Kabut asap
-(Kamis, 27 Agustus 2026)- Sebagai orang yang pernah menetap beberapa tahun di pedalaman Kalimantan Selatan, saya ikut prihatin setiap kali mendengar kabar tentang kebakaran lahan dan kabut asap di Banua. Ada perasaan yang sulit saya jelaskan ketika membayangkan masyarakat yang pernah saya kenal harus kembali berhadapan dengan udara yang tidak lagi sepenuhnya menjadi milik mereka sendiri. Saya tahu sedikit banyak seperti apa wajah lahan gambut setelah terbakar. Saya pernah melewati jalan yang membelah kawasan dengan bekas-bekas kebakaran. Tanah dan pepohonan menghitam, menyisakan pemandangan seperti sesuatu yang baru saja kehilangan kehidupan. Yang lebih mengerikan, api di lahan gambut tidak selalu benar-benar mati ketika nyala di permukaan sudah padam. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, membara perlahan, lalu kembali mengeluarkan asap. Karena itu, kabut asap bagi saya bukan sekadar berita yang muncul di layar televisi atau media sosial. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup ...