Saling menunggu
-(Selasa, 9 Juni 2026)-
Entah mengapa, belakangan ini saya sampai pada sebuah kesimpulan yang masih saya pertanyakan sendiri: para pejabat saat ini tampak lebih banyak menunggu arahan daripada menawarkan gagasan. Kesan itu muncul ketika saya mengamati berbagai perkembangan dan respons terhadap situasi saat ini.
Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa persoalannya mungkin tidak sesederhana itu. Bisa jadi yang terjadi bukan ketiadaan ide, melainkan kehati-hatian yang berlebihan. Dalam lingkungan yang penuh sorotan, setiap keputusan membawa konsekuensi. Kesalahan mudah terlihat, sementara keberhasilan sering dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Dalam situasi seperti itu, banyak orang memilih memastikan arah terlebih dahulu sebelum melangkah.
Di sisi lain, saya juga membayangkan kemungkinan yang berbeda. Mungkin para pimpinan justru sedang menunggu munculnya inisiatif dari para pembantunya. Jika demikian, yang terjadi adalah situasi saling menunggu: bawahan menanti arahan, sementara atasan berharap muncul gagasan dari bawah. Akibatnya, tercipta semacam lingkaran pasif yang saling mengunci: bawahan menunggu perintah, atasan menunggu inisiatif. Keduanya berdiri di tempat yang sama, saling menatap, tetapi tak seorang pun melangkah lebih dulu.
Keadaan itu mengingatkan saya pada sebuah persimpangan jalan yang ramai, tetapi lampu lalu lintasnya mati. Semua kendaraan berhenti, bukan karena tidak tahu ke mana harus pergi, melainkan karena tidak ada yang berani bergerak lebih dahulu. Akhirnya, kemacetan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.
Meski demikian, saya melihat ada sisi lain yang patut diperhatikan. Ketika ruang inisiatif dalam birokrasi belum sepenuhnya terisi, masyarakat justru menunjukkan energi yang luar biasa. Berbagai usulan, analisis, dan pandangan bermunculan dari banyak kalangan. Mereka berbicara tentang efektivitas program, hingga berbagai tantangan yang sedang dihadapi negara.
Tentu tidak semua yang muncul berupa gagasan konstruktif. Kritik tetap mendominasi sebagian ruang publik, bahkan kadang berkembang menjadi sindiran atau penghinaan. Namun jika diperhatikan lebih dalam, derasnya kritik itu juga menyimpan pesan lain: masyarakat masih peduli. Mereka masih menaruh perhatian terhadap arah kebijakan dan masa depan yang ingin dicapai bersama. Ketidakpedulian justru akan jauh lebih mengkhawatirkan.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar mengapa keadaan ini terjadi, melainkan bagaimana mengubahnya menjadi momentum. Sebab setiap masa yang ditandai oleh keraguan selalu menyimpan kesempatan untuk melahirkan kepemimpinan yang lebih terbuka terhadap gagasan, sekaligus mendorong keberanian untuk mengambil inisiatif.
Pada akhirnya, sebuah negara tidak dibangun hanya oleh keputusan para pemimpinnya, tetapi juga oleh ide-ide yang terus mengalir dari berbagai arah. Yang dibutuhkan bukan sekadar arahan dari atas atau kritik dari bawah, melainkan keberanian semua pihak untuk berkontribusi sesuai perannya masing-masing.
Mungkin kita sedang berada di fase itu: sebuah masa ketika banyak orang masih saling menunggu. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar justru dimulai ketika seseorang memutuskan untuk mengambil langkah pertama. Dan saya percaya, cepat atau lambat, langkah itu akan muncul.