Subuh singgah
-(Sabtu, 14 Maret 2026)- Subuh itu datang di tengah perjalanan menuju sebuah kehidupan baru. Dalam perjalanan tersebut, kami sempat berhenti di sebuah masjid yang bagi saya tampak seperti mercusuar: bangunannya besar, menjulang, dan terasa sengaja dibangun bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Ada kesan kuat bahwa ia juga menyimpan jejak—semacam legacy—yang ingin terus menjaga nama pendirinya tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang datang bersujud di sana. Menariknya, setelah beberapa tahun berada di daerah ini, baru pada pagi itu wajah saya akhirnya bersentuhan dengan sajadah masjid tersebut. Sebuah kebetulan yang terasa seperti keberuntungan. Sejujurnya, saya tidak pernah merencanakan untuk berhenti salat Subuh di sana. Perjalanan kami seharusnya hanya melintas. Namun entah bagaimana, rute yang kami tempuh—atau mungkin keputusan kecil yang diambil di tengah jalan—membuat kami berhenti di halaman masjid megah itu. Dalam momen seperti ini, manusia sering kali mulai bertanya: apak...