Mesin daerah
-(Senin, 16 Maret 2026)- Ada satu percakapan di media sosial yang cukup menggelitik perhatian saya. Semuanya bermula dari sebuah pertanyaan sederhana: di provinsi ini, kabupaten atau kota mana yang berjalan dengan “autopilot”? Maksudnya tentu bukan dalam arti harfiah, melainkan sindiran bagi daerah yang terasa seperti berjalan tanpa nahkoda—ketika pemimpinnya dianggap tidak benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Jawaban dari pertanyaan itu mengalir deras. Satu per satu nama kabupaten dan kota disebut. Bersamaan dengan itu, muncul pula rentetan keluhan: jalan yang bertahun-tahun tetap berlubang, parkiran yang semrawut, hingga wajah infrastruktur yang terasa tak pernah berubah sejak dulu. Di sela-sela kritik itu, sesekali muncul pula cerita tentang kepala daerah yang berakhir dengan operasi tangkap tangan oleh KPK. Fenomena ini menarik. Kritik masyarakat rupanya tidak lagi hanya diarahkan kepada pemerintah pusat. Justru perhatian mulai bergeser ke pemerintah daerah. Ini sesuatu yang waj...