Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Policy brief

  -(Ditulis tanggal 28 Februari 2025)- Belum lama saya menulis tentang kantong sampah, tepatnya tanggal 24 Februari lalu, eh hari ini headline koran regional itu berjudul: Ratusan Ton Sampah Belum Tertangani. Saya skrinsut berita itu, lalu saya kirim ke WAG. Dengan caption: topik menarik untuk jadi bahan kajian RCE. Tentu, saya mesti bertanggung jawab memberikan usulan itu. Maka, buru-buru saya berpikir bagaimana kajiannya. Bagi saya, inti dari sebuah kajian adalah rekomendasi apa yang bisa dirumuskan untuk mengatasi masalah. Dalam hal ini untuk mengatasi sampah. Saya pun langsung ingat policy brief alias PB. Ini yang lebih simple dan tidak bertele-tele untuk dibaca para pimpinan. Saya pernah mengusulkan agar PB menjadi satu produk dari RCE untuk disampaikan kepada para pimpinan daerah. Memberikan suatu kajian yang berlembar-lembar halaman itu memang bagus. Sangat bagus malah. Hanya saja, alih-alih dibaca, dokumen itu justru mungkin langsung disimpan di lemari atau perpustakaan t...

Humor tahu banyak

-(Ditulis tanggal 27 Februari 2025)-  Saya senang setiap melihat Pak Presiden berpidato. Apalagi saat tanpa teks. Rupanya beliau punya selera humor. Setiap ada acara dan beliau berpidato, saya coba untuk menyimak. Sekalian update informasi tentang kebijakan apa yang sedang atau akan dijalankan. Acapkali ketika beliau berada di panggung dan merasa nyaman, akan banyak muncul kelakar dan humor, yang kemudian menjadi potongan-potongan video viral.   Kemampuan menyisipkan humor di tengah pidato yang serius, menurut saya, merupakan sebuah kemampuan yang tidak semua orang miliki. Mungkin ini bakat bawaan. Yang tentu menjadi anugerah bagi orang itu. Karena banyak orang  merasa senang. Yang kemudian menjadi penggemar. Lihat saja, para penceramah yang humoris, banyak yang suka dan mengikuti ceramah-ceramahnya.  Atau sebenarnya kompetensi humor ini bisa dipelajari. Sebagaimana sekarang ini, sebagian anak-anak muda tertarik untuk belajar stand up comedy.  Soal humor, s...

KUR malam minggu

-(Ditulis tanggal 26 Februari 2025)- Kemarin, saya seharian mengikuti re-assesment. Saya terakhir ikut assesment tahun 2021. Karena itu, barangkali organisasi merasa perlu untuk memperbaharui profil kompetensi saya. Karena sebelum pelaksanaan assesment saya sudah teken pakta integritas, maka tak mungkin saya menceritakan apa saja yang saya ikuti. Dan hal apa saja yang terjadi secara detil. Anda tidak perlu kecewa. Toh, suatu saat mungkin anda akan mengalaminya juga. Intinya: sesuai saran dari assesor, tunjukkan hal terbaik dari apa yang kita miliki: kompetensi, prestasi dan capaian kinerja. Kalau biasanya anda bertindak low profil, rendah hati, tawadhu’, jangan lakukan di kesempatan ini.  Karena itu, saya ingin menulis tentang hal lain. Tentang KUR. Bila anda belum tahu kepanjangannya, kebangetan. Tepatnya cerita tentang upaya saya menulis perihal KUR. Sudah lama saya ingin menulisnya. Setelah semua tema yang saya kuasai, sudah saya tuliskan semua. Mulai dari kinerja TKD, APBD, APB...

Menulis kebuntuan

    - (Ditulis tanggal 25 Februari 2025) -  Kalau ditanya, apa sih target saya menulis? Memangnya ada yang baca? Meski pertanyaan ini adalah imajinasi saya sendiri, tapi siapa tahu ada yang nanya begitu. Begini. Saya tidak menargetkan apa-apa. Apakah ada yang membaca atau tidak atas tulisan saya, itu terserah saja. Jika ada yang mau membaca ya alhamdulillah, kalau pun tidak ada ya tidak ada masalah. Setidaknya saya sendiri yang baca. Kelak, ketika saya baca lagi tulisan saya itu, mungkin saya akan senyum-senyum sendiri. Kenapa saya bisa berpikir seperti itu. Seperti yang sudah saya alami. Ketika saya membaca kembali tulisan-tulisan saya ketika masih muda dulu, saya malah bertanya: kok bisa saya nulis begitu? Kok saya berani mengkritik begitu, dst. Berharap tulisan saya menjadi viral pun tidak. Takut malah. Nanti jadi repot. Mesti klarifikasi sana sini. Saya hanya membayangkan tulisan-tulisan saya itu menjadi legacy saya. Kelak. Tapi, masak sih ga ada yang baca? Keny...

Walking home kantong sampah

 - (Ditulis tanggal 24 Februari 2025) -  Sekonyong-konyong saya ingin menulis banyak hal. Atas apa yang saya lihat, saya alami, saya pikirkan, saya baca, saya dengar. Atau tentang isu-isu yang sedang panas, atau segala hal yang menurut saya butuh atensi. Artinya, sebenarnya saya punya bahan baku. Tinggal menuangkan saja dalam tulisan. Barangkali saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Masih terus berperang melawan rasa malas. Atau melawan sebuah alasan yang bernama tidak mood.  Anda mungkin belum tahu. Saya punya habitus baru. Pulang kantor jalan kaki. Ketika hari tidak hujan. Saya perkirakan pas maghrib tiba di rumah. Jaraknya sekitar 3 km, saya tempuh kurang lebih 30-40 menit. Lumayan, sudah bisa berkeringat. Memang belum sampai 6.000 langkah. Tak apalah, daripada tidak sama sekali.  Ada pemandangan menggelitik ketika melewati jalanan yang saya pilih untuk walking home. Saya melihat kantong-kantong berisi sampah di pinggir jalan. Sepertinya ada orang yang mena...

Paliat Bermakna

 - (Ditulis tanggal 23 Februari 2025)  -  Kebangetan. Sudah dua tahun disini, baru menulisnya. Entahlah, ngapain aja selama ini. Padahal dulu pernah berjanji -meski dalam hati- akan menulis setiap hari. Seperti Pak DI. Walakin, janji tinggal janji. Padahal kurang contoh apa dari Pak DI. Yang tulisannya setiap pagi muncul di dinding FB saya. Yang kemudian saya membacanya. Yang belakangan ini, beliau sedang ada di Etiopia. Yang saya jadi berpikir, barangkali inilah yang menjadi bahan bakar beliau, sehingga tak pernah nihil satu hari pun dalam menulis. Apa itu? Anda sudah tahu. Jalan-jalan.  Tapi, kurang jalan-jalan apa saya ini. Belahan provinsi manapun sudah pernah saya datangi. Itu dulu. Yang Jawa Tengah pun saya sudah kemput. Seluruh kabupaten/kota sudah saya injakkan kaki. Bahkan kini, seluruh kabupaten/kota di Banua ini pun sudah saya singgahi. Tapi, tak ada kata-kata yang terangkai menjadi satu tulisan tentang kota-kota itu. Kenapa? Rasa malas. Apalagi selain itu...

Atomic Habits

    - (Ditulis tanggal 25 Januari 2024)  - Sebuah gambaran ideal kerap muncul ketika kita mengusulkan satu gagasan. Seperti ide untuk mengatasi kenaikan harga cabe. Saya membayangkan setiap rumah di desa memelihara tanaman cabe sendiri, minimal 5 tanaman. Dengan 5 tanamaan itu kebutuhan cabe satu keluarga bisa tercukupi, dan keluarga itu tak perlu pusing atau keluar duit untuk beli cabe. Bayangkan jika gambaran itu terjadi pada setiap rumah di satu desa. Atau bahkan satu kabupaten, karena orang kota pun juga bisa menanam cabe dalam pot atau polibag. Alhasil: potensi harga cabe normal bahkan turun, sangat mungkin. Itu baru cabe. Bayangkan lagi setiap rumah warga juga memilihara ayam petelur, 5 ekor misalnya. Dan juga ayam kampung. Yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lauk dan protein sekeluarga. Bayangkan lagi setiap pekarangan rumah juga ditanami sayuran. Seperti bayam, keningkir, sawi, terong, tomat, dll. Juga punya pohon pepaya cukup 2 pohon. Mungkin juga kolam kecil unt...

Rekor Baru

    - (Ditulis tanggal 28 September 2024)  - Tentu ini pengalaman pribadi yang saya tidak tahu apakah juga terjadi pada setiap orang. Namun, dengan perangkat organ manusia yang sama, termasuk kerja hormon yang saya kira juga sama, sangat mungkin ini juga terjadi pada setiap individu. Saya tulis pengantar begini, agar apa yang saya uraikan ini lebih meyakinkan, meskipun tetap ada kata mungkin pada apa yang saya tulis, sebagaimana beberapa orang, kalau tidak mau dikatakan banyak orang, yang setiap berbicara rajin menggunakan kata mungkin, yang menurut saya menjadi kurang meyakinkan, atau entah penggunaan itu sebagai perilaku sopan santun. Begini. Ketika tadi sudah mencapai 5,3 km, dan saya lihat waktu tempuh lari saya belum mencapai 1 jam, saya mengubah target ingin menyelesaikan 1 jam lari nonstop. Saat itu, saya merasakan ada energi yang mengalir. Alhasil, jarak tempuh saya bisa mencapai 6 km lebih, yang anehnya ketika terbersit keinginan untuk mencapai 7 km, rasanya sep...