Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Paradoks Desember

  -(Senin, 1 Desember 2025)- Selamat datang Desember. Bulan yang hanya berisi 31 hari ini menjadi penanda bahwa tahun baru semakin dekat. Bagi sebagian orang, ini adalah bulan yang ditunggu—hadirnya hari raya, liburan, dan waktu berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi sebagian yang lain, Desember justru merupakan bulan paling padat. Bulan ketika target kinerja dan serapan belanja menjadi taruhan. Maka diberlakukanlah berbagai aturan: pengetatan, pembatasan, bahkan larangan cuti. Dan pola ini selalu berulang setiap tahun. Di satu sisi, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai hal positif. Ia menunjukkan keseriusan birokrasi untuk menuntaskan tugasnya. Para pegawai rela mengorbankan kepentingan keluarga demi kepentingan rakyat, menjaga agar serapan anggaran mencapai target. Tetapi di sisi lain, fenomena ini sekaligus menjadi alarm bahaya: kinerja belanja pemerintah belum juga menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun. Penumpukan pencairan anggaran di akhir tahun masih menjadi tradis...

Karya kreatif

-(Minggu, 30 November 2025)- Saya masih tertegun setelah membaca isi buku itu. Bagaimana para pembuat buku tersebut mampu sampai pada pemikiran sedalam itu? Imajinasi yang lalu dituangkan dalam bentuk komik—dengan percakapan yang menarik, bernas, memberi pengetahuan, sekaligus memantik gagasan-gagasan yang mind blowing. Tentu itu bukan karya penulis pemula atau komikus debutan. Sangat mungkin komik tersebut merupakan hasil kolaborasi para pakar: orang-orang berpengalaman yang telah mengasah keterampilan mereka melalui proses panjang dan berulang—mungkin hingga ribuan kali—hingga mencapai level ahli. Ketika mereka merekonstruksi apa yang terjadi di masa lalu berdasarkan temuan arkeologi, mereka jelas membutuhkan lebih dari sekadar kumpulan artefak. Mereka memerlukan kemampuan imajinasi historis. Misalnya, ketika muncul pertanyaan: Bagaimana manusia zaman dulu menemukan bahwa kentang, umbi-umbian, atau kacang-kacangan menjadi lebih enak setelah terkena api? Imajinasi itu mungkin berk...

Kompleksitas perilaku

-(Sabtu, 29 November 2025)- Ribut dan viral soal tumbler di media belakangan ini, yang kemudian berakhir damai, semakin menegaskan kebenaran isi buku yang saya baca itu. Semua berawal dari kehilangan benda yang dianggap berharga di sebuah moda transportasi. Lantas si pemilik tidak terima dan menceritakannya ke medsos. Ah, lanjutannya silakan cari sendiri di internet. Sebenarnya saya agak malas menulis hal-hal viral, karena itu justru membuatnya semakin viral. Yang kadang saya melihat, berita semacam itu menjadi viral karena telah ditunggangi banyak orang untuk barangkali ingin menjadi terkenal, merasa ikut memberikan pembelaan, rasa empati, dan mungkin juga untuk kepentingan memperbanyak penonton alias menambah engagement. Fenomena semacam ini mencerminkan bagaimana opini publik dapat bergeser menjadi komoditas sosial. Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa ada manusia yang melakukan hal begitu? Baik yang dilakukan oleh pemilik tumbler, maupun yang dilakukan oleh para netizen. Dari ma...

Warisan perilaku

  -(Jumat, 28 November 2025)- Setelah membaca buku itu, akhirnya saya benar-benar memahami apa yang membedakan dua makhluk yang terlihat serupa tetapi dikategorikan dalam spesies berbeda. Melalui kategorisasi, kita dapat mengenali perbedaan antarspesies serta ciri khas masing-masing. Dengan cara inilah para saintis dalam dunia biologi memberikan sumbangsih pengetahuan luar biasa terhadap flora dan fauna di bumi. Barangkali, cita-cita para saintis itu adalah kembali menemukan spesies baru yang masih tersembunyi di alam raya. Atau, mungkin pula mereka berharap menemukan spesies yang pernah ada di bumi, tetapi kini telah punah. Dan ternyata, dari buku itu saya belajar bahwa ada banyak spesies yang telah punah. Ulah siapa? Anda barangkali sudah bisa menebaknya. Salah satu saripati penting dari buku itu yang melekat dalam benak saya adalah temuan bahwa setiap kali makhluk ini tiba di satu wilayah atau daratan tertentu, beberapa tahun kemudian akan terjadi kepunahan sejumlah spesies h...

Normalisasi bosan

-(Kamis, 27 November 2025)- Apa yang membuat kita bosan? Pekerjaan, kegiatan, acara, atau aktivitas yang dilakukan berulang-ulang. Pengulangan itu menjadikan sebuah aktivitas yang awalnya bermakna dan menarik menjadi hal yang biasa, tak lagi istimewa. Padahal, barangkali di tempat lain aktivitas yang sama bisa dianggap mustahil atau bahkan ajaib untuk dilakukan. Meski demikian, repetisi itulah yang pelan-pelan membentuk kebiasaan. Aktivitas yang terus diulang akan mengendap menjadi pola, kemudian berkembang menjadi tradisi, bahkan budaya. Dengan kata lain: repetisi itu penting, terutama ketika kita ingin membentuk kedisiplinan, membangun habit, hingga menempa karakter. Masalahnya, proses tersebut sangat membosankan. Biasanya, kita berusaha mencari cara untuk mengatasi rasa bosan itu. Namun alih-alih bertanya bagaimana menghilangkan kebosanan , kita bisa membalik pertanyaan tersebut: mengapa harus dihilangkan? Mengapa kita tidak menjadikan rasa bosan sebagai sesuatu yang biasa saja? ...

Kabar buruk

 -(Rabu, 26 November 2025)- Pada akhirnya, kita bisa merasa bosan dan menutup diri dari kabar buruk. Informasi negatif itu seperti beban: ketika terus menerus menerpa diri, ia kian memberatkan pikiran dan perasaan, dan dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental—bahkan memicu depresi. Ibarat gelas berisi air penuh. Pada awalnya terasa ringan. Namun ketika terus digenggam tanpa jeda, tangan akan terasa semakin letih dan sakit. Begitu pula kabar buruk: bukan karena ia langsung menghancurkan kita, tetapi karena kita menggenggamnya terlalu lama dalam pikiran. Selain berusaha beristirahat dari memikirkan masalah yang sama berulang-ulang, upaya lain yang bisa dilakukan adalah membatasi, bahkan menghindari paparan kabar buruk. Dengan kata lain, memperbanyak kabar yang menggembirakan—yang membangun optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik—merupakan pilihan yang lebih sehat. Namun kenyataannya, kita hidup berdampingan dengan orang lain: keluarga, teman, a...

Hujan birokrasi

-(Selasa, 25 November 2025)- Hari-hari belakangan ini, setiap hari turun hujan. Adakalanya saat dini hari, adakalanya pula di siang hari. Bagi kalangan petani, barangkali ini menjadi berkah—asal hujannya tidak membuat banjir dan sawah tergenang. Bagi pihak lain? Nanti dulu. Barangkali ada yang mengeluh, lalu menjadikan hujan sebagai kambing hitam atas pekerjaan yang terus tertunda penyelesaiannya. Hujan ini tentu akan menjadi persoalan ketika akhir tahun, saat banyak pekerjaan infrastruktur dikejar target penyelesaiannya. Ada yang sedang merehab gedung, memperbaiki jalan dan jembatan, atau merevitalisasi sekolah. Belum lagi proyek-proyek fisik lainnya, baik pemeliharaan maupun perawatan. Mungkin akan ramai-ramai menyalahkan hujan. Tapi jika kita lebih kritis, muncul pertanyaan: ke mana saja selama ini hingga proyek-proyek itu baru dikerjakan sekarang? Sebelum musim hujan seperti ini, tentu yang terjadi adalah musim kemarau. Dan itu sudah pasti, karena negara ini hanya memiliki dua...

Gaji tunggal

  -(Senin, 24 November 2025)- Apakah single salary bagi ASN akan benar-benar menjadi solusi peningkatan kinerja birokrasi? Secara teori mungkin bisa, karena penyederhanaan skema penggajian dapat menciptakan transparansi, mengurangi ketimpangan, serta mendorong profesionalitas. Namun, jika membayangkan implementasinya dalam kondisi birokrasi saat ini, justru muncul kekhawatiran besar: yang terjadi bukan peningkatan kinerja, melainkan demotivasi ASN. Alih-alih tergesa menerapkan single salary, hal yang paling mendesak adalah memastikan bahwa kinerja ASN dapat menjadi bukti nyata dan memberi kepuasan bagi masyarakat. Ketika pelayanan publik belum konsisten memenuhi kebutuhan dan ekspektasi masyarakat, kebijakan single salary bisa memunculkan penolakan publik. Masyarakat dapat mempertanyakan kelayakan gaji tersebut, apalagi jika salary yang dipilih justru dinilai tidak sesuai atau tidak layak untuk ASN pada unit tertentu. Pada titik ini, legitimasi publik terhadap kebijakan bisa sa...

Ekonomi modern

-(Minggu, 23 November 2025)- Nampaknya semua teori ekonomi itu tak benar-benar manjur untuk mengatasi keadaan ekonomi modern. Mengapa? Saya membayangkan teori-teori ekonomi itu disusun pada masa lampau, di mana kondisi sosial masyarakat dan teknologi masih sangat sederhana. Terlebih lagi saat itu belum ada internet dan media sosial. Sebagian besar kehidupan dan pekerjaan juga masih dikerjakan secara manual. Interaksi antar manusia dan antar negara barangkali waktu itu juga belum sekompleks saat ini. Dengan berbagai faktor tersebut yang menjadi pembeda kondisi saat ini dan saat teori itu disusun, rupanya itu pula yang membuat hasilnya tidak bisa sama. Teori-teori itu tidak semujarab zaman dulu lagi. Apalagi ditambah kebutuhan manusia modern yang semakin kompleks, membuat situasinya tak lagi sama dengan dulu. Artinya, kondisi ceteris paribus itu barangkali saat ini hanya di textbook, tak mungkin lagi didapat di kehidupan nyata. Pun, teori atau rumus pendapatan nasional yang ditulis se...

Olahraga beban

-(Sabtu, 22 November 2025)- Saya mulai menjalani latihan rutin setiap hari. Olahraga beban. Di rumah. Mungkin saya terlalu cepat mengumumkan ini karena faktanya baru saya lakukan dalam tiga hari berturut-turut ini. Namun ada yang berbeda dibanding sebelumnya. Jika dulu, karena tidak paham, saya melatih semua otot saya dalam setiap sesi latihan, sekarang setiap sesi saya fokus pada pembentukan bagian tubuh tertentu. Dalam tiga hari ini, pola latihan saya terbagi jelas. Hari pertama, saya melatih otot dada dan lengan dengan gerakan push up dan plank beserta variasinya. Hari kedua, saya melatih otot perut melalui sit up dan angkat kaki dalam posisi tubuh rebahan. Hari ketiga, saya melatih otot paha dan bokong. Untuk hari keempat nanti, barangkali saya akan melatih otot dada atas. Sedangkan hari kelima dan keenam, saya akan melihat contekan program latihan terlebih dahulu. Dan tentu, hari ketujuh adalah hari istirahat yang wajib, agar tubuh memiliki waktu pemulihan. Begitulah upaya kera...

Rel alternatif

-(Jumat, 21 November 2025)- Sudah dua hari ini saya tidak berangkat ke mushola untuk sholat Subuh berjamaah. Alasan utamanya adalah hujan—bukan sekadar gerimis, tetapi hujan deras yang turun setiap dini hari. Anehnya, hujan itu selalu datang tepat saat masuk waktu Subuh. Praktis, niat saya untuk ke masjid pun harus saya urungkan. Sebenarnya ada perasaan tidak nyaman ketika kebiasaan sholat berjamaah di masjid atau mushola itu tidak saya lakukan. Mungkin karena sudah menjadi satu kebiasaan, sehingga ketika ditinggalkan seperti ada yang kurang dalam keseharian. Selain itu, dorongan atas pahala dan keutamaan sholat berjamaah bagi pria membuat saya merasa rugi jika melewatkannya. Namun apa boleh buat, sebab hujan barangkali semesta tidak mengizinkan saya pergi sholat berjamaah. Jika kita berprasangka baik, ini juga bisa menjadi bagian dari rencana Tuhan. Barangkali ada hal berharga lain yang bisa saya lakukan untuk menutup amalan sholat Subuh berjamaah itu dengan amalan lainnya. Karena i...

Kunang-kunang

-(Kamis, 20 November 2025)-  Apa sekarang yang ingin anda lihat dari kenangan masa lalu? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya sudah saya temukan. Mungkin sejak lama jawaban itu sudah bercokol di kepala saya. Sesuatu yang sudah saya rindukan karena menjadi pengalaman masa kecil yang terukir dalam pikiran saya: kunang-kunang . Itu jawaban saya. Binatang ini barangkali sekarang sudah langka. Sulit untuk ditemukan kembali. Jika di tempat anda masih ada kunang-kunang, tolong beritahu saya, di mana tempatnya. Saya ingin benar-benar melihatnya terbang membawa cahaya, lalu saya ingin menangkapnya, memegangnya, lalu menjadikan ia penerang dalam kegelapan malam. Begitulah yang dulu saya lakukan saat masih anak-anak dan remaja. Jalan setapak menuju masjid itu selalu gelap. Saya menangkap kunang-kunang yang melintas dan menjadikannya penerang jalan, sekaligus teman. Barangkali cahaya di tubuhnya tak cukup untuk menerangi gelap malam yang pekat itu. Kalau pun saya masih bisa...

Lagu imitasi

-(Rabu, 19 November 2025)- Sekarang ini sudah banyak lagu-lagu yang digenerate akal imitasi (AI). Bahkan ada lagu cover yang juga dinyanyikan AI. Hasilnya: sangat enak didengar di telinga. Selain memang karena semakin canggihnya AI, barangkali ini juga menjadi semacam “pelarian” bagi beberapa pihak yang merasa terganggu dengan aturan royalti atas lagu-lagu asli yang diputar atau dinyanyikan. Ini tentu sungguh ironis. Aturan itu dibuat untuk memberikan hak bagi musisi, tapi di sisi lain, seperti yang sempat heboh beberapa waktu lalu, agak berlebihan. Bagaimanapun aturan yang berlebihan pastilah akan membuat warga kecewa. Persoalannya tidak berhenti sampai disitu. Setelah orang-orang beralih ke musik AI, lambat laun daya kreatif untuk menciptakan lagu sendiri berpotensi menurun. Ini tentu akan sangat mengkhawatirkan. Seperti kekhawatiran banyak pihak atas dampak AI pada banyak sisi kehidupan terutama industri kreatif. Begitulah. Kemajuan teknologi dan keinginan masyarakat rupanya sal...

Sidak Pemimpin

-(Selasa, 18 November 2025)- Dalam satu potongan video, ada seorang gubernur yang melakukan sidak ke satu sekolah. Ada kata-kata yang masih saya ingat: “mirip kandang ayam” . Artinya, kondisi fisik sekolah ini sangat memprihatinkan. Gubernur terlihat agak marah, karena terkesan para petinggi sekolah itu tidak peduli dengan kondisi bangunan. Dan nampaknya gubernur itu kemudian memerintahkan bawahannya untuk segera melakukan perbaikan atas sekolah tersebut. Saya kemudian jadi berpikir: andai semua kepala daerah juga melakukan sidak begitu. Tentu permasalahan riil di lapangan dapat tercapture oleh pimpinan dan segera dapat penanganannya. Barangkali itu hanya satu dari banyak sekolah yang mengalami hal serupa. Ada banyak bangunan sekolah yang faktanya sangat memprihatinkan. Makanya, jika kemudian pemerintah sekarang memiliki program revitalisasi sekolah, memang sungguh sangat relevan. Program seperti ini dapat menjawab kebutuhan mendesak dunia pendidikan yang sering kali luput dari penga...

Melatih diri

-(Senin, 17 November 2025)- Prinsip bahwa latihan adalah proses untuk mencapai tingkatan sebuah kompetensi atau keahlian, adalah hal yang tidak terbantahkan. Barangkali prinsip ini kemudian digunakan sebagai cara untuk melatih akal imitasi (AI) hingga ia mampu mengerjakan atau menjawab semua tugas yang diberikan manusia. Dan kita tahu semakin hari akal imitasi ini semakin canggih saja. Semua karya-karya kreatif sudah bisa dikerjakan oleh AI. Itu semua karena ia terus belajar dan dilatih. Proses ini bermula dari contoh yang dilakukan oleh manusia. Ketika setiap hari manusia itu terus berlatih pada satu keahlian atau kompetensi, lambat laun ia akan berada pada maqom tertinggi atas keahlian itu. Ada yang bilang, latihan selama minimal 1000 kali akan membawa manusia pada level ahli. Untuk memberikan motivasi kepada para generasi muda saat ini, mari kita balik alur ceritanya. Ini dimaksudkan agar mereka melihat buktinya secara langsung, bukan sekadar bayangan atau fiksi belaka. Saya mem...

Kerinduan suci

-(Minggu, 16 November 2025)- Pada sebagian orang yang pernah melaksanakan haji atau umroh, setelah rentang waktu tertentu, mereka merasakan kerinduan pada dua tempat suci itu: Masjidil Haram dengan Ka’bah-nya dan Masjid Nabawi dengan Raudhah-nya. Termasuk pada diri saya. Entahlah, ada satu perasaan mendalam yang sulit dituliskan dengan kata-kata. Sebuah kalimat klise yang sejatinya menggambarkan ketidakmampuan manusia untuk memverbalkan apa yang tengah ia rasakan. Kesulitan membahasakan ini barangkali juga menjadi andil perbedaan besar antara para saintis dan para sufi; antara logika rasional dan pengalaman transendental. Yupp… saya menemukan kata-kata yang tepat atas perasaan rindu pada dua tempat suci itu: pengalaman transendental. Barangkali inilah yang dialami oleh orang-orang yang selalu merasa rindu pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Namun kerinduan yang sifatnya spiritual itu tidak selalu mudah dilunaskan. Untuk kembali ke tanah suci, dibutuhkan waktu dan biaya. Karena i...

Subuh syahdu

-(Sabtu, 15 November 2025)- Tinggal di lingkungan dengan akses ke beberapa masjid atau mushola yang terjangkau itu sebuah kenikmatan tersendiri. Saya bisa memilih kemana saya ingin sholat berjamaah. Artinya saya berusaha tidak terikat dengan satu masjid atau mushola. Keberagaman pilihan ini memberi saya pengalaman beribadah yang tidak monoton dan selalu memiliki nilai tambah tersendiri. Salah satu keuntungan yang riil saya dapatkan adalah subuh tadi. Sebenarnya saya prefer ke mushola sebelah timur, tapi rupanya persiapan saya untuk berangkat ke mushola itu kurang lebih awal. Sebelum berangkat saya sempat ragu dengan gerimis yang turun: berangkat ke langgar atau sholat di rumah? Keraguan ini wajar, karena kondisi cuaca sering memengaruhi keputusan seseorang untuk berjamaah. Namun tiba-tiba seperti ada dorongan kuat untuk tetap pergi sholat berjamaah di langgar. Saya pun bergegas. Dengan tujuan awal langgar sebelah timur, saya melangkah hingga di persimpangan jalan. Saya berhenti seje...

The Dragonfly

 -(Jumat, 14 November 2025)- Ketika buntu dan sulit mengeluarkan ide tentang apa yang akan saya tulis, saya kemudian mengingat cerita film. Dari sebuah film kita bisa belajar banyak hal: nilai-nilai kehidupan, kebudayaan, pesan moral, dan barangkali sudut pemikiran yang beragam.  Misalnya film berjudul The Dragonfly . Ini film lama yang saya hanya lamat-lamat mengingat alur ceritanya. Namun yang ada dalam pikiran saya tentang film itu adalah bagaimana seorang suami -yang istrinya meninggal dunia- dituntun oleh sesuatu yang transenden untuk bayinya. Diperankan oleh Kevin Costner, rupanya film ini cukup membekas dalam ingatan saya. Terutama tentang perasaan sang suami kepada istrinya yang begitu mencintainya. Terbukti ia merawat bayi yang memiliki tanda lahir dragonfly hingga menjadi anak perempuan yang cantik, dengan tetap dalam kesendiriannya. Gambaran betapa kuatnya rasa cinta itu seperti telah mempengaruhi diri saya. Ingatan akan film itu bisa menjadi inspirasi bagi saya ...

Dokter vs sendok

-(Kamis, 13 November 2025)- Inilah sebuah guyonan yang menggelitik nalar. Bagaimana satu diagnosis mendalam dari hasil belajar selama lima tahun dikalahkan dengan sebuah sendok dan kerokan. Ini terjadi ketika ada seorang keluarga yang sakit dengan gejala: perut kembung, mual, muntah, serta gejala klinis lainnya. Anak saya, yang sedang menempuh pendidikan kedokteran, berusaha menganalisis kondisi tersebut. Dari hasil pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa ada sesuatu di bagian usus yang menghambat proses pembuangan hasil pencernaan. Namun tiba-tiba datang keluarga lain yang berusaha membantu meringankan sakit. Melihat gejalanya mirip “masuk angin”, ia segera mengambil sendok makan, lalu mengeroki punggung kerabat yang sakit itu. Dengan yakin ia berkata, “Lihat nih, punggungnya merah semua.” Menurutnya, hal itu menandakan bahwa si pasien benar-benar masuk angin dan sekarang anginnya sudah keluar. Anak saya yang melihat kejadian itu tampak jengkel. Ia kemudian bercerita kepada saya dan...

Pilihan spesialis

-(Rabu, 12 November 2025)- Dalam sebuah diskusi dengan anak saya tentang pilihan spesialis yang kelak akan diambil, muncul beberapa alternatif yang mempertimbangkan jumlah pasien di masa depan. Proyeksi jumlah pasien itu didasarkan pada hukum sebab akibat. Ketika seseorang dalam sekian waktu mengonsumsi satu jenis makanan, dan dengan melihat dampak dari satu makanan itu, kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada tubuh orang tersebut. Hal yang sama berlaku pada perilaku dan kebiasaan manusia. Dari kebiasaan dan pola hidup yang dilakukan hari ini, kita dapat menerka apa yang kelak akan terjadi pada dirinya. Berdasarkan premis itu, kami mencoba membuat beberapa perkiraan. Ketika melihat betapa anak-anak sekarang sudah banyak yang bermain dengan gawai, bahkan belajar pun dilakukan di depan layar, maka dapat diprediksi bahwa akan semakin banyak anak-anak yang mengalami gangguan mata. Artinya, dokter spesialis mata akan menjadi salah satu profesi yang sangat dibutuhkan di masa menda...

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...