sama. Kadang saya melihat pasangan makan di kafe. Mereka duduk berhadap-hadapan, tetapi masing-masing menunduk pada layar ponsel. Tidak ada larangan melakukan itu. Benar juga. Di meja makan tidak ada tulisan dilarang membuka HP, sebagaimana tulisan dilarang membawa makanan dari luar. Kalau HP boleh dibawa, maka bermain sendiri-sendiri pun seolah otomatis dianggap wajar. Logika yang sah, meski terasa agak sedih ketika saya mengamatinya. Mereka terlihat bersama, tet...

Ego musyawarah

-(Minggu, 28 Desember 2025)- Ketika pikiran fokus mencari solusi, solusi itu biasanya akan ketemu. Ini pengalaman yang barangkali bukan hanya milik saya, tetapi juga sebagian orang lain—meski saya pun tak berani memastikannya sebagai hukum semesta. Mungkin ini yang kerap disebut sebagai kekuatan pikiran: ketika diarahkan pada satu masalah, pikiran menemukan jalur kreatifnya sendiri. Dan ketika bukan hanya satu otak yang bekerja, melainkan beberapa, segalanya menjadi lebih cepat—melalui yang kita kenal sebagai brainstorming . Sebuah ledakan ide yang, menariknya, sering kali lebih efektif daripada ledakan emosi. Di titik itulah diskusi menjadi penting. Banyak sudut pandang yang muncul, yang barangkali luput dari sudut saya sendiri, atau dari sudut siapa pun yang merasa paling benar. Dari sana, pemecahan masalah terasa lebih komprehensif—setidaknya di atas kertas. Namun, diskusi juga meninggalkan residu yang tak pernah tercatat di notulen. Ada kecewa ketika ide tak diterima. Ada pongah...

Meditasi menulis

-(Sabtu, 27 Desember 2025)- Saya merasa kebiasaan menulis setiap hari telah memberi manfaat bagi saya. Setidaknya, saya menjadi lebih lancar ketika harus berbicara spontan di depan forum. Cukup dengan satu gagasan, pikiran dan mulut saya bisa lumayan mengalirkan kalimat-kalimat. Meski, terus terang saja, saya tidak selalu tahu apakah kalimat-kalimat itu benar-benar dipahami oleh audiens. Barangkali saya hanya sedang asyik dengan pikiran sendiri. Karena itu pula, saya merasa masih perlu terus belajar. Spontan saja ternyata belum cukup. Ia tetap perlu ditopang oleh gagasan yang segar dan, kalau bisa, bernas. Namun, memiliki target menulis setiap hari juga kadang berubah menjadi beban. Hampir setiap hari saya memikirkan hal yang sama: tema apa lagi yang akan saya tulis. Ini tidak sesederhana kelihatannya. Barangkali persis seperti membiasakan diri berolahraga, apalagi angkat beban. Di awal terasa berat. Tetapi setelah dijalani, semuanya terasa lebih ringan. Menulis pun begitu. Kesulitan...

Selera pisang

-(Jumat, 26 Desember 2025)- Saya tidak tahu mengapa saya sangat menyukai pisang goreng. Sebenarnya, bukan hanya yang digoreng. Direbus, dijadikan sale, diolah menjadi gethuk, atau dibikin barongko, semuanya tetap saya sukai. Mungkin memang pisang adalah salah satu makanan favorit saya—tanpa alasan yang pernah benar-benar saya pahami. Kenyataannya, pisang adalah buah yang murah. Barangkali karena ia begitu melimpah. Hampir di mana pun di bumi Nusantara ini, pisang mudah ditemukan. Lebih hebat lagi, jenisnya beragam: pisang burung, tanduk, ambon, kepok, emas, raja, dan entah apa lagi namanya. Kekayaan yang sering kali kita anggap biasa. Padahal, selain murah dan melimpah, pisang juga menyimpan banyak manfaat kesehatan. Ia bahkan kerap disebut mampu menggantikan nasi sebagai sumber karbohidrat, lengkap dengan vitamin dan zat lain yang berguna bagi tubuh manusia. Namun, apakah semua kelebihan itu otomatis membuat semua orang menyukai pisang? Tentu saja tidak. Saya pernah bertemu seseoran...

Relasi sunyi

-(Kamis, 25 Desember 2025)- Satu kalimat sempat berhasil saya ketik. Lalu saya hapus kembali. Kalimat itu sebuah klaim—sebuah pernyataan, atau barangkali sebuah premis—yang ketika tetap saya biarkan berada di dalam tulisan, membuat saya ragu: apakah saya sanggup mempertahankannya jika suatu hari ada yang mempertanyakannya. Maka, demi rasa aman, topik itu urung saya tuliskan. Awalnya saya berpikir bahwa manusia tidak mungkin hidup bahagia ketika sendirian—tanpa terkoneksi atau terhubung dengan manusia, makhluk, atau entitas lain. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Namun apakah perasaan personal semacam itu layak digeneralisasi, tentu saja perlu dipertanyakan. Meski demikian, bukankah manusia diciptakan dengan organ-organ yang sama, dengan cara kerja yang serupa pula? Memang ada perbedaan gen, tetapi secara umum tubuh manusia bekerja dengan prinsip yang sama—sebuah fakta yang memungkinkan dunia kedokteran mempelajari penyakit dan mencari solusinya. Dari sana muncul godaan untuk per...

Laku memilih

 -(Rabu, 24 Desember 2025)- Seperti pagi itu, saya dihadapkan pada dua pilihan: ke langgar timur atau ke langgar utara. Bahkan sebelum berangkat, saya sudah lebih dulu berhadapan dengan pilihan lain yang tampak sepele, tetapi nyata: memilih peci—peci Indonesia atau peci model lain yang saya beli di Mekkah. Pilihan-pilihan itu tidak berhenti di sana. Ketika hendak berolahraga jalan dan lari, saya kembali harus menentukan lokasi: cukup di sekitar rumah, atau di lingkungan yang lebih hijau. Setelah akhirnya memilih lingkungan hijau, rute yang saya tempuh pun kembali menuntut keputusan. Apakah hanya memutar di jalur pendek, atau mengambil jalur yang lebih panjang. Kenyataannya, setelah selesai olahraga, saya masih dihadapkan pada pilihan berikutnya: tempat sarapan. Dan ketika warung sudah dipilih, persoalan belum selesai. Saya masih harus menentukan menu—patin bakar atau haruan bakar. Bahkan sebelum sampai ke warung itu, saya sempat berhenti di pinggir jalan, tepat di depan lapak penju...

Kecamuk pikiran

-(Selasa, 23 Desember 2025)- Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Apakah itu memang karena saya memicu diri untuk berpikir, atau memang mekanisme alami, itu yang belum saya tahu pasti. Padahal, banyak orang menginginkan sebuah kepastian akan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan. Inilah pula yang mendorong manusia untuk mencari cara bagaimana memprediksi masa depan. Apa yang akan terjadi di tahun depan? Berapa pertumbuhan ekonominya? Apakah harga saham, harga emas, atau nilai tukar uang masih akan bergejolak? Belakangan, sudah mulai banyak pihak yang membuat prediksi atau outlook tentang perekonomian tahun depan. Setiap akhir tahun digelar seminar atau diskusi yang membahas hal itu. Artinya, outlook telah menjadi ritual akhir tahun, sekaligus menunjukkan betapa manusia membutuhkan sebuah kepastian. Namun, apakah ada yang benar-benar pasti di dunia ini? Tentu ada. Tetapi sebagian di antaranya tak ada yang tahu. Apalagi soal nasib manusia, yang pada realitanya tak pe...

Dua kata

-(Senin, 22 Desember 2025)- Mari kita buktikan salah satu teknik menulis kreatif yang diajarkan oleh seorang novelis dalam salah satu karya bukunya. Buku ini saya temukan di sebuah situs perpustakaan daring tempat saya mendaftar sebagai anggota. Melalui perpustakaan itu, saya bisa membaca buku-buku yang beberapa di antaranya sudah lama saya cari dan ingin saya baca. Nampaknya ini menjadi sebuah keberuntungan bagi saya. Dalam urusan membaca, saya memang lebih sering berkunjung ke perpustakaan daripada ke toko buku. Dalam buku tersebut, penulis mengajarkan satu teknik membuat cerita mini yang dimulai dengan dua kata sebagai pemantik. Misalnya: subuh + ekonomi . Paragraf apa yang bisa kita susun dari dua kata itu? Ketika kita berhasil menyusunnya, ia akan menjadi sebuah alinea yang berisi cerita. Barangkali alinea itu bisa menjadi seperti di bawah ini. Sebelum subuh aku sudah terbangun tanpa lagi ada alarm yang berbunyi. Ini sudah terjadi beberapa minggu sejak aku memutuskan untuk tak la...

Godaan digital

-(Minggu, 21 Desember 2025)- Saya hanya menduga-duga apa yang terjadi pada para pria mapan ketika usia mereka telah matang. Nampaknya, godaan dan ujian hidup itu bukannya berkurang, melainkan justru semakin bertambah—bahkan mungkin semakin kompleks. Terutama godaan yang bersumber dari alat digital ditambah selubung hawa nafsu. Teknologi komunikasi dan media sosial telah membuat banyak orang bisa saling terhubung. Mereka bahkan dapat berkomunikasi tanpa pernah sebelumnya saling mengenal. Cukup dengan berkomentar di akun media sosial seorang tokoh, seseorang yang jauh dan bukan siapa-siapa sudah bisa berinteraksi. Tak jarang, interaksi itu berlanjut melalui fitur direct message yang tersedia di media sosial tersebut—sebuah ruang komunikasi yang lebih personal dan tertutup. Barangkali, inilah yang juga terjadi pada para pria mapan. Mari kita berimajinasi. Seorang pria mapan yang hidup berkecukupan, terlebih memiliki karier di perusahaan atau pemerintahan, meskipun telah berkeluarga, kera...

Ritual pagi

-(Sabtu, 20 Desember 2025)- Hampir lima menit saya masih belum menemukan ide untuk memulai ritual pagi saya: menulis. Saya rebahan di kursi panjang dengan sandaran leher dan kepala, sementara tangan—seperti kebiasaan manusia hari ini—memegang smartphone, sekaligus sebagai alat tulis saya. Mengklaim diri telah memiliki kebiasaan rutin harian menulis ternyata berhadapan dengan sebuah paradoks. Setiap kali hendak memulai menulis, saya kerap dihadapkan pada kebingungan: menulis apa. Ide terasa habis tepat di saat ia paling dibutuhkan. Rasanya semua bidang yang saya kuasai sudah pernah saya tulis. Karena itu, saya memutuskan untuk memulai dengan berkeluh kesah atas apa yang sedang saya hadapi. Tentang hal ini pun sebenarnya sudah pernah saya tulis. Bahwa ketika bertemu kebuntuan, biarkan saja tangan terus mengetik kata demi kata, hingga nanti—entah dari mana—ide itu muncul di dalam pikiran. Namun pagi ini, momen kejutan itu belum juga terwujud. Gagasan masih belum datang. Padahal suara azan...

Alur mimpi

-(Jumat, 19 Desember 2025)- Saya ingin bereksperimen untuk membuat satu tulisan dengan alur seperti mimpi. Yang tak pernah sistematis, runut, dan kadang absurd. Setidaknya, itu mimpi-mimpi yang pernah saya alami. Alur seperti itu sebenarnya kerap terjadi dalam keseharian kita ketika kita ngobrol di tongkrongan. Di mana banyak topik yang kita bicarakan, yang runtutannya secara alur berpikir sangat tidak terstruktur alias tidak sistematis. Setelah ngobrol tentang pekerjaan, tiba-tiba nyambung ke soal makanan. Lalu lanjut ngomongin teman, kemudian ke soal politik, dan sebagainya. Artinya, obrolan itu tidak fokus pada satu topik. Dan itulah yang ingin saya coba praktikkan dalam tulisan yang ingin saya buat. Sebuah tulisan dapat berisi cerita, opini, atau berita. Yang semuanya tergantung pada kecenderungan penulisnya. Apakah ia menyukai cerita, aktif beropini di media, atau orang yang gemar menjadi pembawa berita nomor satu. Kenyataannya, sebagian orang berlomba-lomba untuk menjadi pembawa ...

Membaca terlambat

-(Kamis, 18 Desember 2025)- Ada satu penyesalan yang sejatinya tidak harus terus-menerus merundung saya. Penyesalan itu sederhana, namun terasa dalam: mengapa saya baru menyadari pemikiran-pemikiran filsafat, dan mengapa pula saya baru belakangan mengenal buku-buku ilmiah karya para ilmuwan. Padahal, jika dipikirkan kembali, saya termasuk orang yang cukup rajin datang ke perpustakaan. Sejak lama, buku bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Namun rupanya, perpustakaan yang pernah saya kunjungi belum—atau mungkin tidak—menyediakan buku-buku yang kelak saya sadari sangat penting bagi pembentukan cara berpikir. Jika ditarik lebih jauh, sejatinya sudah banyak buku yang saya baca sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun anehnya, semakin banyak membaca, saya justru kerap merasa belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Pengetahuan seolah hadir sebagai serpihan, bukan sebagai pemahaman yang utuh. Hingga kemudian, setelah membaca buku-buku tentang peradaban manusia, saya mulai menemuk...

Rahmat timbangan

-(Rabu, 17 Desember 2025)- Kisah ini sebenarnya sudah lama saya dengar. Bahkan, seingat saya, beberapa kali saya pernah menyampaikannya kepada audiens semasa masih aktif dalam dunia dakwah. Artinya, jauh sebelum tulisan ini dibuat, kisah tersebut telah lebih dulu hidup dalam ingatan saya. Jika tidak salah, saya pertama kali mendengarnya dari ceramah seorang mubaligh yang pada masanya dikenal dengan sebutan da’i sejuta umat. Dahulu, dikisahkan ada seorang ahli ibadah yang hidup selama lima ratus tahun. Seluruh hidupnya ia habiskan dalam khalwat, memusatkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah. Ketika hari penghitungan amal tiba, tibalah giliran ahli ibadah tersebut. Singkat cerita, Allah kemudian menetapkan bahwa ia masuk surga karena rahmat-Nya. Mendengar keputusan itu, sang ahli ibadah merasa keberatan. Ia memprotes. Dalam benaknya terlintas pertanyaan: bagaimana mungkin setelah lima ratus tahun hidup hanya untuk beribadah, ia dikatakan masuk surga bukan karena amalnya, melainkan k...

Daya fokus

-(Selasa, 16 Desember 2025)- Pada akhirnya, kunci kompetensi—beserta seluruh dampaknya—ditentukan oleh fokus. Saya tiba pada kesimpulan ini bukan tanpa alasan, melainkan dari pengalaman pribadi dan pengamatan panjang. Ada banyak kisah yang dapat kita jadikan pelajaran dari mereka yang dianggap sukses mengelola hidup dan kekayaannya. Sebut saja Warren Buffet, yang sejak muda memilih untuk memusatkan perhatian pada dunia investasi. Fokus itulah yang mengasah ketajaman intuisi dan kejernihan penilaiannya sepanjang puluhan tahun. Hal serupa kita temukan pada Charles Darwin. Ia tidak sekadar berpetualang; ia menaruh perhatian penuh pada proses observasi makhluk hidup di alam raya hingga mampu merumuskan teori evolusi yang menjadi tonggak biologi modern. Demikian juga dengan Albert Einstein, yang dengan ketekunan hampir obsesif mempelajari fisika hingga akhirnya menemukan rumus yang mengubah peradaban: E = mc² . Masih banyak tokoh modern lain yang membawa perubahan besar dalam dunia teknolog...

Persepsi ekonomi

-(Senin, 15 Desember 2025)-  Mari kita membayangkan sebuah simulasi sederhana tentang aktivitas ekonomi. Sebut saja tokohnya bernama Fulan. Ia seorang yang kaya—mungkin juga seorang kapitalis. Portofolio investasinya beragam: saham, reksadana, SBN, deposito, properti, emas, bahkan kripto. Prinsip don’t put your eggs in one basket ia pegang kuat-kuat sebagai fondasi pengelolaan kekayaannya. Dalam kenyataannya, aktivitas ekonomi setiap orang selalu dipengaruhi oleh persepsinya terhadap masa depan. Ketidakpastian ekonomi global, potensi bencana, paparan konten yang kerap menyudutkan kinerja pemerintah, serta gejolak harga emas dan nilai tukar rupiah, membentuk cara pandang Fulan dalam mengambil keputusan. Ia pun berpikir keras tentang bagaimana terus mengamankan aset dan investasinya. Ketika memperoleh keuntungan dari penjualan saham atau instrumen lain, uang itu tidak ia gunakan untuk konsumsi, melainkan dialihkan untuk membeli emas. Ia ingin memiliki cadangan nilai yang ia anggap p...

Jerat struktur

-(Minggu, 14 Desember 2025)- Situasi dan kondisi seperti apa yang memungkinkan manusia berpikir secara mendalam tentang sains, teknologi, atau bahkan tentang bagaimana kesadaran itu sendiri muncul? Pertanyaan ini muncul karena mudah sekali membayangkan keadaan di mana manusia justru tidak memiliki ruang batin untuk itu. Bayangkan seseorang yang setiap hari masih disibukkan dengan urusan paling dasar: bagaimana mengisi perut, di mana tidur malam nanti, atau bagaimana memastikan kebutuhan primer untuk bertahan hidup terpenuhi. Dalam keadaan demikian, tentu saja mustahil mengharapkan ia memikirkan persoalan abstrak yang berada jauh di luar lingkar kebutuhan mendesaknya. Kita juga bisa membayangkan kondisi lain yang lebih “modern” namun tidak kalah menyita pikiran: bagaimana mencari pekerjaan, membayar utang, memenuhi tuntutan sosial, atau sekadar mengikuti ritme pergaulan yang penuh distraksi. Situasi-situasi ini tetap mengurung manusia dalam lingkar persoalan sehari-hari, sehingga kapa...

Tembok besar

-(Sabtu, 13 Desember 2025)- Saya sedang merencanakan sebuah tulisan, dimulai dari langkah sederhana: membuka situs BPS. Saya ingin mencari, melihat, dan mengambil data pertumbuhan ekonomi pada dua rezim pemerintahan sebelumnya. Fokus utama saya adalah komponen konsumsi rumah tangga. Kita tahu komponen ini memiliki porsi dominan dalam PDB; artinya, setiap perubahan signifikan di dalamnya akan meninggalkan jejak besar pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Setelah mendapatkan datanya, saya membayangkan membuat grafik yang membandingkan dua rezim tersebut. Saya ingin melihat bagaimana pergerakannya: kapan mencapai titik tertinggi, kapan berada di titik terendah, dan berapa rata-ratanya. Tentu, perbandingan seperti ini sering memicu resistensi dari kelompok tertentu, karena pada akhirnya seolah menghasilkan “pemenang.” Tetapi bukan itu tujuan saya. Saya hanya ingin melihat secara objektif, sejauh apa data berbicara. Dari data itu, saya kemudian bisa masuk ke tahap analisis: dalam j...