Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Belanja menumpuk

-(Jumat, 31 Oktober 2025)- Sekarang ini semua orang bisa memelototi kinerja belanja APBD di setiap pemerintah daerah. Tinggal buka Google, lalu ketik portal APBD DJPK. Sejurus kemudian akan muncul tautan situs yang bisa kita buka. Pada portal itu, kita tinggal memilih ingin melihat periode kapan dan pemda mana. Ini pula yang saya lakukan. Saya penasaran dengan bagaimana kinerja belanja APBD sampai dengan triwulan III tahun ini. Ada pilihan untuk melihat semua provinsi alias nasional. Inilah angka kinerjanya: realisasi belanja daerah 52,38%. Dengan rincian: belanja pegawai 61,81%, belanja barang 49,85%, belanja modal 29,13%, dan belanja lainnya 56,49%. Dengan waktu yang sudah memasuki triwulan III, angka realisasi itu tentu menunjukkan kinerja yang rendah. Mestinya, target realisasi pada triwulan III sudah berada di sekitar 70%. Apalagi jika diperhatikan, realisasi belanja modalnya sangat rendah, hanya 29,13%. Kenyataannya, saya tetap penasaran: provinsi mana yang kinerjanya rendah ...

Transfer mengendap

-(Kamis, 30 Oktober 2025)- Ada banyak faktor penyebab mengendapnya dana Pemda di perbankan. Salah satunya adalah TKD yang ditransfer pada waktu yang tidak tepat. Contoh kasusnya begini. Biasanya di triwulan ketiga Pemda melakukan proses APBD Perubahan. Pada saat sebelum proses itu, yang diperlukan Pemda adalah kepastian angka pendapatan yang akan diterima. Salah satunya berasal dari pendapatan transfer pemerintah pusat, di antaranya dari kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH). Ketika informasi mengenai kapan kurang bayar DBH ini akan disalurkan tidak diperoleh, maka Pemda tidak mungkin menganggarkan alokasi pendapatan tersebut dalam APBD Perubahan beserta rencana belanjanya. Sebab, jika dana itu tidak jadi ditransfer, bisa berakibat tekor atau kekurangan kas. Kenyataannya, kurang bayar DBH itu akhirnya disalurkan ke kas daerah. Tapi celakanya, APBD Perubahan sudah terlanjur ditetapkan. Artinya, dana itu tidak akan digunakan pada tahun berjalan, dan baru akan dianggarkan untuk APBD tahun...

Mangga pemimpin

-(Rabu, 29 Oktober 2025)- Selain durian, ada satu buah lagi yang saya suka: mangga—apalagi mangga gadung. Di kampung, kami memiliki beberapa pohon mangga gadung. Setiap kali pohon-pohon itu berbuah, saya selalu melarang buah-buahnya dijual atau ditebas oleh pedagang mangga. Rasanya kami tak pernah bosan makan buah mangga ini. Saya kira, ini adalah buah paling sehat. Bagaimana tidak, pohon-pohon mangga di rumah orang tua kami tumbuh alami, tanpa pupuk, tanpa pestisida, tanpa obat-obatan kimia. Semuanya alami. Artinya, buahnya pun alami. Setiap musim panen mangga, kami akan pulang ke rumah orang tua, salah satunya untuk mengambil dan menikmati buah mangga itu. Begitulah kebahagiaan orang tua kami: melihat anak cucunya makan mangga dari kebun sendiri, dari pohon yang sudah lama ditanam. Barangkali umur pohon-pohon itu sudah sama dengan anak-anak saya, bahkan mungkin lebih tua. Saya ingat, ketika masih SD dulu, kepala daerah di tempat kami pernah menggalakkan warganya untuk menanam poh...

Media darling

-(Selasa, 28 Oktober 2025)- Seorang media darling benar-benar bisa memengaruhi percakapan publik. Apa saja yang keluar dari mulut seorang media darling akan menjadi perhatian, bahkan bisa berujung pada diskusi dan perdebatan panjang. Kita bisa melihat contohnya pada berbagai isu: tentang kereta cepat, dana yang mengendap, cukai, hingga pakaian bekas. Semua isu itu mencuat dan menjadi pembicaraan luas karena bersumber dari hasil wawancara seorang media darling . Dengan kata lain, ketika satu isu ingin diangkat ke publik, cara yang cukup ampuh adalah memastikan isu tersebut keluar dari mulut sang media darling . Ia adalah sosok yang setiap hari diburu wartawan, dimintai komentar, keterangan, atau pandangan mengenai berbagai hal. Setiap kata yang ia ucapkan berpotensi menjadi berita dan bahan perdebatan di ruang publik. Karena itu, ketika suatu kelompok memiliki tuntutan tertentu dan berharap agar tuntutannya mendapat perhatian publik—dan menjadi sorotan media, bahkan percakapan nasiona...

Musang King

-(Senin, 27 Oktober 2025)- Buru-buru saya sampaikan disclaimer: bahwa apa yang saya tuliskan ini adalah pengalaman pribadi, yang barangkali tidak berlaku bagi semua orang. Hanya saja, bukankah mekanisme tubuh dan pikiran manusia berjalan sesuai dengan sunatullah? Artinya, apa yang terjadi pada tubuh seseorang bisa juga berlaku pada tubuh orang lain. Pada akhirnya, apa yang selama ini saya inginkan benar-benar bisa terjadi, meski saya sama sekali tidak tahu kapan hal itu akan terwujud. Bagi penggemar buah durian, tentu jenis Musang King adalah puncak dari kenikmatan. Hanya saja, sering kali kita terhalang oleh harganya yang relatif mahal dibandingkan jenis durian lainnya. Saya masih ingat betul, ketika berkunjung ke rumah seorang penjual durian di lereng gunung, saya bertanya apakah ada durian Musang King. Saat itu, si penjual menjawab bahwa stoknya sudah habis. Beberapa waktu kemudian, di sebuah restoran yang berada di tengah kebun durian, saya melihat beberapa buah durian Musang K...

Sepotong pertemuan

-(Minggu, 26 Oktober 2025)- Setelah sekian lama tak bertemu, saya akhirnya dipertemukan kembali dengan beberapa teman lama. Pertemuan itu membawa perasaan campur aduk—antara bahagia, haru, sekaligus heran. Waktu, atau barangkali usia, memang tak bisa berbohong. Perubahan fisik terlihat begitu jelas pada beberapa di antara mereka. Dan saya yakin, mereka pun mungkin melihat hal yang sama pada diri saya. Namun, barangkali bukan waktu semata yang membawa perubahan itu. Tekanan hidup, keterasingan dari keluarga, dan tertundanya berbagai harapan juga ikut memberi andil pada bentuk fisik dan raut wajah seseorang. Faktor-faktor itu sering kali menuntun manusia pada berbagai bentuk pelarian—ada yang positif, ada pula yang negatif. Sebagian orang mungkin menemukan ketenangan batin melalui jalan religiusitas. Mereka menata ulang cara hidup, memperdalam ibadah, dan perlahan mengubah atribut fisiknya sebagai ekspresi dari pencarian makna. Bagi mereka, mungkin di sanalah letak rasa tentram, meski ke...

Perjalanan pagi

-(Sabtu, 25 Oktober 2025)- Hasil ngobrol dengan seorang teman membawa saya pada satu pengetahuan baru: bahwa pemesanan taksi untuk hari dan jam tertentu di waktu mendatang ternyata sudah bisa dilakukan melalui aplikasi yang sering saya gunakan. Dengan membayar melalui aplikasi tersebut, saya juga memperoleh bukti pembayaran yang nantinya bisa saya klaim. Dengan sistem at cost, tentu saya tidak perlu khawatir terhadap tarif taksi itu, karena seluruh biaya akan diganti. Inilah salah satu bentuk kemajuan mekanisme kerja yang berlandaskan pada integritas dan transparansi. Saya memutuskan untuk memesan taksi sejak hari sebelumnya. Alasannya sederhana: penginapan tempat saya menginap berada di dalam kompleks, cukup jauh dari jalan utama dan lalu lintas kendaraan. Daripada mengambil risiko memesan taksi di pagi hari dan kesulitan mendapatkannya, saya memilih untuk memesannya lebih awal melalui aplikasi. Tentu, konsekuensinya mungkin tarifnya sedikit lebih tinggi—tetapi itu harga dari kepastia...

Kota macet

-(Jumat, 24 Oktober 2025)-  Saya tengok jam di smartphone. Angka menunjukkan 17.05. Saya duduk di kursi tepi kanan dalam bus, dekat dengan kaca. Dari sini, pandangan saya leluasa mengamati arus lalu lintas jalanan kota metropolitan ini. Rintik hujan turun perlahan di tengah suasana sore yang mulai merangkak menuju malam. Jalanan menuju luar kota tampak padat, hingga bus pun tak leluasa melaju. Sesekali mengerem, berhenti, lalu berjalan kembali. Sebagai insan yang pernah merasakan manis pahit kota ini, saya tahu betul bahwa berkendara pada jam sore seperti ini—di saat orang pulang kantor—adalah sebuah ujian kesabaran. Rupanya, kondisi itu masih juga sama dengan beberapa tahun lalu. Seolah macet adalah hal yang tak bisa diselesaikan dan mesti diterima dengan lapang dada. Anehnya, tak ada rasa kapok bagi orang-orang untuk terus menetap dan menjalani hari-harinya di jalanan yang rumit itu. Barangkali, semua kepadatan dan kesemrawutan itu tak lagi berarti dibandingkan dengan kemudah...

Hujan bandara

-(Kamis, 23 Oktober 2025)- Saya duduk di dekat jendela, ketika siang itu hujan turun. Saya mengamati petugas maskapai itu, yang sedang melambaikan tangan, sepertinya ke arah pilot. Rintik hujan membuat pandangan melalui kaca jendela itu terlihat samar-samar atas semua pemandangan di luar pesawat. Ada perasaan sepi ketika pesawat mulai berjalan menuju landasan. Entahlah, mungkin hujan di luar sana telah membawa suasana itu—suasana yang menggantung antara tenang dan sendu. Kenyataannya, ini adalah hujan di bulan Oktober. Di sebuah bandara di satu kota yang diri ini merasa belum pernah bisa memilikinya. Hanya sekadar melintas, untuk menuju tempat tujuan. Kota ini seakan menjadi ruang transit, bukan tempat berpulang. Barangkali jurang antara harapan dan realitas itulah yang membuat hati belum bisa lega sepenuhnya. Ada jarak yang tak selalu terlihat, tetapi terasa nyata di dalam diri. Mungkin pula karena mesti meninggalkan sebuah hati yang menjadi tambatan jiwa, membuat diri ini seolah r...

KPI belanja pemerintah

-(Rabu, 22 Oktober 2025)- Proyeksi angka pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun ini sebesar sekitar 5,6 persen itu bukanlah hal yang luar biasa. Pasalnya, belanja pemerintah memang baru terealisasi secara jor-joran di periode itu. Apakah belanja APBN atau APBD, nyaris sama saja. Semuanya menumpuk di triwulan IV. Maka, mari kita mulai serius untuk meningkatkan kinerja penyerapan belanja ini agar merata sepanjang tahun, atau setidaknya tercapai target realisasi di setiap triwulan. Tahun depan, presiden melalui KSP sebaiknya mulai memberikan target alias KPI kepada Kemendagri dan Kemenkeu, terutama atas kinerja realisasi belanja APBD. Dengan adanya KPI bagi Menkeu dan Mendagri atas target realisasi belanja APBD di setiap triwulan, otomatis target itu akan diturunkan kepada seluruh Dirjen terkait, lalu diturunkan lagi kepada Kanwil Kemenkeu di daerah beserta kantor vertikal Kemenkeu lainnya. Maka, dijamin dengan adanya KPI yang menantang ini, dua kementerian tersebut akan bekerja keras “...

Masalah daerah

-(Selasa, 21 Oktober 2025)- Pemangkasan TKD itu ternyata telah membuka kotak pandora — tentang bagaimana sebenarnya kinerja pemerintah daerah. Dari mulai dana daerah yang menumpuk di perbankan, rendahnya realisasi belanja daerah di semester pertama, penumpukan belanja di akhir tahun, hingga kecurigaan adanya dana daerah yang disimpan dalam bentuk deposito. Semua itu semestinya bisa menjadi momen perbaikan bagi kita semua. Inilah saatnya mulai serius menangani persoalan ini. Sejatinya, sudah banyak permasalahan di daerah yang ditangkap dan dilaporkan ke pusat. Namun entah mengapa, masalah yang sama terus saja muncul setiap tahun. Seperti yang kemarin disampaikan Mendagri mengenai lambatnya juknis dari kementerian untuk proyek DAK fisik. Padahal, sejak lima tahun lalu hal ini sudah berulang kali disuarakan — tetapi tetap saja terulang dari tahun ke tahun. Barangkali salah satu penyebabnya adalah karena terlalu banyak kementerian dan lembaga yang terlibat dalam urusan pembinaan daerah....

Irigasi listrik

-(Senin, 20 Oktober 2025)- Tadinya saya mengira fenomena listrik masuk sawah — penggunaan listrik untuk menghidupkan mesin pompa air di daerah saya — juga terjadi di daerah-daerah lain. Saya pikir hal itu sudah menjadi semacam fenomena nasional. Namun ternyata saya keliru. Tidak semua daerah memiliki fenomena semacam itu. Di beberapa tempat, sawah-sawah justru bersih dari kabel-kabel listrik. Meski tanpa pompa air listrik, tanaman di sana tetap tumbuh subur. Rupanya, kesuburan itu disokong oleh sistem pengairan yang baik dan terkelola dengan rapi. Saya melihat, di daerah-daerah semacam itu, sungainya besar dan penuh air. Artinya, ketersediaan air yang melimpah serta sistem pengairan yang efisien telah membuat lahan-lahan pertanian di sana menjadi subur secara alami. Sebaliknya, di daerah yang banyak menggunakan pompa air listrik, kesuburan sawah memang tetap terjaga. Namun, hal ini sekaligus menandakan bahwa sistem pengairan di wilayah tersebut belum berjalan optimal. Akibatnya, pe...

Legacy abadi

-(Minggu, 19 Oktober 2025)- Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Sebuah ungkapan yang sebagian orang menggunakannya untuk merujuk pada kondisi ketika ada pergantian pimpinan atau satu jabatan. Bagi yang kritis, benarkah ungkapan itu? Ataukah itu hanya sekadar justifikasi atas apa yang tengah terjadi? Di mana ketika dulunya seseorang dielu-elukan, dipuja, dibanggakan, diandalkan, kini redup dan tergantikan oleh orang lain? Saya punya perspektif yang berbeda. Meski itu fakta yang kita lihat, saya tak terlalu meyakini itu semua. Barangkali hal itu lebih karena polesan media—agar bagaimana pun terus mendapatkan penonton. Sebagian orang memang mengalami pasang dan surut. Tapi itu tidak berlaku secara keseluruhan. Ada orang-orang tertentu yang terus disebut-sebut dan sangat memengaruhi masyarakat. Sebut saja tokoh agama yang sudah lama meninggal dunia, tapi masih terus relevan untuk disebut, diceritakan, dikisahkan, diteladani, dan dijalankan ajarannya. Ada juga tokoh ban...

Mesin birokrasi

-(Sabtu, 18 Oktober 2025)- Percayalah, sekuat apa pun komitmen seorang pemimpin dalam melaksanakan program, sebrilian apa pun gagasan dan solusi yang ia tawarkan, semuanya akan berakhir sebagai omong kosong jika mesin birokrasi tidak berjalan dengan baik. Tanpa dukungan birokrasi yang solid dan efektif, visi besar hanya menjadi jargon, bukan gerak nyata. Entah sudah berapa kali saya menulis tentang pentingnya memperhatikan “mesin” ini, karena di sinilah sesungguhnya letak kekuatan pemerintahan. Ketika birokrasi dibiarkan berjalan dengan cara lama, tanpa pembenahan, tanpa optimalisasi, maka yang terjadi adalah pemandangan ironis seperti laporan yang viral: pegawai berseragam duduk santai di kafe pada jam kerja. Namun, ironi birokrasi tidak selalu tampak di ruang publik. Bisa jadi mereka berada di kantor, tetapi apa yang mereka kerjakan tak sejalan dengan visi pimpinannya. Menteri sudah tancap gas di gigi lima, sementara aparaturnya masih betah di gigi dua, atau malah gigi satu. Akibat...

Analisis akun

-(Jumat, 17 Oktober 2025) Dalam pelaksanaan anggaran dikenal istilah akun, yaitu beberapa kode mata anggaran berupa rangkaian angka yang merujuk pada batasan penggunaan. Sederhananya, akun adalah sistem penandaan yang mengatur peruntukan dana agar penggunaannya tepat sasaran. Kongkretnya begini. Ada jenis belanja barang yang diwakili dengan kode dua digit, yaitu 52. Namun, cakupan kode ini masih sangat luas. Karena itu, dibuatlah kategorisasi dengan menambahkan satu digit lagi menjadi tiga digit. Kategori ini pun masih bersifat umum, sehingga kemudian di-breakdown lagi menjadi empat digit, hingga akhirnya menjadi enam digit. Ketika kode akun sudah berjumlah enam digit, maka alokasi anggaran pada kode tersebut telah sangat spesifik. Misalnya, akun 524111 adalah akun pengeluaran untuk perjalanan dinas dalam negeri, seperti perjalanan dinas dalam rangka pembinaan atau konsultasi, serta perjalanan dinas untuk keperluan pemeriksaan atau pengawasan. Jumlah kode akun ini sangat banyak, seh...